EdukasiOpini

Kota Padang Dalam Bingkai Keberagaman

0

Kota Padang merupakan sebuah wilayah penduduk yang berada di garis pantai pulau Sumatera ini sejak zaman dahulu hingga sekarang telah ditakdirkan hidup berdampingan antar etnis, budaya dan agama. Tercatat dalam sejarah, sejak masa penjajahan Belanda selain etnis Minangkabau yang merupakan mayoritas, ada juga etnis Tionghoa, India, Nias dan Jawa. Beragam Etnis tersebut hidup secara berdmpingan dalam aktifitas utama yaitu berdagang. Setiap etnis selain Minang bahkan memiliki perkampungannya sendiri.

Berdasarkan data sensus penduduk dari Badan Pusat Statistik Nasional pada tahun 2010, masyarakat di Kota Padang terdapat 803.736 orang beragama Islam, 23.783 orang beragama Kristen, 2.876 orang beragama Budha, dan 145 orang beragama Hindu. Pada sensus penduduk tahun 2016, terdapat jumlah rumah ibadah yang ada di Kota Padang  yaitu sebanyak 1 Pura, 3 Vihara, 5 Gereja Protestan, 3 Gereja Katolik,  1 Klenteng, 483 Langgar, 488 Mushala serta 637 Masjid.  Dengan data tersebut membuktikan bahwa Padang merupakan sebuah kota yang majemuk. Adanya keberagaman suku, ras, budaya dan agama di Kota Padang ini tentu mengakibatkan terjalinnya sebuah Komunikasi antar Budaya dan Agama.

Jejak Panjang Tionghoa Padang: Sejak Abad ke-17 Berasimilasi hingga  Sekarang Tetap Harmonis
Festival Perayaan Cap Go Meh di Kota Padang Tahun 2018 Foto Padangkita.com

Komunikasi antar budaya dan agama merupakan suatu proses komunikasi yang terjadi antara orang-orang berbeda agama, ras, bahasa, tingkat pendidikan, jenis kelamin serta status sosial.  Menurut Steward (1974), Komunikasi antar budaya dan agama ialah sebuah proses komunikasi yang terjadi didalam suatu kondisi yang menunjukan adanya perbedaan budaya seperti bahasa, nilai-nilai, adat dan kebiasaan. Komunikasi yang dilakukan oleh pelaku yang berbeda kebudayaan cendrung memiliki karakteristik tertentu, salah satunya dalam hal kepercayaan. Kepercayaan tersebut melibatkan hubungan antara objek yang dipercayai sebagai subjektif yang diyakini oleh seorang individu.

Wisata Religi, Ini 5 Masjid dengan Arsitektur Unik di Kota Padang |  Langgam.id
Foto Langgam.id

Kota Padang dikenal banyak orang memiliki karakteristik budaya Minangkabau yang memegang teguh Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang identik dengan ajaran agama Islam. Namun dibalik itu, sejatinya masyarakat yang etnis Minang senantiasa memegang budaya lamak di awak, katuju di urang yang berarti enak bagi kita, orang lain juga senang. Hal ini mencerminkan sikap kebersamaan untuk bergaul dengan siapa saja dalam hidup bermasyarakat.

Ada juga kearifan lokal budaya Minang yang tertuang dalam ungkapan bersifat filosofis yaitu “tidak kuning karena kunyit, tidak enak karena santan” yang berarti bahwa pada prinsipnya dalam berinteraksi antara satu dengan yang lain perlu adanya koordinasi dan komunikasi untuk menumbuhkan rasa saling pengertian dan saling percaya. Selain itu karakteristik budaya Minang juga tertuang dalam pribahasa “sawah berpematang, ladang berbintalak” yang berarti segala sesuatu memiliki batas. Ungkapan ini merupakan sifat keterbukaan masyarakat Minangkabau dalam menyikapi realitas perbedaan sosial.

Meski adanya gesekan-gesekan yang membuat Kota ini dinilai intoleran berdasarkan Indeks Kerukunan Antar Umat Beragama oleh Setara Institute. Dibalik itu semua harus diakui bahwa di kota yang bersimbol bengkuang ini ada juga momen-momen yang memperlihatkan praktik-praktik toleransi yang menjunjung tinggi keberagaman serta memperlihatkan harmonisnya masyarakat dalam menjaga kerukunan.

Salah satunya terlihat melalui Padang Multikultural Festival yang dilaksanakan di Padang pada bulan Februari 2019, acara ini menampilkan pertunjukan Seni dari 10 etnis yaitu Minang, Jawa, Sunda, Batak, Mentawai, Bali, Melayu, dan Tionghoa. Edy Utama selaku Direktur Festival dan Kreator Pamfest, mengatakan bahwa acara yang diadakan merupakan upaya mempresentasikan atau menggambarkan betapa kayanya kota Padang dalam kehidupan seni dan budaya khususnya musik. Hal tersebut menjadi bukti bawah Sumatera Barat khususnya Kota Padang merupakan wilayah yang multikultural. Tentu ini merupakan rahmat bagi masyarakat dalam hidup sosial dan berbudaya secara demokratis.

Salah satu penampilan dalam Pamfest. (Foto: Rahmadi)
Foto Langgam.id

Selain itu ada juga festival Bakcang Ayam dan Lamang Baluo yang dilaksanakan di Kota Tua Padang pada tanggal 6-7 Juni 2019 lalu yang merupakan buah dari asimilasi dan akulturasi masyarakat etnis Tionghoa dan Minangkabau. Baik orang-orang Tionghoa dan Minang bekerja sama membuat festival ini menjadi meriah dengan penuh rasa suka cita hingga mendapatkan Rekor Muri. Festival ini menghidangkan sebanyak 10 ribu Bakcam Ayam dan Lamang yang diserahkan secara gratis kepada para pengunjung. Ini menjadi bukti bahwa kedua etnis tersebut menjalani hubungan dengan baik.

Pesan Keharmonisan dari Dua Etnis di Sumatra Barat

Ada juga momen dimana perayaan Imlek yang merupakan tahun baru China yang dilaksanakan etnis Tionghoa bersamaan dengan Tradisi Serak Gulo yang merupakan budaya dari etnis keling (India) yang beragama muslim di Kota Padang pada bulan Januari tahun 2020 lalu yang mana saat itu kasus Covid 19 belum ada di Indonesia.

Tradisi Serak Gulo 2020
Imlek 2020

Pada momen tersebut, terlihat bagaimana potret keberagaman di Kota Padang. Baik etnis Minang, Tionghoa dan Keling turut bersama merayakan 2 tradisi itu dengan penuh kebahagiaan. Mereka saling berkomunikasi, berfoto bersama. Tidak ada tanda-tanda adanya kerusuhan atau konflik saat acara tersebut berlangsung, ini tentu menjadi bukti bahwa masyarakat Kota Padang hidup rukun dengan memegang teguh sikap toleransi yang memiliki batasan untuk tidak mengusik atau menyentuh hal-hal sensitif berupa keimanan dalam menjalankan syariat agama.

Dalam kehidupan sehari-hari, kerukunan dan keberagaman Kota Padang terlihat dalam aktivitas berdagang masyarakat di Pasar Tanah Kongsi. Di Pasar Tanah Kongsi menjadi tempat buat para wisatawan dan masyarakat lokal untuk berburu kuliner-kuliner legend seperti Cakwe, Martabak, Talam, Lumpia, Bakpao dan Kue-kue yang dijadikan cemilan. Disana akan terlihat beberapa pedagang dan masyarakat dari etnis Minang, Tionghoa, Batak dan Nias yang melakukan tranksaksi jual beli untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selama pasar ini berdiri, lagi-lagi tidak pernah terdengar adanya konflik. Menurut penulis hal ini dikarenakan adanya kerja sama dengan aspek saling menguntungkan satu sama lain.

Makanan yang ada di Pasar Tanah Kongsi, kebanyakan Halal karena masyarakat sekitar memahami bahwasanya mereka hidup ditanah yang mayoritas umat Muslim. Apabila ada makanan yang tidak halal secara spontan pedagang akan memberitau kepada pembeli untuk tidak membeli jajanan tersebut di warung miliknya.

Salah satu suasana Pasar Tanah Kongsi yang dijadikan Vlog oleh Sherly Nola yang videonya telah diunggah melalui link : https://www.youtube.com/watch?v=KZiM7NxXzuw
Pasar Tanah Kongsi Foto Bayu Haryanto yang sebelumnya telah terbit disitus : https://www.kidalnarsis.com/2019/07/pasar-tanah-kongsi-padang.html

Dari beberapa ulasan diatas, sejatinya ini menjadi bukti kongkrit bahwa Kota Padang merupakan sebuah wilayah yang multikultural. Tempat bertemunya para etnis yang hidup rukun dalam bingkai keberagaman. Adapun gesekan-gesekan atau konflik yang terdengar dan terlihat di berita-berita di berbagai media, itu merupakan sebuah tindakan dari oknum yang justru ia bukan merupakan masyarakat yang menetap tinggal di Kota Padang. Akan tetapi perlu diakui, bahwa sebagian masyarakat masih ada yang bersifat tertutup dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda. Harapan besar penulis agar pemerintah, tenaga pendidik, ninik mamak, alim ulama serta cadiak pandai yang ada di Kota Padang turut serta memberikan edukasi bahwasanya kita merupakan bangsa Indonesia yang harus menjunjung tinggi semangat Bhineka Tunggal Ika yang mana mau menerima keberagaman tanpa menghilangkan identitas diri sebagai pemeluk agama Islam dan beretnis Minangkabau.

Ar Rafi Saputra Irwan
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. Anggota Duta Damai Dunia Maya Sumatera Barat

Hadirnya Istilah Islamphobia dan Cara Menyikapinya

Previous article

Tegas! Panglima TNI dan Kapolri Menyebut Bahwa Negara Tidak Akan Kalah Dari Kelompok Teroris!

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi