EdukasiOpini

Memperkuat Peran “Mamak” Yang Pancasila

0

Masyarakat Minangkabau menggunakan garis keturunan dari ibu atau kita kenal dengan Matrilineal. Garis keturunan matrilineal dimasyarakat Minangkabau memberikan peran yang lebih besar kepada keluarga ibu, Mamak misalnya. Mamak di Minangkabau merupakan saudara laki-laki dari ibu.

Salah satu Fungsi utama dari seorang Mamak di masyarakat Minangkabau dapat diidentifikasi dari ungkapan “Anak Dipangku, Kamanakan Dibimbiang” yang artinya anak dipenuhi kehidupannya dan keponakan diajarkan cara hidup. Melihat ungkapan ini tidak salah rasanya jika kita mengedepankan peran dan fungsi mamak dalam pemberian filosofi dan pandangan hidup dalam kehidupan bermasyarakan ataupun kehidupan bernegara.

Penguatan dan pengajaran kepada generasi muda yang efektif terhadap penangkal pengaruh negatif yang ada di masyarakat Minangkabau mutlak menjadi tanggung jawab seorang Mamak. Jika seorang keponakan di Minangkabau melakukan kesalahan yang menyebabkan kegemparan di tengah masyarakat maka pertanyaan yang akan terlontar ialah “siapa mamaknya?”, “apa yang diajarkan mamak kepada keponakannya,”.

Demikian pula halnya dengan meredam pengaruh konten negatif dan konten propaganda di masyarakat Minangkabau. Secara mutlak peran dari seorang mamak harus diutamakan sebab mamak menjadi orang pertama yang harus meredam dan menghilangkan pengaruh terorisme bagi keponakannya.

Bagaimana caranya agar mamak juga mendapatkan kerangka berfikir yang pancasilais dan keanekaragaman berbangsa dan bernegara?, yang nantinya akan memperkuat peran mereka di dalam masyarakat terutama di depan anak kemenakannya. Maka dengan ini penulis memberikan rekomendasi untuk menggunakan Kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) sebagai tempat pelaksanaan pengenalan nilai Pancasila dan keanekaragaman yang target utamanya adalah mamak di Minangkabau. Pemilihan Kantor KAN sebagai tempat pelaksanaan dikarenakan kantor KAN merupakan tempat berkumpulnya para mamak di Minangkabau.

Seorang Mamak seharusnya tidak menunjukkan bahwa Masyarakat minangkabau ini eksklusif namun harus Inklusif seperti dari berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh para peneliti kebudayaan minangkabau. Mamak harus mampu memilah budaya positif dan di jadikan sebagai tambahan budaya baru di kebudayaan minangkabau itu sendiri. Seharusnya tidak muncul penolakan secara keras dari bentuk budaya lain namun di tolak dengan penguatan budaya yang ada. Namun pertanyaannya apakah Mamak di Minangkabau telah berupaya ke arah sana? Mungkin saja sudah namun sejauh yang dipandang belum menunjukkan ke arah sana.

Alangkah baiknya jika mamak tidak terlalu dalam bermain politik namun perkayalah budaya minangkabau dengan terus mengajarkan anak kemenakan kita.

Icon Baru Kota Bukittinggi Yang Ramah Lingkungan

Previous article

Bukittinggi Zero Pasien Positif Covid 19

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi