Edukasi

Kaum Milenial, Kemajuan Indonesia atau ?

0

Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y) adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Milenial pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Gen-X yang tua. Milenial kadang-kadang disebut sebagai “Echo Boomers” karena adanya ‘booming’ (peningkatan besar) tingkat kelahiran pada tahun 1980-an dan 1990-an.

Karakteristik Milenial berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Namun, generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Di sebagian besar belahan dunia, pengaruh mereka ditandai dengan peningkatan liberalisasi politik dan ekonomi, meskipun pengaruhnya masih diperdebatkan. Masa Resesi Besar (The Great Recession) memiliki dampak yang besar pada generasi ini yang mengakibatkan tingkat pengangguran yang tinggi di kalangan anak muda, dan menimbulkan spekulasi tentang kemungkinan krisis sosial-ekonomi jangka panjang yang merusak generasi ini.

Pada tahun 2012, seperti dikutip livescience.com dari USA Today, ada sebuah studi yang menunjukkan bahwa generasi millenial lebih terkesan individual, cukup mengabaikan masalah politik, fokus pada nilai-nilai materialistis, dan kurang peduli untuk membantu sesama jika dibandingkan dengan generasi X dan generasi baby boom pada saat usia yang sama. Studi ini sendiri berdasarkan analisa terhadap dua database dari 9 juta orang yang duduk di bangku SMA atau yang baru masuk kuliah.

Generasi ini bila dilihat dari sisi negatifnya, merupakan pribadi yang pemalas, narsis, dan suka sekali melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain.Akan tetapi, di sisi lain mereka memiliki sisi positif. Antara lain adalah generasi millenial merupakan pribadi yang pikirannya terbuka, pendukung kesetaraan hak (misalnya tentang LGBT atau kaum minoritas). Mereka juga memiliki rasa percaya diri yang bagus, mampu mengekspresikan perasaannya, pribadi liberal, optimis, dan menerima ide-ide dan cara-cara hidup. Majalah Time sempat mengadakan polling yang hasilnya menunjukkan bahwa generasi ini menginginkan jadwal kerja yang fleksibel, lebih banyak memiliki “me time” dalam pekerjaan, dan terbuka pada saran dan kritik, termasuk nasihat karier dari pimpinannya.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengatakan, Indonesia kini kesulitan untuk keluar dari status sebagai negara berkembang menjadi negara maju (middle income trap). Padahal, jumlah penduduk usia produktif di Indonesia sangat banyak.“Komposisi penduduk kita, tentu ini suatu harapan bahwa kita punya penduduk usia muda yang besar yaitu 90 juta milenial (berusia 20-34 tahun), total fertility rate (angka kelahiran) 2,28 (per 1.000 orang per tahun), angka kematian anak 24 (per 1.000 kelahiran), angka harapan lama sekolah masih 12,72 tahun,” kata Bambang Brodjonegoro, Kepala Bappenas di Gedung Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (14/2/2018).

Dari berbagai sumber diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dimasing-masing belahan dunia kaum milenial memiliki kesamaan dalam pola pikir dan perilaku keseharian yaitu lebih akrab dengan penggunaan teknologi dan media komunikasi, selanjutnya memiliki nilai toleransi yang lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya yang ditandai dengan mau mendengarkan masukan orang lain dan mendukung kesetaraan di tengah masyarakat luas. Hal ini menjadi modal bagi indonesia, karena diyakini generasi milenial akan merubah struktur tatanan disegala bidang suatu saat ini. Kaum milenial di indonesia lebih dari 30% dari jumlah penduduk indonesia sendiri yaitu sekitar 264 juta orang.

Kondisi indonesia saat ini, informasi bohong atau lebih dikenal dengan informasi Hoaks menjadi komoditi yang sedang diperjual-belikan dangan harga tinggi. Hal ini ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok yang bergerak di bidang media sosial yang menyebarkan berita bohong demi kepentingan segelintir orang. Hal yang sangat disayangkan kebanyakan kelompok tersebut merupakan kaum milenial yang menggunakan kepandaiannya di media sosial. Walaupun kelompok tersebut kecil dan beranggotakan sedikit saja mereka mampu menimbulkan keresahan ditengah masyarakat. Hal ini dipengaruhi oleh sifat manusia sendiri yaitu setiap individu akan jauh lebih mudah tertarik dengan berita yang merugikan atau mempunyai nilai yang lebih tinggi untuk diperdebatkan di media sosial, karena media sosial pada saat ini merupakan salah satu kebutuhan penting bagi manusia.

Bagaimanakan cara mengembangkan potensi terbesar yang dimiliki oleh indonesia saat ini yaitu kaum milenial dalam menekan berita bohong atau Hoaks.

Pertama, kaum milenial harus terus mengembangkan dirinya dalam bermedia sosial. Maksudnya adalah kenapa berita bohong mudah menginfeksi indonesia saat ini karena pemberitaan di media sosial lebih banyak ditelan mentah-mentah dibandingkan melakukan literasi media. Literasi media artinya adalah mencari kebenaran dari berita atau informasi yang didapat dari media, baik itu bedia cetak, media elektronik ataupun media sosial. Disebut dengan pengembangan diri di media sosial karena dengan makin banyak mencari informasi tambahan maka akan lebih banyak informasi yang didapat otomatis kemampuan dalam memutuskan suatu informasi yang diputuskan oleh otak manusia akan lebih baik. Sehingga lama kelamaan kaum milenial akan lebih meningkat pengetahuannya. Proses inilah yang dinamakan dengan peningkatan kemaampuan bermedia sosial.

Kedua, setiap pemberitaan di media sosial yang mengarah kepada mencela, mencaci, memaki dan menjelekkan orang atau kelompok harus dianggap sebagai berita sampah. Sampah diartikan sebagai sisa makanan atau kebutuhan manusia yang tidak bisa dipakai lagi dan hanya sebagian yang bisa didaur ulang, artinya kaum milenial jahuilah pemberitaan negatif dan buang ketempatnya sehingga tidak ada bau dan merusak pemandangan. Kaum milenial harus sadar bahwa pemberitaan negatif tidak akan mampu mengembangkan kreatifitas kita dalam bekarya positif.

Ketiga, setiap element di masyarakat harus lebih memberikan ruang kepada kaum milenial dalam berinovasi dan berkreasi dalam bekarya di segala bidang. Jika indonesia percaya bahwa kaum milenial di tahun 2020 nanti akan dapat merubah tatanan masyarakat kearah yang lebih baik maka berilah kaum milenial ruang yang sebesar-besarnya. Harus diakui bahwa sampai saat ini di berbagai bidang di pemerintahan atau perusahaan masih dihuni oleh mereka yang berumur dan hanya segelintir kaum milenial yang dapat mengisi post-post penting dan struktural. Kaum milenial dapat menjadi modal jika mereka mampu bekarya positif dan selalu mengembangkan potensi mereka disegala bidang dan akan menjadi beban nantinya jika mereka tidak mampu bekarya positif dan cenderung lebih mementingkan individu mereka. Kaum milenial hanya dapat maju jika segala lini masyarakat indonesia sepakat bahwa pemuda adalah penerus kejayaan indonesia dan mau memberikan kesempatan kepada pemuda dalam bekarya positif.  Bentuk karya positif ini oleh kaum milenial Indonesia lebih lanjut dapat di sebut dengan bela negara ala kaum milenial Indonesia.

Air Mata Wisatawan Muslim China Ketika Shalat di Mesjid Raya Sumbar.

Previous article

Sembilan Pernyataan SETARA Institute Mengenai Isu Eks-ISIS

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi