Propagandis Nazi pernah berujar:
” Kebohongan yang terus menerus diulang akan menjadi kebenaran”.

Hoax atau berita bohong memang tidak bisa kita elakkan dalam kehidupan hari ini, dengan seiring berkembangnya IPTEK maka setiap orang mampu mengakses media social dari berbagai elemen masyarakat. Mulai dari tingkat anak-anak hinggga orang dewasa bebas menggunakan media social kapan saja dan di mana saja. disadari atau tidak, hadirnya fenomena hoax ini telah melemahkan kemampuan dan dan daya pikir masyarakat untuk berfikir lebih kritis terhadap suatu hal yang diterimanya, dan kurangnya kemauan untuk melakukan pengecekkan ulang atas fakta kebenaran yang sesungguhnya terjadi.


Hoax merupakan turunan dari istilah post-truth yang berusaha memuaskan apa yang diyakini oleh masyarakat. Menurut J.A Liorente post truth merupakan iklim social politik yang di mana objektivtas dan rasionalitas membiarkan emosi ataupun hasrat memihak pada keyakinan walau meskipun fakta memperlihatkan hal yang berbeda. Era post truth hari ini, maka keyakinan pribadi memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan logika dan fakta. Sehingga post truth begitu berkembang di era masyarakat yang mengalami ketidakpuasan ataupun kekecewaan terhadap politik.

Apa yang dimunculkan oleh post truth merupakan relativasi kebenaran dengan objektivitas data, dramatisasi pesan jauh lebih penting dari pada isi pesan itu sendiri. Sehingga dalam era ini narasi-narasi yang dibangun itu selalu mendapatkan kemenangan mutlak terhadap data fakta yang ada, sehingga diharuskan untuk mengecek kebenaran fakta itu agar akurat dan tidak menyebarkan berita-berita atau informasi-informasi yang kebenarannya belum diketahui secara pasti.


Hoax adalah kabar, informasi, berita palsu atau bohong. Menurut KBBI hoax diartikan sebagai berita bohong. Menurut Wikipedia hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, namun dibuat seolah-olah benar adanya meskipun pembuatnya tahu bahwa berita tersebut tidaklah benar. Banyak alasan yang melatarbelakangi adanya hoax yang hadir di tengah-tengah masyarakat.

Baik yang hanya bermaksud bercanda, hingga sampai pada penggiringan opini terhadap sesuatu hal yang memang mungkin masih menjadi tanda tanya akan kebenarannya. Hoax biasanya lebih banyak berkembang dan bermunculan di media social yang memang tidak terdapat filter secara otomatis untuk menyaring berita-berita bohong tersebut, sehingga berita apapun yang ada akan mudah tersebar dan diterima oleh siapapun yang memang kurang ketelitiannya dalam mencari kebenaran suatu informasi.
Berangkat dari fenomena-fenomena yang ada, maka kita benar-benar dituntut untuk berfikir lebih kritis dan lebih hati-hati dalam mencerna suatu informasi, agar tak salah menyebarkan berita, atau bahkan menjadi orang yang membuat berita-berita palsu tersebut.

Maka sangat penting rasanya kita menerapkan pola pikir filsafat untuk memfilter semua hal tersebut. Kenapa harus filsafat sih? Hehe, sabar dulu. tentu ada solusi yang ingin ditawarkan untuk melawan hoax ini.
Secara umun filsafat adalah suatu ilmu yang mengajarkan manusia untuk berfikir secara logis, radikal, kritis, dan sistematis. Berfikir logis mengajarkan kepada kita untuk lebih peka terhadap dalam penalaran, lebih peka dalam membedakan argument-argument yang muncul, serta mengajarkan kepada kita untuk lebih luas dan terbuka dalam memandang sesuatu hal.

Filsafat juga mengajarkan kepada kita untuk berfikir kritis, artinya di era yang serba maju dan berkembang ini, maka berbagai informasi begitu mudah tersebar luas, maka dari itu kita harus mampu menelaah informasi-informasi tersebut dengan lebih kritis dan menelaah dulu akan kebenarannya, jadi kita tidak akan langsung menerima saja berita-berita yang ada, tanpa tahu dulu kebenarannya secara pasti.

Kemudian filsafat juga mengajarkan kepada manusia untuk berfikir radikal. Radikal disini bukanlah seperti para pelaku kekerasan yang dibayangkan oleh pikiran teman-teman ya, he. Berfikir radikal dalam filsafat artinya berfikir secara lebih mendalam terhadap segala hal. Begitu juga dengan menelaah informasi yang ada. Orang yang berfikir radikal akan mencari kebenaran dari informasi tersebut secara lebih teliti, mandalam sampai ke akar-akarnya. Agar kita mampu menjadi penerima dan penyebar informasi tersebut dengan kebenaran yang hakiki.


Maka dari hal tersebut, sudah tergambarkan bahwa karakter berfikir filsafat sangat relevan sekali untuk digunakan dalam menghambat banyak hoax yang kita terima di era modern hari ini. Di mana kecanggihan teknologi sangat berkembang pesat maka sistem informasi yang manusia terima hari ini juga tak bisa dibendung. Bahkan kalau kita kurang cermat menanggapi suatu informasi secara benar, maka akan berpotensi menimbulkan kegaduhan, perpecahan, ataupun untuk memprovokasi salah satu pihak yang tentunya hal ini akan sangat membahayakan kesatuan bangsa kita.


And the end,, What an action we should do to fix a lot of hoax? Ciahh. Tentunya dengan memahami cara pandang filsafat dan mengerti secara kaffah akan kebenaran, sesuai perspektif filsafat. Kita mungkin tidak akan bisa merubah lingkungan dengan instan, tetapi semua itu bisa kita mulai dari diri sendiri terlebih dahulu, sebelum selanjutnya kita akan mendekati lingkungan kita.

Mari sama-sama kita terapkan corak berfikir ala filsafat yang lebih kritis dalam menerima setiap informasi yang ada. Sehingga kemajuan IPTEK hari ini mampu kita manfaatkan dengan hal-hal baik yang bermanfaat, baik untuk pribadi, keluarga, lingkungan, atau bahkan nagara kita sendiri, demi terciptanya kesatuan bersama. Kalau kita menerima berita-berita yang kebenarannya belum kita ketahui pasti, maka STOP lah hanya di kita saja, jangan disebarkan kepada orang lain, yang akhirnya kita juga menjadi oknum dari penyebat hoax tersebut.

Nuraini Zainal

Memaknai Arti Sumpah Pemuda

Previous article

Maulid Nabi Muhammad dan Perubahan Pola Pikir Umat Islam

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini