Opini

Memaknai Hari Raya Kurban Dengan Meneladani Ketaatan Nabi Ibrahim AS

0

Beberapa hari lagi seluruh umat Islam di dunia akan merayakan hari raya Idul Adha atau yang lebih dikenal dengan hari raya Kurban. Berbicara tentang hari raya kurban ini kita seakan diingatkan kembali akan sebuah peristiwa pada Nabi Ibrahim AS ketika beliau diperintahkan oleh ALLAH SWT dalam mimpinya untuk menyemblih putranya yang saat itu kira-kira masih berusia 7 tahun.

Dalam sebuah riwayat ketika Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk menyemblih putranya,  Allah SWT sesungguhnya menguji iman dan taqwa beliau untuk melaksanakan perintah itu. Ismail yang kala itu sedang lucu-lucunya, sehat, cekatan seperti anak-anak seusianya dibawa oleh bapaknya ke suatu tempat di Mina. Ditengah-tengah perjalanan iblis mencoba membujuk nabi Ibrahim AS agar membatalkan niatnya, usaha iblis pun gagal. Selanjutnya yang namanya iblis tentu punya banyak cara untuk mengganggu dengan mendatangi istri Nabi Ibrahim, Hajar supaya bisa mencegah suaminya melakukan penyemblihan.

Iblis menemui Hajar. “Mengapa kau hanya duduk-duduk tenang saja, padahal suamimu membawa anakmu untuk disemblih?” rayu Iblis. “Kau jangan berbohong padaku, mana mungkin seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar. “Mengapa ia membawa tali dan sebilah pedang, kalau bukan untuk menyembelih putranya?” rayu Iblis lagi. “Untuk apa seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar balik bertanya. “Ia menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu”, goda Iblis meyakinkannya.

“Seorang Nabi tidak akan ditugasi untuk berbuat kebatilan. Seandainya itu benar, nyawaku sendiri pun siap dikorbankan demi tugasnya yang mulia itu, apalagi hanya dengan mengurbankan nyawa anakku, hal itu belum berarti apa-apa!” Jawab Hajar. Mendengar jawaban itu gagal lagi usaha dari Iblis tersebut.

Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” (QS. Ash-saffat ayat 102).

“Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-saffat ayat 102).

Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim AS dan langsung mengucapkan Alhamdulillâh sebanyak-banyaknya.

Seperti dalam dijelaskan dalam Al-Quran Surat Ash-Saffat ayat 102:

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya: Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” 

Dan ketika Nabi Ibrahim AS sudah bulat tekad dan Ismail juga menerima dengan tawakkal perintah Allah SWT tersebut dalam sebuah riwayat saat nabi Ibrahim AS menyemblih saat itu juga Allah SWT menggantinya dengan seekor qibas sebagai imbalan atas keikhlasan mereka. Peristiwa ini juga dijelaskan dalam Al-Quran Ash-Saffat ayat 107-110:

 .وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

“Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.”

سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ

“Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim.”

كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Dari kisah ini sebenarnya ada hikmah yang bisa ambil dan menjadikan sebagai pelajaran dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Azza Wajalla dengan melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Berbuat baik pada sesama makhluk ciptaan Tuhan terutama dalam hubungan sesama manusia. Manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT akan tumbuh perasaannya bahwa ia adalah hamba dari Tuhannya.

Ketaatan yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT merupakan ketaatan yang tunduk secara penuh menerima apapun yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Kita sebagai umatnya harus senantiasa mengevaluasi dan selalu memperbarui ketaatan kita kepada Allah SWT dan hendaknya selalu memohon ampunan agar kita benar-benar menjadi manusia yang bertaqwa.

Kemudian, hikmah yang bisa petik adalah semangat berbagi karena Allah SWT tanpa mengharapkan imbalan apapun seperti halnya dalam berkurban dan berhaji. Orang-orang yang berkurban pada hakikatnya berada pada tingkatan tertinggi di sisi Allah, sebab tidak ada kedudukan yang paling tinggi melebihi ketaatan kepada-Nya dalam setiap perintah-Nya, sekalipun itu mengorbankan putranya sendiri. Perintah berkurban ini juga Allah katakan dalam firman-Nya QS: Al-Kautsar ayat 2 yang artinya:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhan-Mu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).”

Artinya perintah shalat dan berkurban satu paket tidak terpisah. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” Hadits Riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah.

Dalam hal ini kita juga bisa memaknai bahwa perintah Allah SWT hanya berupa ujian keimanan kepada Nabi Ibrahim AS dan sejauh mana keikhlasan yang ditunjukkannya. Ini juga senada dengan semangat pencegahan radikalisme terorisme bahwa perintah Allah SWT menyemblih putranya bisa kita maknai berupa kiasan dalam menguji seberapa besar cinta Nabi Ibrahim kepada Allah SWT. Sekaligus menandakan bahwa Islam adalah agama yang saling berbagi terhadap sesama dan bukan mengajarkan kekerasan.

Hendaknya juga semangat berkurban ini berbanding lurus dengan semangat mencintai negeri ini dengan segala kemampuan yang kita miliki untuk mengisi pembangunan.  Dengan begitu kita semua akan merasa tentram dan damai karena saling berbagi dan mencintai antar sesama. Semoga setiap kita memiliki jiwa berbagi dan peduli setiap waktunya bukan hanya pada saat waktu tertentu. (Adi)

Pengaruh Ojek Online bagi Perekonomian Daerah

Previous article

Idul Adha, Sarana Berjihad yang sesungguhnya

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini