Opini

Sakdiyah Ma’ruf, Menertawakan Intoleransi Lewat Komedi

0

Sakdiyah Ma’ruf adalah Pelawak Tunggal (Stand Up Comedian) wanita pertama yang berhijab di Indonesia. Diyah, pangilan akrabnya, membahasa isu-isu seputar intoleransi, radikalisme dan ektrimisme dengan balutan humor. Berkat aktivitasnya, Sakdiyah masuk dalam 100 jajaran perempuan berpengaruh versi BBC 100 Women (ajang nominasi yang mengumpulkan perempuan-perempuan berpengaruh di komunitasnya dari seluruh dunia).

Dalam membawakan materi komedi, Sakdiyah dengan berani mengulas isu-isu tentang Islam, perempuan, radikalisme dan ekstrimisme. Keberanian ini banyak dipuji orang karena dia dengan cerdas membangun dirkursus tentang radikalisme dan ektrimisme yang sangat berat dan sensitif menjadi tawa.

Aktivisme Sakdiyah Ma’ruf dan latar belakang keturunanya justru sangat kontadiktif. Dia adalah keturunan arab yang justru mewarisi ajaran-ajaran konservatif. Ditambah lagi, dia perempuan dan berhijab.

Salah satu meteri komedinya yang di upload di youtube berbunyi :” saya juga pernah ditanya, ini pertanyaannya serius, “mbak, kalau jihad gimana?. Boleh nggak? Serem dong jawabnya.  Saya jawab, boleh sih tapi pakai bambu. Namanya terorisme ramah lingkungan.”

Penggunaan komedi dalam perlawanan terhadap intoleransi dan radikalisme sesungguhnya bukan barang baru. Namun, respon masyarakat yang beragam (sering mendapatkan persekusi), membuat komedian harus ekstra berhati-hati dalam mengemas isu yang menjadi keresahannya. Kita masih ingat, bagaimana Ge Pamungkas dan Joshua Suherman diangap menghina agama Islam. Kasus seruap juga di alami Tretan Muslim dan Coki Pardede ketika keduanya sering melucu terkait merebaknya isu-isu intoleransi.

Menurut Khoiril Maqin dalam Bagaimana Satire Melawan Ekstrimisme, Agama dan humor sering dipandang dengan curiga atau sangat hat-hati. Sebagian karena agama berpijak pada kebenaran moral dan kepastian kepercayaan dan ada otoritas. Sebaliknya, humor berkembang pada ambuguitas dan penyelewengan, pemebelokan dari norma sosial dan aturan moral. Menurutnya, satire bisa jadi alat yang kuat untuk mengkomunikasikan ide-ide tentang hak-hak agama dan peran dalam masyarakat. Dia mencontohkan tayangan Jihadi Fool yang dipublikasikan oleh pemerintah Nordhein-Westfalen (NRW) pada 22 Agustus lalu di Pameran Gamescom, Koln, Jerman. Tayangan itu dikemas melalui komedi satir untuk melawan kampanye yang dilakukan oleh para ekstrimis ISIS.

Sakdiyah, pada tahun 2011 mengikuti ajajng Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) yang diadakan oleh Kompas TV. Dalam materi komedinya, Sakdiyah melawan dan menantang ekstrimisme Islam dan kekerasan terhadap perempuan. Hijab, pernikahan paksa/dini (sering dialami perempuan arab/keturunan arab), intoleransi dan radikalisme menjadi kegelisahannya.

Dalam Sakdiyah Ma’ruf, Komedi dan Perlawanan, pemegang gelar master di AS ini merampung tesis tentang Comedy Jihad, yaitu bagaimana muslim di AS memulai menggunakan komedi sebagai respon terhadap publik AS yang antipati kepada Islam.

Jalan yang ditempuh Sakdiyah termasuk jalan yang berani. Dia tampil kedepan publik dengan membawa wacana yang mungkin tidak nyaman untuk ditertawakan. Apalagi di saat-saat menguatnya politik identitas. Menurutnya, komedi bisa menyampaikan pesan lebih efektif, karena humor mengeksploitasi pengalaman personal untuk merefleksikan sesuatu yang lebih besar, misalnya kondisi di masyarakat.

Dia menambahkan, isu yang diangkat harus bersifat adil dan didasari oleh referensi yang kuat. Baginya, komedi adalah seni berargumentasi, sehinga referensi sangat dibutuhkan agar kita mengerti apa yang kita sampaikan dan tidak mengolok-olok.

Misi terbesarnya adalah berkomedi untuk kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan.

Onriza Putra

Musuh Dari Musuhku Adalah Temanku : Agar Kita Tidak Gagap Politik

Previous article

Memperingati Hari Sumpah Pemuda 2019, Duta Damai Sumatera Barat Akan Mengadakan Kampanye Perdamaian

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini