Kumpulan Coretan tentang tokoh fiktif bernama Lukman. Akan dipublish secara khusus dalam Laman Coretan Sastra.

#1 Lukman Diskusi di Kafe

Kalian hidup enak dari kecil, kata Lukman kepada kawan kawan kampusnya, waktu kuliah dulu.

Aku, katanya sambil melihat mata kawan kawannya, sejak kecil tinggal di kampung. Kalian enak diantar mama papa kesekolah ketika hari pertama masuk SD. Pakai baju, celana, tas, pensil dan kotaknya semuanya bermerek. Ayahku, katanya lagi, waktu hari pertama masuk SD, sudah kesawah waktu aku belum bangun. Berjalan kaki, jangankan pakai mobil atau sepeda motor, diantar pun tidak. Tapi walaupun begitu, ayahku selalu mendukungku dalam hal pendidikan. Ayahku sangat senang aku bisa kuliah saat ini disini, orang orang kampung ku juga.

Kalian hidup enak dari kecil. Aku, harus berjalan kaki tiga kilo meter, lalu menyeberangi sungai, berjalan satu kilo meter lagi, baru berjumpa dengan angkutan umum untuk ke SMP kecamatan. Tidak aku saja, tapi sepuluh kawan kawan ku yang sekampung. Itupun belum sampai ke sekolah. Masih menyambung satu angkutan umum lagi. Waktu SMP, aku sama ayah hampir sama, berangkat ketika matahari masih setengah. Tentu dengan minum kopi dan goreng pisang terlebih dahulu, juga radio ayah. Aku berangkat sama paginya dengan ayah ketika berangkat kesawah tiap hari sepanjang minggu. Kalau tidak, alamat ditinggal angkutan umum satu satunya itu. Pernahkah kalian menyaksikan langsung anak anak menempuh sungai yang meluap untuk berangkat ke sekolah seperti dalam tipi tipi itu?, aku pernah merasakannya.

Masa SMA, mungkin kalian sudah diizinkan mengendarai sepeda motor kesekolah, kadang menjemput pacar terlebih dahulu. Aku, katanya harus berpisah dengan orang tua di usia 15 tahun. Tidak mungkin bolak balik setiap hari dari rumah kesekolah yang jaraknya dua jam itu. Ya, aku harus indekos. Kalian hidup enak dari kecil katanya lagi.

Tapi Lukman, kata salah seorang kawannya, kenapa kamu ceritakan semua itu kepada kami?

Lukman melihat mata kawan kawannya satu persatu. Karena kalian anak kota katanya tegas. Kalian tidak pernah merasakan seperti kami anak anak kampung rasakan, tapi kalian sok pro mendukung rakyat di media sosial. Kalian tidak pernah merasakan seperti kami anak anak kampung rasakan, tapi sok diskusi tentang orang orang kampung di kafe mahal lalu selfi.

Kawan kawannya heran. Seorang lagi bertanya, perempuan, apa yang salah dengan media sosial dan diskusi di kafe mahal lalu selfi.

Lukman tunduk. Lalu ditatapnya mata kawan kawannya satu persatu.

Kalian hidup enak dari kecil. Kalian tidak pernah merasakan seperti kami anak anak kampung rasakan.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *