Maret ini merupakan bulan ke tiga saya bertugas sebagai relawan guru muda di MTs Tarbiyatul Athfal Toroh, Grobogan, Jawa Tengah. Saya yang lahir dan besar di Sumatra Barat, dengan berbagai ragam dan corak budaya khas minang, akhirnya memulai petualangan dan perjalan baru di tanah Jawa melalui program pengabdian Pijar (Pi Mengajar). Such a beautiful thing that happens in my life! Hari-hari berlangsung seru, menyenangkan, dan terkadang penuh halang rintang, tapi itulah yang membuat hidup, menjadi hidup.

            Awal Februari saya mendapat tugas penting. Saya dipercaya untuk membina pasukan PBB dan semaphore yang akan ditampilkan secara perdana di Festival MTs TA 2024. Tidak hanya itu, saya juga diminta untuk memandu jalannya acara festival tersebut. Saya sempat sedikit ragu untuk mengambil amanah tersebut, karena di waktu yang sama saya juga sedang mempersiapkan 3 orang siswa untuk mengikuti ujian masuk SMA Unggulan di Jawa Tengah. Tapi, kemudian saya mantapkan hati, setiap challenge pasti ada peluang di dalamnya.

            Mulailah saya mengatur jadwal, jam sekolah saya gunakan untuk persiapan ujian Psikotes dan Tes Potensi Akademik siswa binaan saya yang akan ujian tulis di SMAU CT ARSA Sukoharjo, sedangkan luar sekolah saya gunakan untuk Latihan PBB Variasi dan Semaphore Dance. Did it run well? It did. Awal-awalnya saya merasa lumayan capek, apalagi dulu biasanya saya punya waktu sekitar satu jam untuk tidur atau istirahat siang, namun selama proses latihan ini, saya skip habit saya tersebut.

            Festival MTs TA sendiri di selenggarakan di hari Sabtu, 2 Maret 2024. These are the details of this festival! Festival ini adalah ajang kreatifitas siswa MTs Tarbiyatul Athfal Toroh yang meliputi kegiatan: Market Day, Pentas Seni, Gelar Karya, dan Demonstrasi Ekskul. Acara berlangsung begitu meriah, dan di luar dugaan penontonnya membludak. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa memenuhi lokasi festival. Saya bisa merasakan antusiasme masyarakat menyaksikan pegelaran yang kami tampilkan, dan jujur saja itu membuat saya lumayan grogi sebagai pembawa acara.

            Di tengah hiruk pikuk, tepuk tangan, dan sorak sorai masyarakat yang mengiringi penampilan siswa di pentas festival, untuk pertama kalinya saya merasa begitu menyatu dengan seluruh masyarakat tempat pengabdian saya. Sebuah warna baru yang tak akan pernah saya lupakan hingga kapanpun. Festival berlangsung selama 3 jam, semua penampilan ditampilkan dengan ciamik. Di akhir acara, dengan iseng saya bersorak “Jadi bapak ibu semua, penampilan siapa nih yang paling bagus?” dibalas dengan teriakan juga, penonton menjawab “PBB..PBB”, well..well my heart was so full! Anak binaan saya mendapat respon positif dan disukai masyarakat, saya rasa itu adalah penghargaan luar biasa bagi seorang guru. To sum up, festival ini sejatinya bukan sekadar ajang unjuk gigi, tapi juga ajang untuk menumbuh suburkan sifat tanggung jawab, toleransi, empati, dan kerja sama antar semua pihak yang terlibat di dalamnya. Semua pihak yang bersinar dengan cara dan metodenya masing-masing!

Segala Ibadahmu Hanya Untukmu

Previous article

Ini Alokasi Perlindungan Sosial di Tahun 2024

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini