Nggak terasa kita sudah berada dipertengahan ramadan aja ni sahabat damai. Semoga puasanya lancar ya. Kali ini saya mau cerita tentang salah satu tempat wisata religius di Pasaman Barat yaitu Surau Buya Lubuak Landua. Menurut beberapa sumber Surau ini merupakan Surau tertua di Pasaman Barat, dibangun pada tahun 1852 Masehi, oleh Buya Lubuak Landua Pertama bernama Tuanku Kha­lifah Sutan Saidina Syech Basyir, atau di kenal  oleh masy­rakat dengan panggilan ‘Syeh Basyir’ atau ‘Buya Lubuak Landua’.


Surau Lubuak Landua mempunyai nilai historis yang sangat panjang, dimulai pada tahun 1764-1914 dan sampai sekarang. Pada awalnya Muhammad Basyir memulai perjalanan spirituanya dengan mengabdikan diri di daerah Kumpulan. dari Kumpulan, Muhammad Basyir kemudian melanjutkan pendidikannya ketingkat yang lebih tinggi lagi dan memutuskan untuk memperdalam ajaran agama Islam ke Mekkah dan berhasil memperoleh ijazah Naqsyabandiyah dari Syekh Ali Ridha di Jabal Abi Qurais Mekkah.


Setelah menyelesaikan pendidikan di Mekkah. Syekh Muhammad Basyir kemudian pulang ke kampung halamannya. Dari Kampung halamannya beliau kemudian memilih daerah Lubuak Landua sebagai tempat untuk memapankan karir keulamaannya dan membangun Surau di tepi sungai yang bernama sungai Lubuak Landua. Lubuak Landua adalah salah satu Nagari dari Kecamatan Pasaman yang terletak di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Berjarak 10 km dari kota Simpang Empat.
Arsitektur Surau menjadi saya tarik wisatawan dimana bentuk surau hingga saat ini masih dipertahankan. Surau Buya Lubuak Landua Berbentuk rumah panggung yang konstruksi bangunannya terbuat dari kayu. Bentuk bangunan Surau Buya Lubuak Landua lebih mirip seperti rumah zaman dulu. Kemudian yang menjadi daya tarik berikutnya adalah ikan larangan yang dipercaya masyarakat sudah ada sejak Surau Lubuak Landua di didirikan, otomatis usia ikan sama dengan usia Surau yaitu sekitar 170 tahun. Menurut kepercayaan masyarakat ikan larangan Lubuak Landua tidak boleh diambil dan kepercayaan itu masih dipegang dan dilestarikan masyarakat hingga saat ini.

Beberapa orang yang datang ke Surau Lubuak Landua melakukan ziarah dan mandi bersama ikan, atau sekedar mencuci muka. Bagi mereka yang percaya kegiatan seperti ini bisa membawa keberuntungan dan keberkahan. Itu kenapa pada hari-hari besar tertentu seperti hari raya lebaran dan hari rasa Idul Adha lokasi Surau lubuak Landua rame dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah di dalam dan luar Pasaman Barat, bahkan ada juga yang berasal dari Luar Sumatera Barat.


Nah, bagi saya sendiri Surau Lubuak Landua menjadi destinasi wisata religi yang menyenangkan sekaligus menenangkan, selain karena alam dan suasananya masih asri, kita juga bisa menyegarkan diri dengan mandi bersama ikan larangan. Pada bulan ramadan seperti sekarang tentu saja bukan untuk mandi bersama ikan, tapi lebih kepada menikmati segarnya air sungai dengan merendam kaki sembari menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit).
Kalau kamu ke Pasaman Barat jangan lupa mampir ya.

Terkait Pengeroyokan Ade Armando, BNPT Kecam Segala Tindakan Kekerasan di Ruang Publik atas Nama Apapun

Previous article

Ramadan dan Jumat Agung: Momen Suci Perkuat Toleransi

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *