Budaya Alam Minangkabau

Mengenal Luhak Nan Tigo, Asal Mula Budaya Minangkabau

0

Wilayah darek adalah wilayah daratan yang pertama kali ditinggali oleh masyarakat minangkabau. Berdasar sejarah dan tambo minangkabau, masyarakat minang pertama kali bermukim di daerah lereng gunung Marapi. Kemudian menyebar ke tiga daerah disekitar gunung Marapi. Ketiga daerah tersebut dikenal dengan istilah Luhak nan Tigo.

Ketiga wilayah persebaran masyarakat minang ini memiliki sejarah penamaan, karakteristik geografis dan sosial ekonomi berbeda. Luhak dalam bahasa minangkabau diartikan sebagai sumber air atau sumur. Berikut wilayah luhak tersebut:

Luhak Tanah Datar

Dahulunya perkampungan awal minangkabau memiliki 3 sumur, yang juga mereka sebut dengan luhak. Salah satu sumur terletak di daerah dengan kontur tanah yang datar. Sehingga masyarakat yang biasa minum dari sumur tersebut diidentifikasi sebagai masyarakat luhak tanah datar.

Pengertian kedua mengenai luhak adalah ‘kurang’. Luhak Tanah Datar, sekarang disebut sebagai kabupaten tanah datar, memiliki bentuk geografis yang berlembah dan berbukit-bukit. Daerah ini memiliki sedikit sekali dataran dan sangat kurang dengan tanah yang datar. Sehingga kemudian disebut sebagai luhak tanah datar.

Luhak Tanah Datar digambarkan dengan pepatah minang “Buminyo lembang, aianyo tawa, ikannyo banyak”. Petatah petitih ini menggambarkan kondisi alam dan budaya luhak yang juga disebut sebagai luhak nan tuo ini.

Luhak tanah datar memiliki tanah yang subur akibat abu vulkalnik gunung Marapi. Sehingga sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian. Terutama sayur-sayuran. Apalagi dengan kondisi cuacanya dengan udara sejuk.

Ikannya Jinak merupakan metafora akan kondisi penduduknya yang ramah. Karena memang dari sinilah dipercaya awal mula kerajaan dan kebudayaan minangkabau.

Bentuk rumah gadang luhak tanah datar juga khas dibanding dengan dua luhak lainnya. Rumah gadang memiliki anjungan di sebelah kiri dan kanan. Bagian lantai di sebelah kiri dan kanan rumah gadang sengaja dibuat lebih tinggi dari lantai utama. Rumah gadang tipe ini sangat kuat akan pengaruh Koto Piliang.

Luhak Agam

Sumur kedua yang dijadikan tempat mengambil air minum di nagari tuo pariangan terletak di daerah yang banyak ditumbuhi tumbuhan mensian (Agam). Sehingga kelompok masyarakat yang biasa mengambil air disana diidentifikasi sebagai masyarakat luhak agam.

Pengertian kedua mengenai luhak adalah ‘kurang’. Konon masyarakat disini kekurangan (tokoh-tokoh) agama, sehingga syiar islam tidak sebagus luhak tanah datar. Banyak tokoh agama yang didatangkan dari luar, ataupun penduduk lokal yang belajar keluar agam. Dari sinilah kemudian muncul istilah luhak agam, yang artinya kurang (tokoh) agama.

Luhak nan tangah ini digambarkan dengan pepatah minang “Buminyo angek, aianyo karuah, ikannyo lia”. Hal ini menggambarkan bahwa kondisi geografis luhak agam yang cenderung lebih panas dari wilayah luhak tanah datar.

Masyarakat luhak agam digambarkan emosional, dengan tingkat persaingan tinggi. Penduduk luhak nan agam lebih heterogen dan beragam. Karena memang didaerah ini banyak pendatang yang mencari sumber pendapatan.

Berbeda dengan rumah gadang luhak tanah datar, bentuk rumah gadang luhak agam lebih dominan dipengaruhi kelarasan Bodi Caniago. Lantai rumah gadang dibuat rata, tanpa anjungan dibagian kiri dan kanan.

Luhak 50 Koto

Kelompk masyarakat ketiga yang bermukim di nagari tuo pariangan ini terdiri dari 50 keluarga. Masyarakat ini memiliki sumur (luhak) sendiri yang digunakan sebagai sumber air bersih. Orang-orang inilah yang kemudian merantau dari tempat asalnya dan diidentifikasi sebagai penduduk luhak limo puluh koto.

Pengertian kedua luhak adalah ‘kurang’. Ketika berpindah dari gunung Marapi, penduduk yang awalnya terdiri dari 50 keluarga ini kurang jumlahnya. Dari sinilah kemudian masyrakat yang kurang (dari) 50 keluarga ini disebut sebagai penduduk luhak lima puluh kota.

Kondisi luhak limo puluah koto digambarkan lewat pepatah minang “Buminyo sajuak, aianyo janiah, ikannyo jinak”. Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat 50 kota cenderung homogen, memiliki ketenagan fikiran dan hidup dalam rukun damai.

Bentuk rumah gadang luhak limo puluah koto tidak jauh berbeda dengan rumah gadang luhak agam. Lantai dibuat datar tanpa ada anjungan di bagian kiri kanan, seperti rumah gadang luhak tanah datar.

Nenek moyang minangakabau yang berasal mula dari gunung Marapi kemudian menyebar ketiga wilayah (Luhak nan Tigo) ini. Ketika penduduk makin ramai dan tempat tinggal semakin sempit, kemudian mereka pindah dan memperluas wilayah lagi, daerah itulah yang kemudian dikenal dengan istilah rantau, dan daerah pasisia (wilayah yang berada di tepi laut/pesisir)

DROMOLOGI: Dari Makan Hingga Beragama Instan

Previous article

“GANAS” NYA CYBERBULLYING BAGI KAUM REMAJA

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *