Edukasi

Strategi Provokator Dalam Memanfaatkan Momen Aksi Unjuk Rasa

0

Bulan September tahun 2019 ini bisa dikatakan gelap dan pilu , bagaimana tidak ? disaat teman-teman mahasiswa melakukan suatu aksi berupa penyampaikan aspirasi maupun kritik terhadap anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ada saja “PENUMPANG GELAP ” yang memanfaatkan situasi , hal ini tentu akan berdampak buruk serta merugikan banyak pihak terutama peserta aksi.

Saat saya di tugaskan untuk meliput aksi unjuk rasa di DPRD Sumbar pada Rabu (25/9/19) , saya mengamati langsung bagaimana aksi itu terjadi.Mulanya massa yang mayoritas Mahasiswa melakukan orasi dengan damai serta tenang sampai titik dimana Wakil Ketua DPRD Sumbar Irsyad Syafar menemui massa . Hasil dari orasi mereka DPRD Sumbar menerima mutlak semua tuntutan dan menandatangani serta membacakan point-pointnya di depan ribuan massa bahkan untuk membuktikan keseriusan dalam menampung aspirasi, dihari itu juga Wakil Rakyat wilayah Sumbar mengirimkan 2 surat yaitu ke DPR-RI dan Presiden.

Ada yang sudah menarik diri untuk keluar dari kerumunan akan tetapi datang lagi massa baru dengan jumlah yang lebih banyak . Menjelang sore mulailah massa meringsek masuk kedalam gedung dan disitulah awal kericuhan itu terjadi aksi vundalisme dilakukan oleh oknum berupa penjarahan , perusakan vasilitas serta mencoret dinding dengan bahasa yang sangat tidak pantas .

Hari mulai turun hujan dan memasuki waktu malam saya mendapatkan informasi bahwasanya Aksi Unjuk Rasa tersebut di duga adanya Penyusup yang terdeksi oleh Pihak Kepolisian. Sontak saya termenung dan berpikir “Entah Apa Yang Merasukimu”? wahai provokator dengan keji memanfaatkan niat baik massa yang mayoritas mahasiswa itu.

Saya melihat baik itu di Sumatera Barat atau pun daerah lain, jika ada aksi unjuk rasa lalu berakhir ricuh, pasti informasi lanjutan yang didapat berupa indikasi atau dugaan adanya penumpang gelap yang memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadi.

Setelah mengamati informasi serta Video ucapan pengakuan ataupun permintaan Maaf Dari Oknun yang diduga bersalah pasca aksi demo , menurut saya inilah STRATEGI PROVOKATOR DALAM MEMANFAATKAN MOMEN AKSI UNJUK RASA

Pada Saat Aksi Langsung

Pertama , Mereka masuk langsung kedalam barisan massa  lalu berusaha mempengaruhi dan memanas-manasi, setelah mendapatkan perhatian ia berusaha mengalihkan point-point tuntutan dengan hasutan kebencian yang membuat emosi peserta aksi terpancing sehingga massa tidak lagi mengedepankan point tuntutan apa yang ingin mereka aspirasikan namun berusaha untuk melakukan tindakan-tindakan diluar kehendak mereka sendiri.

Kedua, Mereka memanfaatkan sekelompok orang dengan di iming-imingi uang untuk masuk kedalam barisan massa lalu berbuat suatu tindakan yang tidak menyenangkan sehingga terjadi kericuhan akibatnya aksi tidak terkontrol serta berjalan dengan baik , ini memicu terjadinya kesalah pahaman antara aparat keamanan dan peserta aksi.

Demo memang merupakan salah satu bentuk aksi dalam menyampaikan aspirasi yang di lindungi undang-undang, akan tetapi agar tidak dimanfaatkan oleh “Penumpang Gelap” maka kita harus peka akan kondisi , kita harus mengerti point atau substansi apa yang kita sampaikan , jangan sampai kita terlena oleh hasutan orang dikarenakan cuman hanya “ikut-ikutan” itu akan membuat kita rugi sendiri.

Jika ketika aksi sahabat damai merasakan demikian , segera turun tangan langsung untuk mengingatan kembali rekan satu aksi , jika kedapatan melihat sekelompok melakukan tranksaksi atau terdengan menyusun rancangan untuk mengompori silahkan langsung menghubungi pihak berwajib agar dapat di tanggani.

DI Media Sosial

Provokasi ini masuk melalui di share nya berita lama lalu di pelintir diberikan narasi seolah-olah berita tersebut baru saja terjadi , ini tentu akan memicu provokasi masyarakat didasari dengan kesalah pahaman. 
Untuk tu bagi masyarakat khususnya penikmat berita online lebih baik JANGAN TERPAKU PADA JUDUL , Tapi liat juga ISI BERITA dan TANGGAL BERAPA BERITA ITU TERBIT .

Selain itu waspada akan hasutan akun-akun tidak bertanggung jawab yang biasa disebut Buzzer dengan narasi berupa umpatan kebencian terhadap satu atau beberapa objek sasaran ( Harus di Ingat Kritik dengan Umpatan Kebencian Itu Berbeda).

Untuk itu marilah kita dalam bermedsos lebih bijak lagi dalam menyikapi beria yang muncul serta mengedepankan literasi bukan emosi dalam menanggapi postingan yang di unggah , agar terhindar dari kesalah pahaman dan tidak membuat kita terpedaya akan kebencian.

Ar Rafi Saputra Irwan

Strategi Kontraterorisme Dalam Paradigma HI

Previous article

Pesantren Modal Membangun Islam yang Toleran di Indonesia

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi