Budaya Alam Minangkabau

Batik Tanah Liek, Dari Jawa Atau Minangkabau?

0

Batik merupakan  kain bergambar, dengan berbagai motif memiliki filosofi dari setiap corak, yang kini menjadi identitas seni nusantara. Berbagai daerah di Indonesia memproduksi batik, dengan ciri khas daerah masing-masing.

Selain Bali, Indramayu, Madura, Palembang,  Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Cirebon, Sumatera Barat juga memproduksi batik yang unik. Tidak hanya ukiran batiknya yang berbeda, cara membuat dan bahan yang digunakan pun berbeda.

Dibuat dengan menggunakan pewarna alami dan memanfaatkan tanah liat sebagai bahan baku, hingga  diberi nama “Batik Tanah Liek” (liat). Batik ini diproduksi oleh tiga daerah di Sumatera yaitu Kabupaten Dhamasraya, Pesisir Selatan dan Tanah Datar. 

Dulunya batik tanah liat hanya boleh dikenakan  oleh Pemimpin Adat, Bundo Kanduang  (Pemimpin Perempuan minangkabau) dan juga sebagai atribut Kerajaan Pagaruyuang. Digunakan sebagai selendang dan  saluak (peci), Raja Adityawarman dan raja kecil lainnya. Raja Sungai Pagu, Jambu Lipo, Pulau Punjung, Sawah Lunto, dan Sijunjung.

Batik khas minang kabau memiliki motif unik yang menggambarkan daerah tersebut. Corak yang digunakan di antaranya, jam gadang, rumah gadang, tari piring, kerbau pedati, malin kundang, dan masih banyak yang lain.

Sebagaimana dilansir lewat Liputan6.com, Selain bercorak minang kabau yang unik, batik tanah liek ini warnanya juga tidak mudah pudar. “Sekita 10 tahun lalu saya dihadiahi kain batik tanah liek, hingga kini warna kainnya masih utuh padahal sering saya kenakan,” ujar Elva warga Kabupaten Tanah Datar.

Biasanya kain yang dipakai membatik adalah kain sutra, katun dan tenun. Langkah pertama, kain dimasukkan ke dalam larutan tanah liat dan air. Takaran tanah liat yang digunakan tergantung pada kepekatan warna yang diinginkan.

Kemudian kain tersebut dijemur pada tempat teduh, selanjutnya kain digambar menggunakan pensil. Setelah itu kain di canting seperti pembuatan batik lainnya, yaitu dengan peletakan cairan malam sesuai motif yang diinginkan.

Setelah dicanting, gambar yang kosong, diisi warna sesuai selera. Pewarna yang digunakan adalah pewarna dari alam. Ramah lingkungan, mudah ditemukan batik tanah liat diwarni dengan bahan alam. Untuk mendapatkan warna hitam diambil dari kulit jengkol.

Warna kuning dari kunyit, getah gambir untuk warna orange, warna merah tua dari kulit rambutan, sedangkan kulit manggis dapat menghasilkan warna ungu. Setelah diwarnai, kain direndam dalam larutan kimia pengikat.

Penggunaan batik Sumatra Barat Kebanyakan digunakan untuk acara-acara adat dan biasanya yang memakai pada saat upacara khusus, seperti para pemuka adat seperti Datuak (penghulu atau kepala adat), Bundo Kanduang(pemimpin wanita di Minang), raja-raja kecil di Sungai Pagu, Jambu Lipo Punjung, Sawah Lunto, Sijujung dan Solok. Para Datuk memakainya dalam bentuk selendang yang dilingkarkan pada leher. Sedangkan kaum perempuan menyampirkan selendang di bahu.

Pahlawan dan Perjuangan

Previous article

Berwisata, Berbudaya, Menabur Toleransi Menyemai Perdamaian

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *