EdukasiOpini

Perbedaan Memang Harus Ada Konflik

0

Beberapa waktu yang lalu duta damai sumatera barat mengunjungi Dr. Yasrul Huda Ph.D yang merupakan dekan dari fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Pria yang lebih suka di panggil “Udo” ini merupakan pakar di bidang kebudayaan Minangkabau yang berkaitan dengan hubungan budaya Minangkabau dan manusia nya sendiri.

Yasrul menjelaskan bahwa sudah sejak lama masyarakat mininangkabau terlalu membangga-banggakan budayanya sendiri namun tanpa sadar lambat lain terjebak dalam budaya yang eksklusif dan pada akhirnya mereka terjebak dalam budaya itu sendiri dan muaranya budaya itu lama kelamaan akan hilang karena memang tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.

Banyak kebudayaan di luar sana yang terus terjaga bukan karena sifat eksklusif nya tadi namun sifat inklusif dari budaya tersebut. Contoh budaya yang paling inklusif di Indonesia adalah kebudayaan dari suku bali. Bali merupakan daerah wisata alam dan wisata budaya di indonesia. Bagaimana mereka bisa memadukan dua budaya tersebut adalah dengan menurunkan ego kebudayaan itu sendiri sehingga budaya akan terus dikenang walaupun daerah tersebut sudah menjadi daerah wisata yang maju dan lambat laun dikawatirkan dapat menghilangkan kebudayaan lokal masyarakat itu sendiri. Namun apa yang terjadi para wisatawan luar negeri maupun penduduk dunia jauh lebih kenal Bali di bandingkan Indonesia.

Terkait dengan aplikasi Injil dalam bahasa Minangkabau, Yasrul mengatakan apa yang dilakukan oleh gubernur Sumbar yaitu Irwan Prayitno dari sudut pandang nya hal itu sangat salah. Hal ini membuktikan bahwa pejabat no satu di Sumbar belum mampu memahami dengan baik kebudayaan Minangkabau itu sendiri. “Entah ini merupakan inisiatif dari gubernur sendiri atau tekanan dari pejabat lain di Sumbar, saya tidak tahu” pungkas Yasrul Huda.

Yasrul juga menambahkan bahwa konflik dalam sebuah kebudayaan itu adalah hal yang wajar. Dari konflik yang muncul itulah sebuah kebudayaan menemukan bentuk terbaiknya. Kebudayaan minangkabau seperti zaman dahulu adalah bentuk kebudayaan yang terbaik di zaman itu dan kebudayaan tersebut tidak mungkin akan bertahan lama dengan pola yang sama. Makanya kebudayaan harus terus berubah sesuai zamannya sehingga kebudayaan tersebut akan terus lestari meski tidak sama lagi bentuknya dengan kebudayaan dimasa lampau.

Masyarakat Minang yang punya sejarah peperangan antara kaum padri dan kaum adat seharusnya telah belajar dari masa lampau bahwa adat dan agama memang akan selalu ada gesekan, baik gesekan yang besar maupun yang kecil atau biasa-biasa saja. Jangan terlalu mengagung-agungkan sesuatu apalagi berkaitan dengan kepercayaan dan budaya cintai hal tersebut dengan sewajarnya. Ketika terdapat konflik seharusnya diselesaikan dengan bijak dan pejabat Sumbar seharusnya mengambil kebijakan yang bijak juga. Bukan mengambil kebijakan yang ujung-ujungnya dapat merugikan nama baik Minangkabau itu sendiri.

Karenanya setiap kebijakan tersebut harus difikirkan secara matang dan terperinci dan jangan sampai memuat spekulasi pribadi. Hadirkanlah mereka yang memang berpengalaman di bidangnya sebagai bahan pertimbangan kebijakan publik.

Apa yang terjadi di media sosial maupun media berita berkaitan dengan bagaimana arogansinya para pembuka adat di Minangkabau dan pejabat publik dalam menyingkapi Injil berbahasa minang beberapa waktu yang lalu seharusnya menjadi triger bagi masyarakat Minang untuk lebih bersifat inklusif terhadap budaya apa saja. Jangan jadikan budaya sebagai penjara berfikir namun jadikanlah budaya sebagai tempat bermain untuk setiap orang dimana saja dan siapa saja sehingga budaya itu akan terus mendapatkan nilai dan kekayaan.

Perbedaan Itu Menyatukan

Previous article

Sulitkah memberikan pujian? Politik Indonesia

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi