Tara tengah asyik menikmati kartun favoritnya di televisi. Tidak memiliki kegiatan apa pun pada hari Minggu, membuat gadis itu lebih menikmati tontonan anak-anak. Bukan tidak ingin membantu sang mama, tetapi rasa sakit karena datang bulan, membuat gadis itu tidak bisa bergerak secara leluasa.

Asyik menikmati candaan Doraemon kepada Nobita, ponsel Tara berdering, membuat gadis itu mengernyitkan dahi sambil bangkit. Ia mengubah posisi duduk, lalu meraih ponsel di saku. Tertera nama sang sahabat sekaligus sepupu Tara di layar ponsel, Tiara. Tanpa basa-basi, ia mengangkat panggilan tersebut.

Tara terdiam sejenak kala tahu Tiara menangis tersedu-sedu. Satu pertanyaan melesat dari mulut si gadis itu, membuat Tiara berkata dan menjelaskan kejadian yang berlangsung. Satu kesimpulan yang bisa Tara ambil, Tiara diperlakukan tidak adil lagi oleh ibu tirinya.

“Ya sudah, daripada kamu menangis seperti itu, lebih baik ke sini. Di rumah, ada Kak Nusa, Papa, dan juga Mama. Kamu bisa tidur di sini hingga hati dan pikiranmu tenang,” ujar Tara melirik sang mama yang membawa piring berisi potongan buah. Tangan gadis itu masih setia di dekat telinga dengan ponsel dalam genggaman.

“Aku akan meminta Mama menghubungi bundamu.” Setelah mengucapkan kalimat penutup, Tara langsung menerima suapan buah dari sang mama, lalu mengunyahnya dengan lahap.

“Ada apa, Sayang?”

“Ah, itu. Ibu tiri Tiara berulah lagi, Ma. Kali ini, wanita itu mengambil uang belanja Tiara dan memberikannya kepada anaknya. Dalihnya, harus hadil dalam pembagian uang belanja, padahal kebutuhan Tiara lebih besar,” terang Tara sambil meraih bantal kecil dan meletakkan benda tersebut di atas perut.

“Apakah ayahnya tahu mengenai ini?” tanya Yana, mama Nusa dan Tara.

“Tahu, Ma. Akan tetapi, ia meminta Tiara untuk sabar dan tidak melawan,” Tara mengambil dan memasukkan potongan apel ke mulut, lalu melihat sang mama yang menikmati buah lain, “menurut Mama, apa makna adil dan keadilan itu?”

“Ada apa? Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apakah ada sesuatu hal yang mengusik hatimu?”

“Tidak, Ma. Hanya saja, aku penasaran mengenai kata adil dan keadilan tersebut.”

Yana menghela napas dalam, lalu tersenyum. Ia melirik beberapa buah di keranjang, lalu mengambil dua buah apel. Ia berikan satu kepada Tara, dan satu untuk dirinya. Lalu, Yana memberi tahu Tara bahwa hal yang dilakukan disebut dengan adil. Dengan kata lain, memberikan bagian yang sama rata tanpa membeda-bedakan pangkat, umur, atau golongan.

“Bagaimana dengan keadilan, Ma?” tanya gadis itu sambil memiringkan kepala.

Yana mengambil buah apel di tangan Tara, lalu memberikan potongan kecil kepada sang anak. Lalu, ia pun berkata, “Mama memiliki dua buah apel, sedangkan kamu hanya memiliki potongan apel yang kemungkinan besar jika disatukan hanya membentuk setengah dari apel yang Mama genggam. Nah, itu disebut dengan keadian.”

Dahi Tara benar-benar berkerut sempurna saat penjelasan sang mama tidak masuk di akal. Bagaimana mungkin keadilan bisa disetarakan dengan dua buah apel utuh dengan potongan apel yang tidak sampai setengah jika digabungkan. Ia pun mengajukan pertanyaan, meminta sang mama untuk menjelaskan lebih lanjut.

“Berbicara mengenai keadilan, berbicara mengenai kebutuhan. Kata adil dan keadilan memiliki makna yang berbeda. Kata adil sudah Mama jelaskan sebelumnya, sedangkan keadilan adalah memberikan sesuatu sesuai dengan kebutuhan. Mari kita ibaratkan dengan dua apel dan potongan apel kecil ini,” ungkap Yana yang langsung dianggukkan oleh Tara.

“Mama sudah dewasa, membutuhkan banyak vitamin agar tubuh Mama sehat dan kuat. Maka dari itu, Mama memerlukan dua buah apel ini. Sementara itu, kamu masih muda, masih sehat dan masih kuat, kamu makan atau tidaknya buah apel tersebut, tidak masalah bagimu, Sayang.”

“Aku masih bingung, Ma. Apakah Mama bisa menjelaskan dengan contoh sederhana?”

Yana menghela napas dan mengangguk. “Kita ibaratkan Tiara dan adik tirinya yang masih kelas enam SD. Mana kebutuhan yang lebih banyak, Tiara atau adiknya itu?”

“Tiara,” jawab Tara polos.

“Nah, itu disebut dengan keadilan. Tidak mungkin ayah Tiara memberikan uang sama banyak kepada anaknya yang lain, sedangkan anak yang lain tidak memerlukan uang tersebut. Tindakan yang dilakukan oleh ibu tiri Tiara itu sebenarnya tidak bena. Mungkin ia ingin anaknya diperlakukan adil seperti Tiara dengan cara membagi uang belanja sama rata. Akan tetapi, kebutuhan mereka berdua berbeda. Tidak mungkin anak SD membeli buku praktik, membeli hal-hal yang bersangkutan dengan anak SMA, bukan?”

Tara terdiam, lalu dengan ragu mengangguk karena mulai paham dengan contoh yang diberikan oleh sang mama. Ia pun berkata, “Dengan kata lain, adil itu memberikan dua buah benda sama banyak, sedangkan keadilan itu memberikan benda sesuai kebutuan yang ada. Ibarat apel tadi, Mama lebih membutuhkan nutrisi dari apel tersebut daripada aku karena Mama sudah capai bekerja dan lebih tua dari aku.”

“Benar, Sayang. Nah, maka dari itu, Papa sering memberi uang belanja lebih kepada Nusa daripada kamu karena kakakmu memiliki kebutuan yang lebih banyak.”

Tara mengangguk-angguk bak burung balam. Ia baru menyadari bahwa kata adil dan keadilan itu memiliki pengertian yang berbeda. Tentu ia setuju dengan penjelasan sang mama bahwa setiap orang itu memiliki kebutuhan yang berbeda. Tentu lain cerita jika membahas keadilan dalam konteks yang lebih besar dan luas, seperti politik. Pasti ada kajian-kajian tertentu dalam memaknai kata adil dan keadilan.

Indonesia, 15 Maret 2024

Yui
Penulis dan Pengarang

    Tradisi Malamang, Mandoa, dan Balimau di Nagari Koto Anau Sebelum Memasuki Bulan Ramadan

    Previous article

    Peran Tidur dalam Mengoptimalkan Pertumbuhan Anak

    Next article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in Cerpen