Sumber Foto : Goodreads

Onriza Putra – Duta Damai Regional Sumatera Barat

Ahmad Fuadi atau yang sering kita sapa dengan Uda Fuadi adalah seorang novelis yang novel-novelnya menjadi “teman” tumbuh masa-masa muda kita, terutama saya pribadi. Novel Negeri 5 Menara adalah buku pertamanya yang rilis pada tahun 2009. Uda Fuadi adalah alumni Pondok Pesantren Gontor dan Hubungan Intenasional Universitas Padjadjaran. Dia lahir di Bayur, sebuah kampung kecil di tepian Danau Maninjau, Sumatera Barat. Kenangannya tentang kehidupan masa kecilnya dikampung, menjadi latar belakang sekaligus inspirasinya dalam penulisan novel-novelnya.

Saya pribadi mengenal Uda Fuadi ketika membaca novel Negeri 5 Menara pada saat awal-awal kuliah tahun 2010. Novel yang mengangkat tema pendidikan, persahabatan, cita-cita dan keluarga ini menemani saya dan menjadi penyemangat untuk menempuhkan pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan, dalam satu momen, saya merasa jalan cerita novel hampir sama dengan apa yang saya alami. Sebagai contoh, Alif merasa “dipaksa” untuk bersekolah di pesantren dan mengambil jurusan Hubungan Internasional, pada saat yang sama saya juga “dipaksa” masuk madrasah aliyah dan kuliah dengan jurusan Hubungan Internasional. Semangat Man Jadda Wajada (siapa yang bersungguh-sungguh, pasti mendapat/berhasil) menjadi penyemangat yang digelorakan novel ini.

Novel kedua dan ketiganya menjadi novel yang ditunggu-tungu pembaca Negeri 5 Menara. Pada tahun 2011, Uda Fuadi menerbitkan novel kedua berjudul Ranah 3 Warna. Sedangkan untuk novel ketiga berjudul Rantau 1 Muara terbit tahun 2013. Dalam menulis, Uda Fuadi menekankan untuk memperbanyak membaca novel-novel lain dan memperbanyak membaca buku kiat-kiat menulis.

Menurut wartawan Tempo dan koresponden VOA ini, menulis bukan karena bakat, tapi menulis karena belajar. Dalam wawancaranya di chanel Youtube JS Khairen, Uda Fuadi bercerita bahwa proses menulisnya bermula dari kegalauan. Menurutya, setelah memperoleh apa yang dicita-citakannya (mendapat beasiswa, kuliah, bekerja di luar negeri,), timbul kegalauan bahwa dia belum memberikan apa-apa kepada masyarakat. Berdasarkan kegalauan itu, Uda Fuadi berpikir untuk memberikan kebermanfaatan kepada orang lain dengan berbagi cerita-cerita inspiratif.

Selain menjadi penulis, Uda Fuadi adalah pemburu beasiswa. Tahun 1998, dia mendapat beasiswa Fullbright di School of Media dan Public Affairs, George Washington University. Peristiwa terorisme 11 September 2001 menjadi berita bersejarah yang dilaporkan langsung oleh Uda Fuadi dari Pentagon, White House dan Capitol Hill. Tahun 2004 dia memperoleh beasiswa Chevening di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Selain beasiswa pendidikan, dia juga banyak mengikuti pelatihan dan kursus-kursus seperti SIF-ASEAN Visiting Student Fellowship di National University of Singapore tahun 1997, Indonesia Cultural Foundation Inc Award tahun 2000, Colombian College of Arts and Sciences Award, The George Washington University tahun 2000, The Ford Foundation Award tahun 1999, CASE Media Fellowship, University of Maryland, College Park tahun 2002 dan sederet lainnya. Pada masa pandemi ini, Uda Fuadi membagikan pengalaman dan kiat mendapatkan beasiswa ke luar negeri di instagram pribadinya.

Selain menjadi penulis, pemburu beasiswa dan wartawan, Uda Fuadi adalah pegiat sosial. Uda Fuadi mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Komunitas Menara yang fokus membantu pendidikan masyarakat ekonomi rendah dan kurang mampu. Yayasan ini dibentuk pada tahun 2011 dan sudah mempunyai sekolah PAUD gratis di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Pendirian yayasan ini didasari oleh semangat memajukan pendidikan dan memberikan kemanfaatan kepada orang lain, sesuai dengan pesan yang selalu diingatnya “orang yang paling baik di antaramu adalah orang yang paling banyak memberi manfaat”.

Dalam banyak kesempatan, Uda Fuadi tampil sebagai pembicara dalam pelatihan-pelatihan menulis. Saya pernah berkesempatan menjadi peserta pelatihan saat diadakan di Auditorium Universitas Andalas. Dalam menulis, Uda Fuadi menilai seharusnya menulis ditujukan untuk menebar kebaikan. Tips menulis yang ditawarkannya adalah menggunakan konsep why (kenapa harus menulis), what (apa yang akan ditulis), how (bagaimana menuliskannya) dan when (kapan sebaiknya menulis). Konsep ini menjadi pedoman untuk membuat sebuah tulisan.

Sebagai penulis yang saya kagumi, mantra-manta pembangkit semangat yang dibawa dalam novel Triologi Negeri 5 Menara selalu menginspirasi saya hingga sekarang. Mantra tersebut yaitu Man Jadda Wajada (siapa yang bersungguh-sungguh pasti mendapat) dalam Novel Negeri 5 Menara, Man Shabara Zhafira (siapa yang sabar akan beruntung) dalam Novel Ranah 3 Warna dan Man Sara Ala Darbi Washala (siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai). Semoga kita bisa mengambil inspirasi dari tokoh ini.

Onriza Putra

Lathi : Weird Genius, Yang Mendunia

Previous article

Sisi Spiritualitas Pancasila Ala Yudi Latif

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi