Orang Minang dari dulu memang terkenal dengan budaya merantaunya. Saking melekatnya, bahkan ada pepatah yang berbunyi “Karatau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun” pepatah tersebut ditujukan kepada laki-laki minang untuk pergi merantau jika belum bisa berbuat banyak bagi kampungnya. Perantau minang juga terkenal sukses dengan berniaganya, yang paling terkenal adalah berjualan nasi padang atau pakaian di perantauan.

            Saya termasuk satu dari sekian banyaknya bujang minang yang juga ikut merantau di tahun 2024 ini. Bedanya, saya bekerja sebagai seorang pengajar di remote area. Seumur-umur, saya tidak pernah merasakan lebaran berjauhan dengan orang tua, perdana di tahun ini saya merayakan lebaran di perantauan. Keputusan ini saya ambil setelah berdiskusi juga dengan orang tua, mengingat saya hanya satu tahun disini, lebih baik saya merasakan pengalaman berhari raya di tempat saya bekerja, yaitu Grobogan, Jawa Tengah.

            Sebelum dilaksanakan salat Ied di pagi hari, masyarakat disini melaksanakan acara malam takbiran. Kegiatan setiap kampung berbeda-beda, untuk kampung saya kami melakukan pawai odong-odong, ada ogoh-ogoh, gundukan sayur-sayuran yang dihiasi lampu kerlap-kerlip, serta sounds system super besar. Semuanya diarak keliling kecamatan, diselingi juga dengan peluncuran kembang api. Kegiatan ini sangat ramai dan sangat diminati anak-anak. Penduduk desa lain juga menunggu-nunggu datangnya odong-odong ini lewat, sekadar untuk divideokan atau dijadikan hiburan bersama keluarga.

            Pagi harinya dilaksanakan salat Ied, lalu setelah salat Ied dan mendengarkan khutbah, semua orang akan berdiri dan berbaris bersaf-saf. Momen ini adalah momen yang mana jemaah paling depan dan diikuti oleh jemaah lain, bersalaman dengan semua jemaah di shaf laki-laki, hingga sampai menuju pintu keluar. Ini sangat unik bagi saya, karena ini perdana juga saya berbaris dan menyalami semua orang yang hadir dalam kegiatan salat Ied tersebut.

            Kegiatan dilanjutkan dengan berkunjung ke rumah saudara dan tetangga. Kunjungan ini hampir ke setiap rumah dalam satu rt. Benar-benar menyenangkan, dan menantang karena cuaca cukup panas disini. Saya juga melakukan sungkeman kepada bapak yang menjadi imam musala disini, pengalaman yang unik sekaligus mengharukan.

            Lebaran dimanapun akan terasa penuh makna, jika kita mensyukuri semua kondisi yang kita terima. Cinta dan kasih sayang bisa ditemukan dimanapun, bahkan di remote area sekalipun,

Penetapan Prabowo Sebagai Presiden Momentum Menjaga Persatuan

Previous article

Rekomendasi Wisata Semarang

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *