Opini

Islam Dan Adat Di Ranah Minang Tidak akan Padam

0

Di masa lalu sebelum Islam masuk keranah minang dan sebagian besar Sumatera yang dimulai dari ujung Sumatera yaitu Aceh. Menurut bukti sejarah yang ada Minangkabau dimasa itu hanya ada satu kerajaan yaitu kerajaan pagaruyuang yang bercorak kerajaan budha. Namun belum ditemukan kepastian kapan “ranah Minangkabau” mulai memeluk agama islam.

Menurut Tambo pun, Islam sepertinya sudah ada sebelum nama Minangkabau itu ada di wilayah kerajaan Pagaruyung ini. Dimana Minangkabau menurut Tambo dimulai pada masa kerajaan Pagaruyung yang akan ditaklukkan oleh kerajaan Majapahit pada waktu itu. Dimana kekuatan tempur kerajaan Pagaruyung yang sangat minim maka di carilah akal agar bisa memenangkan pertarungan dengan menggunakan adu kerbau sebagai alat pertarungan.

Jika merujuk Pada Tambo, nenek moyang masyarakat Minangkabau berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain. Kisah di dalam Tambo ini juga terdapat pada hikayat Sulalatus Salatin. Dalam hikayat itu tertulis bahwa masyarakat Minangkabau pernah mengutus wakilnya untuk meminta Sang Sapurba (seorang keturunan Iskandar Zulkarnain) untuk menjadi raja mereka.

Kisah ini diragukan kebenarannya oleh para ahli karena terdapat kontradiksi. Maksudnya, kalaupun benar Sang Sapurba datang untuk menjadi raja, kenyataannya kawasan tersebut telah membentuk kelompok masyarakat yang sudah pasti memiliki nenek moyang.

Saat ini, mayoratis agama masyarakat Minangkabau adalah Islam. Sebelum itu, mereka diyakini memeluk agama Budha karena pengaruh dari kerajaan Sriwijaya. Masuknya agama Islam ke kawasan tersebut diperkirakan melalui pesisir timur, bergerak dari daerah Inderagiri dan Arcat (Aru dan Rokan) yang saat itu telah menjadi pelabuhan Minangkabau ke arah pedalaman Minangkabau.

Dalam Sejarahnya, masyarakat Minang pernah mengalami perang saudara. Hal ini dipicu oleh konflik antara ulama dan pengikutnya yang bersikeras menerapkan hukum Islam dengan para kaum adat. Perang tersebut kemudian dikenal dengan Perang Padri. Perang Padri adalah perang saudara pertama di Asia Tenggara yang dipicu oleh konflik Agama.

Setelah konflik antara kaum adat dan agama itu berakhir tidak ditemukan lagi konflik yang serupa di Sumatera barat. Pada akhirnya muncullah istilah adat yaitu “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” di ranah Minang. Artinya filosofi adat ini muncul karena mencari jalan keluar yang tepat dari permasalahan yang muncul pada waktu itu.

Sehingga setelah perang Padri berakhir makin ramai lah mesjid-mesjid, mushallah dan surau-surau di ranah Minang pada waktu itu. Sampai saat inipun masih banyak mesjid yang ramai di ranah Minang dan tidak ada kekhawatiran dari penduduk Sumatera barat bahwa Islam akan hilang dari ranah minang.

Namun sayangnya, para aktor politik di Sumatera barat banyak memakai filosofi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah ini sebagai alat politik untuk mencari suara yang membuat seolah Sumatera barat ini sebagai daerah yang ekslusif secara tatanan masyarakat. Sampai ada istilah yang muncul bahwa “orang Minangkabau pasti berapa islam” sampai pada penolakan pemerintah Sumatera barat terhadap Injil berbahasa Minang yang sangat menyita perhatian masyarakat Indonesia.

Di era perkembangan zaman seharusnya setiap golongan masyarakat mampu membuka diri dan menyesuaikan diri pada zaman bukan menolak perkembangan zaman itu. Budaya bukan hanya untuk dipertahankan namun budaya itu ada untuk di isi dan diperkaya agar budaya tersebut dapat mendunia.

Islam tidak akan pernah hilang dari sumatera barat dan ranah Minang, karena Islam sudah mendarah daging di negeri ini. Jangan takut dengan budaya asing namun jadikanlah budaya asing sebagai referensi untuk menduniakan budaya Minangkabau.

Gusveri Handiko
Blogger Duta Damai Sumbar Tamatan Universitas Andalas Padang Menulis Adalah Salah Satu Cara Untuk Berbuat Baik

    Puasa Berbagai Agama

    Ditulis Oleh Husnul Hayati

    Previous article

    Puasa Pasien COVID

    Ditulis Oleh Husnul Hayati

    Next article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in Opini