Gambar : Kompasiana.com
Gambar : Kompasiana.com

Hidup di negara yang kaya akan suku, budaya dan agama pastinya sebagai warga negara yang baik kita harus bersikap menghargai satu sama lain serta mengedepankan rasa keterbukaan untuk menerima sesuatu hal yang berbeda. Perbedaan identitas dalam suatu wilayah bukanlah kehendak suatu golongan, akan tetapi hal itu merupakan kodrat dari yang maha kuasa agar hambanya dapat belajar bagaimana cara menghormati serta hidup berdampingan satu sama lain.

Untuk itu, setiap insan manusia agar dapat hidup rukun pastinya harus memiliki rasa toleransi supaya konflik dan perpecahan antar individu maupun kelompok tidak terjadi. Ini merupakan kunci utama perdamaian yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari tentunya.

Kebanyakan orang menyikapi makna “Toleransi” dengan sebuah untaian tindakan berupa setiap orang tidak perlu menganggu umat yang berbeda. Ada sebuah istilah “Aku minum kopi, kamu minum teh. Kita menikmatinya bersama, namun janganlah kamu mencampur kopi ku dengan teh mu begitu juga sebaliknya” . Kata-kata ini diartikan sebagai sebuah sikap dalam bertoleransi, yang mana silahkan beribadah menurut kepercayaan masing-masing akan tetapi janganlah kamu mengusik kepercayaan ku, begitu juga sebaliknya.

Sepintas ungkapan tersebut sebenarnya tidaklah salah, namun dalam beberapa kondisi hal itu justru membuat pikiran seseorang menjadi tertutup karena terpaku sama apa yang mereka imani tanpa mengetahui sedikit tentang apa yang menjadi ajaran dari umat lain. Nantinya ditakutkan ketika mereka secara kebetulan bertemu dalam ruang lingkup diskusi, kedua belah pihak tetap kukuh dengan argumen yang berdasarkan ajaran yang mereka imani masing-masing tanpa mengerti bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Hal tersebut tentu akan memicu adanya miss komunikasi antar agama yang pastinya akan mengundang konflik.

Toleransi sejatinya bukanlah hanya sebuah sikap untuk menghormati dan menghargai, akan tetapi juga menuntun bagaimana cara kita bergaul dengan mereka yang berbeda latar belakang baik suku, budaya, agama dan ras. Lalu bagaimanakah tips menjadi pribadi yang lebih toleran?

  1. Senantiasa Membuka Komunikasi Dengan Orang Yang Berbeda

Komunikasi merupakan suatu aktivitas penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak yang lain, untuk itu dalam menyampaikannya alangkah lebih baik kamu mencoba secara perlahan-lahan dengan orang yang memiliki latar belakang yang berbeda. Bisa berupa sebuah ide,gagasan bahkan pendapat terhadap suatu fenomena-fenomena yang tengah terjadi. Disana kamu akan mendengarkan tanggapan dari sudut pandang yang tidak sama. Perlu diingat dalam melakukan hal ini, kamu harus secara arif dan bijaksana menerima sebuah argumen yang menurutmu itu tidak benar, disitulah nantinya secara tidak sadar akan melatih dirimu untuk tidak egois.

2. Perbanyaklah Membaca Serta Mencari Tahu Sedikit Banyaknya Ajaran Umat Lain.

Seseorang mudah terpancing amarah ketika ia hanya mengetahui apa yang ia ketahui sendiri. Sedangkan ketika kamu banyak membaca serta mencari tahu ajaran umat lain, kamu nantinya akan lebih mudah menerima pendapat serta mengerti kepercayaan orang lain. Disini penulis bukan bermaksud membuat sahabat damai untuk mengubah keyakinan ya, akan tetapi ini melatih kamu agar nantinya dapat lebih memahami sudut pandang orang lain tanpa didasari streotip atau sentimen belaka. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari tindakan saling menyalahkan antar umat.

3. Jangan Menelan Mentah-Mentah Segala Informasi Yang Masuk Meski Menggunakan Dalil-Dalil Agama

Saat ini kita mudah sekali menerima informasi yang tidak jelas siapa sumber pertamanya, yang lebih parah lagi dengan adanya informasi berupa kebencian dengan atas dasar agama, Hal itu memicu adanya perilaku intoleran. Ketika ada sebuah media yang meliput tentang kelompok tertentu, jangan lantas berprasangka atau menjustifikasinya meskipun disana tertulis dalil-dalil agama. Jika hanya melihat sekilas alangkah lebih baik menahan diri. Karena penulis beragama Muslim, penulis menyarankan ketika ada informasi kebencian yang menggunakan ayat atau dalil-dalil agama, alangkah lebih baik kita harus mencari tau lebih dalam dahulu mengenai Asbabun Nuzul serta Tafsirnya agar tidak terjebakserta menghindari adanya perilaku menyimpang dari ajaran yang kita imani.

Nah sahabat damai, itulah 3 tips utama menjadi pribadi yang toleran, apakah sahabat damai punya tips lain? silahkan beri pendapatnya dikolom komentar ya ! Mohon maaf jika ada kesalahan kata.

Ar Rafi Saputra Irwan
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. Anggota Duta Damai Dunia Maya Sumatera Barat

Kikan Namara Kembali Menjadi BA Duta Damai

Previous article

Rakornas Duta Damai 2021, BNPT Tunjuk Putri Indonesia sebagai Duta Damai Kehormatan

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi