Opini

Menapaki Jejak Bung Karno di Bengkulu

0

Sumber Foto : Dokumen Pribadi

“Bengkulu adalah negeri jang bergunung-gunung dilingkungi oleh Bukit Barisan dan merupakan kota pedagang ketjil dan pemilik perkebunan ketjil. Disamping kembang raksasanja, Raflesia Arnoldi yang lebarja sampai tiga kaki, negeri ini tidak mempunjai arti penting. Pun dalam hal persahabatan”. Begitulah catatan Soekarno tentang Bengkulu yang tercatat di Bab 16 buku Bung Karno : Penjambung Lidah Rakjat Indonesia. Buku ini adalah buku biografi sang Bung Besar yang dituls oleh Cindy Adams.

Bengkulu menjadi catatan sejarah penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Tahun 1938, tanah ini beruntung didatangi salah seorang pemikir bangsa pasca dipindahkan dari Ende, Nusa Tenggara Timur.

Sebuah rumah di daerah Anggut Atas, menjadi saksi bisu perjuangan Bung Karno selama diasingkan di kota ini. Pengasingan ini merupakan konsekuensi atas aktivismenya dalam menggelorakan nasionalisme dan anti penjajahan. Pemindahan Bung Karno ke Bengkulu ternyata diinisiasi oleh Thamrin yang protes terhadap Dewan Rakjat. Thamrin memprotes karena Bung Karno sakit keras ketika diasingkan di Ende.

Bengkulu juga menjadi kisah perjumpaan Bung Karno dengan Fatmawati. Ketika ditugaskan untuk mengajar di sekolah rakyat Muhammadiyah, Bung Karno tertarik dengan gadis muda yang merupakan anak dari pemilik sekolah tersebut. Pernikahan Bung Karno dengan Fatmawati terjadi pada tahun 1943. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Fatmawati mencatakan namanya dalam panggung sejarah dengan menjahit bendera merah putih.

Tahun 2012, saya berkesempatan mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno di Kota Bengkulu. Saat ini, rumah tersebut terletak di Jalan Soekarno-Hatta dan sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Didalamnya kita akan menemui beberapa ruangan yang dulu digunakan oleh Bung Karno seperti ruang kerja, ruang buku, ruang tamu, ranjang, sepeda dan foto-foto saat Bung Karno dan keluarga menempati rumah tersebut.

Rumah pengasingan ini didominasi oleh warna putih dengan desain sederhana namun mengobarkan semangat nasionalisme. Dengan halaman yang luas dan hijau, tempat ini sangat cocok untuk berwisata sejarah sekaligus menikmati taman-taman yang hijau.

Berkunjung ke salah satu tempat penting dalam sejarah kemerdekaan tidak hanya sekedar menikmati keindahahannya, tetapi menyerap semangat dan api kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa.

Onriza Putra

Moderasi Beragama di Mata Media

Previous article

Daftar Teroris Yang di Tangkap di Sumbar Selama Juli 2020

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini