Budaya/Sastra

Masih Pantaskah?

0

Puisi ini ditulis untuk mereka yang telah kehilangan rasa persatuan dan kesatuan di Negara Republik Indonesia ini. Mereka yang belajar arti ketuhanan sehingga lupa makna dari kata “Kemanusiaan”.

Tidak ada kata sarkas, satir, dan pujian dalam larik atau baris yang dituang. Puisi ini ditulis semata-mata mengingatkan diri bahwa Tuhan itu penuh dengan kasih sayang. Tidak seperti ciptaannya yang beringas dan membabi buta ketika kuasa telah didapat.

Wahai manusia berdasi, pemilik kuasa di negeri ini. Izinkan puan bertanya tentang rasa yang terbelenggu di hati mengenai keadilan sosial yang pernah diucapkan sebagai petuah bangsa negeri ini.

Bagaimana rasanya Tuan mengeksekusi tempat ibadah orang lain dengan bringas sehingga bangunan itu hancur … sehancur-hancurnya?!

Apakah yang Tuan dapat setelah itu? Kebajikan? Keindahan? Kepuasan? Atau pujian dari masyarakat pemilik kunci surga?

Ayolah, Tuan. Mari duduk bersila sambil menyesap kopi hitam, ditemani sebatang rokok kawung agar kau dengar inspirasi dari anak jagung ini. Kalau-kalau kau terinsipirasi dan mau menerimanya.

Ingin bertanya pada hati Tuan, apa agama yang Tuan anut sehingga ketika mengeksekusi, Tuan lupa membawa akal?

Apakah mereka mengganggu sehingga tidur Tuan tidak nyenyak? Apakah perilaku mereka membuat Tuan takut? Atau, apakah Tuan takut jika iman yang ada di hati mulai goyah karena kepercayaan mereka?

Ironis sekali Anda, Tuan!

Mereka tidak pernah mengganggu, tidak pernah mengusik, tidak pernah mengajak, tidak pernah melakukan tindakan anarkis atau hal yang melawan hukum! Akan tetapi, kenapa Tuan seperti itu?!

Ini! Ini yang membuat pertiwi menangis! Bukan karena sumber alam kita dikeruk puluhan tahun oleh asing! Bukan pula karena warga asing ingin menguasai negeri ini! Akan tetapi, karena Tuan tidak mencintai perdamaian, perbedaan, dan kerukunan antar bangsa!

Miris sekali hidup kau, Tuan berdasi yang selalu berjanji dengan petuah-petuah bijak sehingga membuat orang terlena dengan janji yang kau sebut!

Mereka yang kau hancurkan tempat ibadahnya adalah manusia, orang, atau anak bangsa dari negeri ini! Bukan orang asing atau alien yang harus kau benci!

Tak pantas kau melakukan hal memalukan seperti itu sebagai manusia, Tuan. Bahkan, mereka yang berkaki empat pun tahu cara berterima kasih ketika diberi kepercayaan.

Cukup!

Batinku menangis melihat saudaraku menangis! Batinku berteriak ketika mereka bertanya, ‘Kenapa rumah ibadah kita dieksekusi dan dirusak? Apakah kita berbuat salah? Kapan kita bisa pergi ke masjid lagi, wahai ibu?’

Tidakkah kau berpikir?
Tidakkah hati kau terketuk? Atau memang Tuhan telah membutakan mata hati yang kau miliki sehingga tidak ada lagi rasa kasih dan sayang dalam dirimu.

Satu kata dari puan untuk Tuan berdasi.

Kau tak pantas ….

Isilah sesuka hatimu titik empat itu agar kau tahu, posisimu di mana pada saat ini.

Indonesia, 15 September 2021.

Jangan Berlebihan dalam Beragama Islam!

Previous article

Tips Menulis yang Baik dan Benar

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *