Edukasi

Belajar Pola Pikir Sofyan Djalil”Sang Mentri Segala Presiden”

0

Dr. Sofyan A. Djalil, S.H., M.A., M.ALD. (lahir di Aceh Timur, Aceh, Indonesia, 23 September 1953; umur 67 tahun) adalah Menteri Agraria dan Tata Ruang Indonesia saat ini.

Ia pernah menjabat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu. Sebelumnya dari Oktober 2004 hingga Mei 2007 ia menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika dalam kabinet yang sama. Pada 26 Oktober 2014 hingga 12 Agustus 2015, ia dipilih menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia di Kabinet Kerja Periode 2014-2019 oleh Presiden Jokowi, selanjutnya ia digantikan oleh Darmin Nasution pada perombakan Kabinet Kerja, ia menjabat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia atau Kepala Bapennas dari tanggal 12 Agustus 2015 hingga 27 Juli 2016 pada Kabinet Kerja dan digantikan oleh Bambang Brodjonegoro pada perombakan kabinet yang kedua.

Sofyan Djalil adalah seorang yang berperan besar dalam pengusulan Omnibus Law Cipta Kerja. Ia mengatakan bahwa Omnibus Law adalah bentuk penyederhanaan undang-undang yang ada. Terkait Cipta Kerja Ia mengatakan pada podcast Deddy Corbuzier yang ditanyangkan 16 oktober yang lalu, ada 79 undang-undang yang disederhanakan dalam Omnibus Law Cipta Kerja ini. Terkait dengan penyederhanaan undang-undang tersebut Ia mengatakan tidak menutup kemungkinan akan lahirnya Omnibus Law yang lain terkait penyederhanaan undang-undang yang lain.

Sofyan Djalil adalah seorang menteri yang sederhana secara penampilan. Ia sempat disinggung oleh Deddy dalam podcast tersebut” Bapak kan menteri, kenapa jam tangan bapak biasa saja? Ia pun menjawab fungsi jam tangan kan untuk menunjukkan waktu, jadi inilah pilihan saya” pungkas Sofyan Djalil.

Kemudian Ia menambahkan” Saya cerita sama anak saya, Orang arab punya pepatah begini, Baju kamu menghormati kamu sebelum kamu duduk sementara ilmu kamu menghormati Kamu setelah kamu duduk”. Dapat diartikan begini penampilan luar tidak akan membuktikan bagaimana isi kepala orang dalam berbicara dan bertindak.

Sofyan Djalin juga mengatakan kepada deddy bahwa ia adalah seorang menteri dan ia bukan seorang politisi. Ia juga menegaskan kalau sampai sekarang ia juga tidak pernah masuk satu partai politik apapun. selanjutnya Sofyan djalil menambahkan seorang politisi adalah mereka yang berfikir untuk memenangkan pemilu yang akan datang dan negarawan adalah mereka yang berfikir untuk dua atau tiga generasi yang akan datang. Omnibus Law Cipta Kerja adalah contoh visi negarawan tersebut.

Sofyan Djalil menyebutkan bahwa demokrasi itu berjalan seiring dengan perubahan, ketika satu undang-undang atau kebijakan ini tidak sesuai maka akan dirubah dengan undang-undang atau kejikan lain berbeda dengan politik otoriter ia akan lebih mudah untuk dijalankan namun ketika terjadi penyimpangan tidak akan ada yang bisa mengontrolatau meluruskan penyimpangan tersebut.

Sampai saat ini Sofyan Djalil masih percaya bahwa konektivitas hubungan adalah hal yang penting. Ia menyebutkan “Morfik Feel” akan terus ada sesama makhluk hidup. Secara sederhana Morfik Feel diartikan sebagai konektivitas frekuensi. Jika dibawa ke kehidupan sehari-hari saat Morfik Feel yang diberikan adalah negatif maka hasil akhirnya adalah negatif. Begitu juga dengan kebebasan berpendapat jika kebebasan berpendapat tidak diiringi dengan aturan untuk memberikan koridor dalam berbicara maka Post-Truth akan terus berkembang dan orang-orang akan susah untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Terakhir Ia menambahkan bahwa jangan hanya berfikir dari perspektif yang sempit saja Omnibus Law Cipta kerja ini. Jangan hanya memikirkan mereka yang bekerja saja, pikirkan juga yang belum bekerja. Yang dia sayangkan adalah kenapa mahasiswa dan anak-anak SMK ikut demo anarkis namun mereka tidak sadar bahwa undang-undang ini dibuat untuk mereka bisa bekerja.

“Dalam islam mengatakan tahukah kamu orang yang mendustakan agama, adalah mereka yang tidak menyuruh orang memberi makan orang miskin, memberi pekerjaan adalah salah satu cara memberi makan orang miskin dengan dampak yang sistemik” kata Sofyan Djalil.

PERBEDAAN BUKAN BERARTI KITA TIDAK BISA BERSATU DALAM SEBUAH KEBERAGAMAN

Previous article

MENUMBUHKAN SIKAP TOLERANSI MULAI DARI DIRI KITA, CARANYA BAGAIMANA?

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi