Budaya Alam MinangkabauEdukasiKonten KreatifTak Berkategori

Tahukah Anda Bahan Pembuatan Rendang Memiliki Filosofi yang Unik?

0

Rendang atau randang sudah tidak asing lagi bagi semua masyarakat Indonesia, eksistensi masakan asli Sumatera Barat ini tidak hanya sampai pada setiap penjuru Nusantara melainkan sudah sampai pada ke Mancanegara sekalipun. Selain memiliki cita rasa yang sudah tidak diragukan lagi, ternyata masakan ini memiliki filosofi yang melambangkan bagaimana masyarakat Minangkabau itu sendiri, berikut 4 unsur utama yang masing-masingnya memiliki filosofi didalamnya.

  • Daging

Dalam pembuatan rendang biasanya menggunakan daging sapi atau kerbau, pemilihan daging sendiri bukan sembarangan melainkan memiliki filosofi yaitu melambangkan rasa hormat kepada Ninik Mamak atau orang yang dihormati serta tetua yang ada di masyarakat.

“Daging di rendang ini merupakan gambaran dari sosok ‘Niniak Mamak’ atau orang tua, orang yang dihormati, serta tetua yang ada di kalangan masyarakat. Di sini Niniak Mamak merupakan pemimpin kaum, atau masyarakat Sumatera Barat agar hidup harmonis dan berdampingan dengan norma yang berlaku,” ungkap Andre dalam acara konferensi pers ‘Nusantara Merandang’ yang dimuat dalam detik.com

  • Santan

Santan merupakan bahan yang sangat diperlukan dalam proses pembuatan rendang, pemakaiannya akan membuat cita rasa rendang semakin gurih dan menghasilkan dadakan semakin banyak. Filosofi santan dalam proses pembuatan rendang adalah cendikiawan atau para intelektual masyarakat diantaranya guru, penyair, penulis, akademis atau politikus yang memiliki pengaruh terhadap masyarakat dan kehadirannya mampu mengangkat Minangkabau dikenal oleh masyarakat luas.

“Santan di rendang itu memiliki filosofi sebagai ‘Cadiak Pandai’ atau cendekiawan. Di sini para cendekiawan bertugas membantu para pemimpin adat atau yang dituakan, dalam menghadapi berbagai masalah di masyarakat. Agar masyarakat tetap rukun dan hidup harmonis,” tutur Andre yang dimuat dalam detik.com

  • Cabai

Cabai yang digunakan dalam proses pembuatan rendang mewakili Alim Ulama atau pemimpin agama yang tegas dan berfokus menegakkan ajaran Islam dalam masyarakat Minangkabau

Lado atau cabe selalu digunakan ketika membuat rendang. Karena bahan ini sebanarnya menggambarkan sosok alim ulama atau agamawan yang tegas, serta fokus dalam menegakkan syariat agama Islam. Terutama di masyarakat Sumatera Barat sejak turun temurun,” jelas Andre yang dimuat dalam detik.com

  • Bumbu

Dalam proses pembuatan rendang terdapat banyak rempah dan bumbu yang digunakan diantaranya ada, kapulaga, bawang merah, bawang putih, cabe merah, jahe, lengkuas, kunyit, ketumbar, pala, hingga jintan. Tenyata dalam setiap bumbu ini melambangkan masyarakat Minangkabau yang beragam dan masing-masing memiliki dampak dalam setiap komunitas. Seluruh bumbu rempah yang terdapat dalam proses pembuatan rendang disimpan dalam keseimbangan yang baik dengan peran yang berbeda namun bekerjasama untuk menciptakan masyarakat yang paling kondusif.

“Pemasak atau bumbu, merupakan lambang dari lapisan masyarakat Minangkabau. Semua bumbu ini mewakili masyarakat yang menjadi pelengkap dari hidangan rendang ini, sehingga filosofi ini memang dibuat untuk menjaga keutuhan masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat,” pungkas Andre yang dimuat dalam detik.com

Berdasarkan filosofi yang terkandung dalam 4 unsur proses pembuatan rendang di atas, semua masyarakat hidup berdampingan dan melakukan musyawarah mufakat  dalam memecahkan masalah dan mengambil suatu keputusan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagai masyarakat asli Sumatera Barat dan hidup berdampingan langsung  dengan masyarakat sekitar  saya sangat meraskan betapa seluruh filosofi yang terkandung dalam bahan untuk  pembuatan rendang ini begitu melekat dengan setiap masyarakatnya dan aspek hadirnya juga begitu berpengaruh dalam membawa nilai-nilai Minangkabau sehingga dikenal luas oleh seluruh masyarakat Nusantara.

Oleh : Husnul Hayati

Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Dalam Konsep Toleransi, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika

Previous article

Setera dan Bersama Dalam Tradisi Bajamba

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *