Sumber Foto : Dok. Ravacana Films

Onriza Putra – Duta Damai Dunia Maya Regional Sumatera Barat

Mangkane yen nduwe HP, aja mung dinggo nggaya tok, dinggo golek informasi ngana lo” (makanya kalau punya HP itu jangan buat gaya aja, tapi buat cari informasi, gitu lho) ucap Buk Tejo dalam film pendek Tilik. Film yang akhir-akhir ini viral dan dibicarakan banyak orang dari berbagai perspektif. Banyak kalangan me-review dari segi gender, norma sosial, ketimpangan ekonomi kota-desa dan lainnya. Tulisan ini satu dari banyak tulisan yang mengaitkannya dengan informasi palsu/hoax.

Film Tilik adalah film pendek produksi Ravacana Films yang disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo. Tilik adalah kebiasaan/budaya masyarakat Bantul (atau Jawa?) yang berarti Menjenguk orang yang sakit (di film ini yang sakit adalah Bu Lurah). Uniknya, para penjenguk yang mayoritas ibu-ibu kampung ini, menaiki truk untuk sampai di rumah sakit yang terletak di pusat kota.

Tapi ide dan gagasan film ini tidak sesederhana yang kita bayangkan. Alur cerita yang ditulis Bagus Sumartono ini, menjadi semakin kompleks dengan dialog-dialog pameran di dalamnya. Perjalanan diatas truk ini sarat makna dan patut untuk kita renungkan.

Adalah Buk Tejo (diperankan Siti Fauziah) yang menyebarkan informasi (yang belum bisa dipastikan kebenarannya) tentang Dian (Lully Syuakisrani). Dian adalah objek “gunjingan” film ini dari awal sampai akhir. “Nembe nyambut gawe, henpon anyar, motor anyar, ho o ora? Gik kuwi duit soko ngendi coba, gik larang-larang kabeh lo kuwi, kaya aku ora ngerti merk wae (baru kerja sudah punya ponsel dan sepeda motor baru, ya kan? Itu uang dari mana coba? Merknya mahal semua tuh, kayak aku nggak ngerti merk aja)” cerocosnya.

Sepanjang film, Bu Tejo menyebarkan informasi negatif tentang Dian. Mulai dari pekerjaannya, digosipkan dekat dengan banyak pria, dianggap penggoda suami-suami bahkan diceritakan muntah-muntah (hamil). Informasi dari Bu Tejo ini didasarkan pada informasi di internet (facebook) dan pengalamannya sendiri.

Informasi yang disampaikan Bu Tejo, ditanggapi dengan kritis oleh Yu Ning (Brilliana Desy). “Ning kabeh kui, urung karoan bener lho, Bu Tejo. Berita soko internet ki yo kudu di cek sek, ora ming waton dilek wae” (tapi semuanya belum tentu bener lho, Bu Tedjo. Berita dari internet itu harus di cek dulu, nggak cuma ditelen mentah-mentah)” tanggap Yu Ning.

Aktor lain juga dimainkan oleh Yu Sam (Dyah Mulani). Yu Sam menggambarkan sosok pendengar setia dan mudah diombang-ambing oleh informasi. Kadang membenarkan informasi Bu Tejo, tapi juga mengiyakan tanggapan Yu Ning. Sosok lain yaitu Bu Tri (Angeline Rizky), memainkan peran sebagai sosok “kompor” yang membenar seluruh informasi dari Bu Tejo. Bahkan kadang menambah-nambahkannya. Bu Tri adalah “komplotan” Bu Tedjo.

Puncak dari adegan diatas truk ini adalah Bu Tejo dan Yu Ning beradu mulut dan saling cekcok satu sama lain. Yu Ning (yang awalnya tenang) naik pitam dan menganggap Bu Tejo menyebarkan fitnah dan suka pamer.

Sepintas film ini terkesan simpel dan biasa terjadi sehari-hari. Namun sangat relevan dengan kondisi masyarakat kita saat ini, ketika berhadapan dengan informasi dari internet.

Akses internet yang semakin mudah menyebabkan kita kebanjiran informasi, sehingga tidak mampu lagi memilah mana yang fakta dan mana yang hoax. Seperti informasi yang disampaikan Bu Tejo, dia melempar informasi/isu yang dia sendiri tidak mengetahui kebenarannya. Bahkan hanya diperoleh dari facebook.

Teknik pengemasan informasi yang digunakan Bu Tejo adalah mengemas informasi (yang belum tentu kebenarannya) dengan data yang membuat pendengar merasa terkoneksi. Bu Tejo melempar wacana ke Ibu-Ibu dengan mensetir data yang dimilikinya dan melakukan provokasi.

Sosok Bu Tri (kompor) dan Yu Sam (labil) menggambarkan kita semua. Kita kadang gamang dan labil (tidak punya sikap) dalam menerima informasi. Tapi juga kadang “membumbui” informasi demi kepentingan pribadi atau untuk menyerang orang lain.

Tilik adalah film satire. Kita tertawai tapi menohok jantung kita semua. Tilik mengkritisi potret masyarakat kita yang gamang menghadapi kecanggihan teknologi dan kebanjiran informasi. Lewat Tilik, kita disadarkan bahwa kita dikepung informasi hoaxs. Point utama film ini adalah banyak informasi yang beredar di internet dan ditelan mentah-mentah oleh masyarakat. Kita memerlukan budaya kritis dan kebiasaan memverifikasi untuk mencari sebuah kebenaran. Itu lah yang coba dikampanyekan film ini.

Kamu mau jadi yang mana, Bu Tejo, Yu Ning, Bu Tri atau Yu Sam?

Produser : Elena Rosmeisara
Sutradara : Wahyu Agung Prasetyo
Penulis : Bagus Sumartono
Produksi : Ravacana Films
Durasi : 32 Menit, 34 Detik
View saat ini : 12.393.694 x ditonton

Onriza Putra

Asal Muasal Nama “Minangakabau”

Previous article

Fungsi Mamak di Minangkabau

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini