Konten KreatifOpini

Pengaruh Ojek Online bagi Perekonomian Daerah

0

Beberapa tahun belakangan ini ada fenomena terbaru di jalan raya di beberapa kota besar di indonesia. Fenomena tersebut adalah munculnya rombongan/kelompok orang yang memakai jacket dengan warna identik hijau. Tentunya kita tahu siapakah mereka, mereka adalah para driver ojek online.

Pekerjaan sebagai tukang ojek untuk sekarang tidak dipandang sebagai pekerjaan sebelah mata lagi oleh sebagian besar orang indonesia. Banyak dari driver ojek online merupakan lulusan universitas di indonesia. Tentunya ada pandangan baru yang muncul di tengah-tengah masyarakat indonesia “tinggi-tinggi sekolah kok cuma jadi tukang ojek” . Kita tidak bisa menyalahkan pandangan masyarakat yang demikian namun jika ditanya lebih dalam lagi, berapakah penghasilan tukang ojek online di indonesia saat ini, mungkin masyarakat bisa memaklumi kenapa sebagian orang mengambil profesi menjadi driver OJOL (Ojek Online).

Di kota jakarta sendiri, rata-rata setiap driver ojek online bisa mengantongi penghasilan kotor sebesar Rp. 500.000,- setiap hari mereka bekerja. Coba kita hitung jika mereka bekerja hanya 24 hari dalam satu minggu, kita anggap penghasilan bersih driver Ojol Rp. 350.000,- berarti dalam satu bulan mereka berpenghasilan Rp. 8.400.000,- dalam satu bulan. Jika kita kaitkan dengan rata-rata gaji karyawan di ibukota yaitu Rp. 6.000.000,- sampai Rp. 8.000.000,- tentunya penghasilan mereka lebih besar di banding karyawan di ibukota provinsi itu.

Kemudian kita bergeser ke daerah kota padang, di kota ini rata-rata penghasilan bersih driver Ojol adalah sekitar Rp. 250.000,- dalam satu hari. Dikalikan 24 hari kerja maka di dapat penghasilan mereka dalam satu bulan yaitu Rp. 6.000.000,- sementara itu gaji rata-rata pegawai di kota padang hanya berkisar Rp. 2.800.000,- sampai Rp. 3.200.000,-. Maka pengahasilan bersih driver Ojol di kota padang 2 kali lipat dari gaji pegawai di kota ini.

Jika kita kaitkan dengan sebuah kasus yang viral di twitter beberapa minggu kebelakang yaitu seorang anak lulusan UI menolak untuk di gaji Rp. 8.000.000,-. Jika kita menilik lagi penghasilan driver Ojol di ibukota yaitu Rp. 8.400.000,- maka tidak ada yang salah dengan apa yang ditolak oleh si pencari kerja tersebut. Memang beberapa perusahaan di indonesia belum bisa menggaji layak karyawannya. Otomatis dengan bermunculannya perusahaan unicorn di indonesia seperti Grap dan Go jeck otomatis pola pandang masyarakat indonesia akan berubah terhadap kelayakan gaji yang harus di terimanya.

Munculnya perusahan ojol yang memberikan layanan ojek, antar makanan, pijat, antar barang dll juga menggerakkan perekonomian di beberapa daerah di indonesia. Di kota pada ada sebagian mitra go food yang hanya memasak dan berjualan di rumahnya saja tanpa harus menyewa toko, ada juga yang mitra go food yang penjualannya meningkat rata-rata 30% . Namun yang di sayangkan adalah dampak keberadaan Ojol yang belum bisa berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah tempat mereka beroperasi. Itulah kenapa sebagian orang masih memandang sebelah mata driver online di indonesia.

Idul Adha dan Semangat kebersamaan

Previous article

Memaknai Hari Raya Kurban Dengan Meneladani Ketaatan Nabi Ibrahim AS

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *