Berita

Duta Damai Sumbar Adakan Webinar Menyikapi Perbedaan

0

Padang — Duta Damai Sumatera Barat sebagai komunitas yang fokus pada isu-isu perdamaian, toleransi dan keberagaman menghelat webinar dengan tema “Menyikapi dan Merayakan Perbedaaan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu (11/07) melalui aplikasi Zoom Meeting.

Hadir sebagai narasumber yaitu dr. Prudensia Eromot sebagai perantau Papua di Kota Padang, Ahmad Nusi, M. Pd sebagai perantau Minang di Kota Ambon dan Yasrul Huda, Ph. D selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN IB. Ketiga narasumber dipilih untuk menyampaikan pengalaman dan gagasannya terkait dengan toleransi dan keberagaman. Webinar ini di Pandu oleh Adi Suhendra, S. Pd sebagai Host dan Onriza Putra, S. IP sebagai pemantik diskusi.

Dalam sambutannya, Koordinator Duta Damai Sumatera Barat Gusveri Handiko, SP menjelaskan bahwa webinar ini merupakan upaya bersama untuk merawat perbedaan.

“Duta Damai Sumbar adalah anak-anak muda yang dibentuk oleh BNPT. Anggotanya terdiri dari blogger, DKV dan IT. Webinar ini adalah usaha kami untuk konsisten mengkampanyekan toleransi di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat” ujarnya.

Ketiga Narasumber memaparkan materinya selama 2 jam dan disambut dengan sesi tanya jawab. dr. Prudensia memaparkan pengalamannya selama tinggal di Kota Padang. Menurutnya stereotype/pelabelan negatif sempat dialaminya diawal-awal kedatangan tahun 2013. “Namun saat ini, saya sangat diterima oleh masyarakat Minang, bahkan saya diangkat sebagai anak” terangnya.

“Selama di Kota Ambon, saya belajar dan menyaksikan secara langsung praktek-praktek toleransi. Saya juga mempunyai Mama Piara (mama angkat) yang berbeda agama” ujar Ahmad Nusi membuka diskusi. Dalam materinya, Ahmad berbagi pengalamanya seperti kos berbeda agama, mengajar di Gereja dan sebagainya.

Sebagai penutup, Yasrul Huda, Ph. D menjelaskan wacana keminangkabauan dan penerimaan terhadap perbedaan. Menurutnya, masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang inklusif, namun pada tataran wacana ada kecendrungan eksklusif.

“Kita harus menyadari bahwa kita lahir dalam keadaan (masyarakat-pen) yang plural” tutupnya.

Onriza Putra

Cerita Perantau Papua Yang Tinggal di Kota Padang

Previous article

Perbedaan Itu Menyatukan

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita