EdukasiOpini

Menilik Syukur dari Daerah yang kurang Mujur

1

Terletak di Kabupaten Solok tepatnya di Kecamatan Hilirin Gumanti, Jorong Taratak Baru, Nagari Sariak Alahan Tigo memiliki jarak tempuh kurang lebih 5 jam dari pusat Kota Padang, Ibu Kota Provinsi Sumatra Barat. Jorong Taratak Baru Sariak Alahan Tigo dikelilingi hutan lindung yang membentang sepanjang jalan menuju pemukiman penduduk dengan jumlah KK sebanyak 76 keluarga. Tidak ada yang berbeda dengan pemukiman lainnya. Mereka disini juga memiliki sarana Kesehatan, Sarana Ibadah dan Sarana Pendidikan meskipun seadanya dan jauh dari hingar bingar perkotaan dan jalan raya.

Akses untuk masuk ke jorong Taratak Baru bisa ditempuh melalui sebuah jembatan kayu yang sudah keropos. Jembatan kayu ini  biasa dikenal dengan jembatan Rajang oleh penduduk setempat. Rajang ini hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua saja, itupun tak bisa secara berpapasan, harus bergiliran.

Jorong Sariak Alahan Tigo masih bisa dikatakan belum mampu menikmati perubahan zaman di era globalisasi ini. Berselancar di dunia maya dengan bebas, menonton video di youtube tanpa jeda. Belum bisa, karena mereka belum memiliki akses internet dan bahkan penerangan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) baru mereka rasakan pada tahun 2017 silam, hal ini dikarenakan akses jalan dan transportasi  yang sulit dan belum mamadai.

Pendidikan bagi mereka menjadi sebuah kebutuhan, menjadi penerangan dikala kebuntuan, untungnya para orang tua masih sangat semangat menyekolahkan anaknya. Salah satu sekolah yang ada di daerah ini, yakni SD N 21 Sariak Alahan Tigo yang menjadi satu-satunya sarana pendidikan formal yang mereka. Tak bisa dipungkiri, jika cuaca tidak bersahabat seperti hujan lebat, maka tak ayal guru mereka juga tidak bisa datang mengajar, karena jembatan rajang menjadi lokasi berbahaya untuk dilalui. Sungguh dengan keterbatasan seperti itu, lantas tak menyurutkan semangat mereka dalam menimba ilmu, salah satunya anak hebat ini

Namanya Fajar, siswa kelas 1 di SD N 21 Sariak Alahan Tigo ini seringkali digabung dengan kelas 3 dikarenakan siswa kelas 3 di SD ini hanya terdiri dari satu siswa saja, namun hal ini menjadi keuntungan bagi sosok seorang Fajar. Ia yang masih duduk di kelas 1 mampu mengusai pelajaran kelas 3 dari segi hitungan, perkalian bahkan Fajar memiliki hafalan surat pendek terbanyak antara siswa di Sekolahnya.

Saat ditanya sebutkan satu cita-cita yang dimilikinya, sikecil Fajar terdiam sejenak dan menundukan kepala. Sepertinya terlihat bingung dan sesekali juga menggaruk kepalanya meskipun tak gatal lalu senyum sumbringah dan memperlihatkan gigi ompong yang sekaligus menambah kepercayaan diri yang ia miliki.

“Bang Hendri, ajar boleh menyebutkan cita-cita ajar? Tapi tidak satu, ajar punya tiga cita-cita bang.” ujarnya mantap seraya menatap penuh keyakinan.

“ajar mau jadi pesepak bola seperti Ronaldo, ajar mau jadi pembalab seperti Valentino Rosi dan ajar juga mau jadi Polisi seperti Pak Pendi.” ucapnya menyebutkan nama salah seorang Polisi yang bertugas di Nagari tempat ia tinggal sebagai Babinsa.

Itulah Fajar gambaran kecil anak dari Jorong Sariak Alahan Tigo yang memiliki segudang cita-cita yang ingin dia wujudkan suatu hari. Dibalik keterbatasan sekolah yang Fajar dan kawan-kawan inginkan hanya bisa melanjutkan pendidikan saja. SD N 21 Sariak alahan tigo merupakan satu-satunya sarana pendidikan formal yang mereka miliki hingga saat ini dan memiliki 21 siswa dari kelas I hingga kelas VI.

Lalu apakah kita sudah mampu bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini?

Ditulis oleh : Hendrizal

product-image

Abyan Adam

JIKA BISA BERBEDA MENGAPA SAMA ?

Previous article

Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Dalam Konsep Toleransi, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika

Next article

You may also like

1 Comment

  1. Insya Allah fajar jadi anak yang sukses,,,aamiin

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi