Belakangan ini babi lagi Viral di perbincangkan lantaran adanya olahan rendang babi. Namun pada kesempatan ini saya membahas tentang babi lantaran tulisan saya terkait Filosofi dibalik film Kera Sakti cukup di minati pembaca, selain itu pada 13, 14, dan 15 Juli 2022 sebut saja stasiun TV kenamaan Trans7 menghadirkan kembali Serial Kera Sakti di jam 08.00 WIB meskipun ceritanya tidak sama persis dengan kisah yang pernah tayang di era tahun 90-an namun cukup menarik untuk tetap di simak lantaran animasi yang di sajikan semakin luar biasa.

Selain tokoh Kera Sakti “SUN GO KONG'” juga ada tokoh babi gendut yang bernama “CU PAT KAI”. Sebelum terlahir sebagai siluman babi, Cu Pat Kai adalah seorang Panglima Perang di Kayangan yang bernama “TIAN FENG” yang memimpin ribuan prajurit. Pada dasarnya Panglima Tian Feng adalah sosok yang baik, akan tetapi dirinya terjerat cinta dengan Dewi Bulan “CHANG ER” sehingga melakukan segala kecurangan dan melanggar aturan kayangan demi memikat hati Dewi Chang ER, lantaran kesalahannya tersebut akhirnya Panglima Tian Feng di turunkan ke bumi untuk mendapatkan hukuman yaitu penderitaan karena cinta. Entah berapa kali Panglima Tian Feng harus mati dan hidup di dunia untuk menjalani hukuman tersebut sehingga memiliki tagline yang berbunyi “Demikianlah Cinta, Penderitaannya tiada akhir”.

Panglima Tian Feng sudah lelah menjalani hukumannya sehingga pada saat sidang di akhirat dirinya tidak mau lagi menerima putusan hakim neraka untuk hidup di dunia dan menderita karena cinta lagi, saat hendak di berikan Teh penghilang Ingatan dirinya kabur dan akhirnya terjatuh ke lorong kehidupan dunia hewan yang kebetulan adalah babi, sehingga Panglima Tian Feng terlahir dari rahim seekor babi, tentu saja wujud babinya tidak sempurna, dirinya berbadan manusia berkepala babi sehingga dianggap sebagai siluman dan hendak di bunuh oleh masyarakat. Berkat pertolongan Dewi Kwan Im, babi yang merupakan reinkarnasi (Tumimbal Lahir) dari panglima Tian Feng selamat dan kesaktian yang dimiliki dikembalikan serta ditugaskan untuk mengawal dan menjaga Biksu Suci Tong Sam Cong untuk mengambil kitab suci ke barat demi menebus kesalahannya.

Meski terlahir sebagai babi, dirinya memiliki kesaktian sehingga bisa mengubah wujudnya menjadi lebih tampan, bahkan tidak jarang dirinya berpenampilan layaknya dewa saat dirinya berwujud sebagai Panglima Tian Feng. Hal tersebut tentunya dimanfaatkan untuk memikat gadis-gadis cantik lantaran naluri alamiahnya yang mencintai keindahan, namun sayangnya ketika dirinya tidak bisa menahan nafsunya maka wujud babinya akan muncul. Selain tertarik akan kecantikan si babi Cu Pat Kai juga memiliki selera makan yang lebih dan sering menghabiskan jatah makanan yang ada tanpa peduli dengan yang lain.

Karena Cu Pat Kai selalu ingin dekat dengan gadis-gadis cantik dan mendapatkan makanan enak, tidak jarang Cu Pat Kai harus bersitegang dengan Sun Go Kong, bahkan Cu Pat Kai juga sering terperangkap oleh tipu daya para siluman yang ingin membunuh dan memakan daging Bhiksu Tong Sam Cong.

Lantas filosofi apa yang ada di balik tokoh Babi Cu Pat Kai ini?

  1. Babi “Cu Pat Kai” adalah simbol nafsu serahkan, dirinya mudah tergoda oleh makanan dan gadis-gadis cantik sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, yang ternyata adalah perangkap siluman. Pada kehidupan nyata baik rakyat jelata hingga pejabat negara banyak yang terjebak oleh nikmatnya makanan dan wanita. Entah berapa banyak yang akhirnya melakukan tidak kejahatan seperti mencuri, merampok, hingga korupsi untuk hidup mewah dan bermain wanita yang akhirnya menyeret mereka ke dalam jeruji besi.
  2. Kehidupan berulang dari Panglima Tian Feng untuk menjalani hukuman penderitaan cinta menjelaskan tentang hukum Reinkarnasi (Tumimbal Lahir) selain itu juga menggambarkan bahwa kehidupan ini seperti roda yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Pada saat terlahir di Kayangan sebagai Panglima Tian Feng adalah fase tertinggi kehidupan Tian Feng, dan saat terlahir sebagai siluman babi adalah fase terendah kehidupan Tian Feng.
  3. Teh penghilang Ingatan adalah simbol misteri kehidupan untuk memudahkan pemahaman bahwa makhluk yang lahir kedunia tidak bisa mengingat kehidupannya yang lampau, jangankan kehidupan yang lampu, kita pun tidak bisa mengingat dengan detail apa saja yang kita lakukan seminggu, sebulan, atau setahun yang lalu tentang segala detail kegiatannya. Tidak bisa mengingat kejadian seminggu, sebulan, atau setahun yang lalu bukan berarti kita tidak hidup di minggu, bulan atau tahun lalu.

Demikian tulisan ini saya buat, dengan harapan dapat membuka wawasan pembaca, sehingga mencegah terjadinya salah tafsir, terlebih lagi munculnya anggapan bahwa umat Buddha memuja babi. Jika pun ada umat Buddha yang melarang pembunuhan terhadap babi atau hewan apapun, bukan berarti umat Buddha memuja hewan tersebut, tetapi lebih pada mencintai, menyayangi, dan menghormati kehidupan, karena pada dasarnya setiap makhluk hidup ingin mendapatkan hidup bahagia.

Akhir kata, semoga semua makhluk hidup berbahagia 🙏🙏🙏

Suyadi

Toleransi Beragama Indonesia,Bagaikan Gajah di Pelupuk Mata

Previous article

Bulan Asadha Bulan Kebenaran

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini