Edukasi

Ibrah dari Peristiwa Isra’ Mi’raj Masa Kini

Ditulis oleh Husnul Hayati

0

Tepat pada hari ini Kamis, 11 Maret 2021, umat Islam merayakan peristiwa penting yaitu Isra’ Mi’raj. Isra’ Mi’raj merupakan sebuah  peristiwa penting yang terjadi dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.  Dalam Isra’ Mi’raj ini Rasulullah SAW diperjalankan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Madinah. Setelah itu Rasulullah SAW diperjalankan menuju langit ke tujuh kemudian ke Sidratul Munthaha. Dalam perjalan Isra’ Mi’raj ini Rasulullah SAW mendapatkan perintah secara langsung dari Allah SWT untuk melakasanakan perintah sholat 5 waktu.

Dibalik peristiwa Isra’ Mi’raj terdapat dua peristiwa besar yang dialami oleh baginda Nabi, yakni meninggalnya istri Nabi Muhammad SAW yang bernama Siti Khadijah. Khadijah semasa hidupnya selalu mendukung perjuangan dan perjalanan dakwah baginda Nabi dalam susah maupun senang, kepergian Khadijah membuat baginda Nabi merasakan kesedihan yang teramat mendalam, terlebih pada tahun yang sama sang paman, Abu Thalib juga pergi meninggalkan baginda Nabi untuk selama-lamanya. Abu Thalib merupakan paman yang sejak kecil ditunjuk oleh kakeknya untuk mengasuh dan yang paling menyayangi serta selalu melindungi Rasulullah SAW.

Ketika dua sosok terdekat dengan Nabi Muhammad SAW wafat, nabi saat itu mengalami kesedihan yang dikenal dengan tahun ‘Ammul Huzni’ yaitu tahun duka cita. 

Disituasi yang lain, masyarakat Mekkah saat itu juga sedang mengalami keterpurukan ekonomi dan social. Dimana akses mekah ditutup dan dibatasi dalam berbagai macam sector oleh pemegang kekuasaan di Mekkah.

Banyaknya cobaan yang menimpa baginda Nabi, kemudian Allah memberikan penghiburan yang luar biasa bernama Isra’ Mi’raj. Salah satu tujuan dari peristiwa ini ialah menguatkan pribadi Rasulullah yang kala itu pada masa yang sangat sulit luar biasa.

Dalam hal lain diperjalankannya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada malam hari dengan kendaraan buraq, kemudian dinaikkan ke Siddratul Munthaha langit ke tujuh dibelah dadanya dan disucikan hatinya dengan air zamzam adalah ditunjukkannya kebesaran Allah.

Lalu apa makna yang berelaborasi dengan kehidupan kita saat ini?

Pertama, perjalanan baginda Nabi dengan buraqnya pada malam hari dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Madinah (Palestina). Kedua kiblat umat Islam ini dahulu sangat satu, dalam kepemimpinan baginda Nabi, ironisnya saat ini justru rakyat Palestina masih berjuang pertumpah darahan dalam memperjuangkan kemerdekaannya. Bahkan Masjid yang pernah menjadi kiblat umat Islam itu, kini diakui oleh zionis Israel sebagai miliknya yang merupakan keturunan Yahudi. Dalam konteks yang paling spesifik konflik antara Palestina dan Israel saat ini menjadi latar dari sejumlah peristiwa kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan Islam.

Kedua, dibasuhnya dada Rasulullah denga air zamzam merupakan pentingnya nilai suci dan kebersihan dalam beragama Islam. Bersif fisik dan pikiran menjadi landasan seseorang dikatakan beriman kepada Allah SAW. Dalam konteks ‘beriman’ disini kita sebagai seorang muslim hendaklah pandai dan cakap dalam memilah-milah yang masuk dan keluar dari dalam tubuh kita. Jika dikaitkan dengan saat ini, kebanyakan dari kita kurang cakap dan bijak dalam menggunakan media social. Dengan seenaknya membagikan sesuatu tanpa menyaring terlebih dahulu, dengan seenaknya membagikan berita hoax. Sebagaimana kita tahu dalam konteks ‘beriman’ apapun yang kita lakukan selama didunia kelak akan dipertangung jawabkan oleh masing-masing kita.

Ketiga, perjalanan menuju langit ke tujuh Sidratul Munthaha dengan mendapatkan perintah Sholat. Perintah Sholat yang tadinya 50 kali dalam sehari menjadi 5 kali sehari, dapat dimaknai sebagai  bukti bahwa Islam merupakan agama yang dapat menerima secara fleksibel. Bahkan Allah, Dzat yang Maha Esa tidak keberatan dengan pengurangan perintah sholat yang dimohonkan Rasulullah SAW untuk ummat-Nya. Dalam konteks saat ini, Islam merupakan agama yang sangat menjujung tinggi nilai keterbukaan, dimana saling menerima satu sama lain dikenal dengan toleransi.

Peringatan Isra’ Mi’raj menjadi momentum bagi umat Islam dalam menyucikan diri dan membersihkan dari paparan hoax di dunia maya. Pada moment ini menjadi modal sebagai mengingat kembali dan memperkuat persatuan bangsa dalam melawan radikalisme. Pola piker radikal yang sebelumnya pernah hadir, harusnya dibersihkan dan menelaah secara rasional agar mendapatkan benang merahnya. Mari sama-sama dalam memberantas hoax di dunia maya, memerangi perilaku radikal dan intoleransi, karna perilaku buruk inilah yang membuat dunia menjadi perpecahan.

Isra Mi’raj dan Semangat Damai Dalam Keberagaman

Previous article

Bermedia Sosial Dengan Bijak

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi