Opini

Moderasi Beragama di Mata Media

0

Sumber Foto : NU Online

Onriza Putra – Duta Damai Sumbar

Ditengah kecenderungan ekslusifitas beragama yang meningkat akhir-akhir ini, banyak kalangan menganjurkan konsep moderasi beragama. Tokoh-tokoh pro konsep ini secara aktif mengkampanyekannya di ruang-ruang publik maupun di ruang maya melalui ragam acara seperti diskusi, bedah buku, webinar dan sebagainya.

Pada prinsipnya, moderasi beragama ingin menarik kembali nilai-nilai yang moderat dan tidak mengandung unsur ekstrim/berlebihan, baik ekstrim kanan maupun ekstrim kiri. Salah satu unsur penting dalam mengkampanyekan ide ini adalah media.

Menurut Makroen Sanjaya (Wakil Pemimpin Redaksi RTV), terjadi pergeseran “wajah” Islam di Media Arus Utama. Saat ini program-program dakwah diisi oleh penutur-penutur agama yang populis, bukan dari islam arus utama. Dari aspek ekonomi, program-program keagamaan dianggap non profit sehingga tidak mencapai target ekonomi pemilik media. Menurutnya, program semacam ini tidak menempatkan media sebagai sumber informasi dan kontrol sosial, melainkan sebagai komersialisasi keagamaan.

Perkembangan media sosial yang semakin masif juga mempengaruhi pandangan keagamaan penggunanya. Hal ini menyebabkan terjadinya paradoks, seperti misalnya semakin mudahnya mengakses konten keagamaan, dengan sendirinya semakin beragamnya tafsir terhadap konten tersebut. Hal ini justru bisa memicu terjadinya perbedaan tafsir, jika tidak dibarengi dengan kemampuan kapasitas/keilmuan. Paradoks yang lain bisa kita lihat bagaimana media massa justru “dimenangkan” oleh gerakan populisme daripada gerakan-gerakan pro moderatisme.

Savic Ali, sebagai Direktur NU Online dan Islami.co memandang saat ini banyak media-media mainstream yang membicarakan keberagaman. Media konservatif mulai kalah dari portal keislaman dan portal umum.
Dia mencontohkan viralnya Gus Baha di kanal youtube. Savic Ali menilai ada pergeseran dimana ustadz-ustadz moderat mulai disukai pengguna internet.

Dalam usaha memenangkan “pertarungan” di jagat maya, Savic Ali menyarakan agar kita belajar dan memahami cara kerja media sosial dan menjangkau audien. Prinsip yang harus digunakan adalah konsitensi, relevansi dan kecepatan. Saat ini pengguna internet di Indonesia berjumlah 175.4 pengguna, 160.0 juta dari jumlah tersebut adalah pengguna media sosial.

Media berperan penting dalam sirkulasi publik dalam representasi agama dan dalam membingkai kontroversi agama. Seharusnya internet menjadi platform menonjol dalam mengkampayekan moderasi beragama.

Optimalisasi media publik dan internet sebagai wadah moderasi beragama sangat penting untuk kembangkan karena media adalah saluran, bahasa dan lingkungan.

Onriza Putra

Polemik Gowes Siti Nurbaya 2020 Di Tengah Pandemi yang kembali Meningkat

Previous article

Menapaki Jejak Bung Karno di Bengkulu

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini