Tak Berkategori

WASPADAI AGAMA NUJUM

0

Waktu sore yang menegangkan. Orang-orang bergerak menuju rumah kosong setelah pencuri kotak dana lari ke dalam bangunan angker untuk bersembunyi.

Tidak ada puja bakti hari itu sebab seluruhnya pergi mengejar pencuri laknat yang lancang mencemari rumah suci dengan perbuatannya yang keji.

Pencuri sialan!

Dia harus ditangkap dan diadili!

Rombongan massa itu saling sahut-menyahut, menumpahkan sumpah serapah, sesekali salah satu di antara mereka berteriak-teriak

Mereka makin dekat. Semerbak kemenyan dibawa angin dari arah rerimbunan pepohonan di halaman rumah angker.

Rumah bau kemenyan. Konon sering ada penampakan wanita yang melayang-layang mengitari rumah. Ia terbang sambil tertawa cekikian.

Namun, kali ini siapa yang peduli bau kemenyan? Siapa yang peduli penampakan hantu wanita? Orang beramai-ramai. Bahkan di dalam rombongan itu ada Romo, mana mungkin wanita itu berani menampakkan diri?

Bau kemenyan makin kental. Kian menusuk hidung. Wangi sekaligus mendatangkan ketenangan yang mengerikan. Tak berapa lama kemudian orang-orang telah sampai di halaman rumah.

“Om mani padme hum!” Romo mengucap. Pandangannya menatap tajam ke awang-awang. Sementara umat yang lainya senyap. Beberapa gemetaran, ada juga yang mulutnya sampai menganga.

Perempuan itu muncul, melambung-lambung di antara dua pepohonan rimbun.

“Mengapa tak ke vihara? Mengapa tak mengumandangkan sutra?” sergah wanita yang wajahnya tertutup rambut panjang.

“Kami mau menangkap pencuri kotak dana!” jawab Romo sedikit gemetar.

“Tidak bisa! Dia mencari perlindungan di rumah kami! Wajib bagi kami untuk melindunginya!”

“Setan terkutuk! Sudah terkutuk, sukanya membela bandit yang kelakuannya terkutuk!”

“Kamu lebih terkutuk! Kalian semua terkutuk!” Lecutan kata itu diiringi tawa cekikikan. Bau kemenyan bertebaran.

“Biar aku bacakan kamu mantra! Lekas-lekaslah enyah kamu dari sini!”

Romo membacakan mantra terkuat. Umat ikut bersama-sama. Dengung suara mantra terdengar bagai segerombolan lebah.

Tak lekas pergi, wanita itu malah menirukan bacaan mantra secara fasih.

“Bagaimana bisa mantra suci itu menghiasi lisanmu, bahkan tiap hari kamu membaca berpuluh ratus ribu kali, tapi tak satu pun yang terselip di hati?” ucap wanita yang kini duduk di atas dahan pohon beringin.

“Apa maksudmu, setan busuk?”

“Aku tahu siapa si pencuri kotak dana. Dia cuman anak-anak. Dia yatim. Kini bertambah jadi piatu. Ibunya baru saja meninggal seminggu yang lalu. Tanah kuburannya masih basah lalu kini kalian mau memukulinya? Bagaimana bisa penderitaan anak ini luput dari jangkauan kalian?”

Semua terdiam. Romo makin jengkel.

“Tapi, bukan berarti dia boleh mencuri!”

“Kamu mengumumkan kas vihara yang puluhan juta itu melalui poster di dinding. Sementara anak ini kelaparan. Hidupnya kini sebatang kara! Lalu ke mana saja kas yang puluhan juta itu? Mengapa yang kalian pentingkan hanya pembangunan vihara saja?”

“Kalau viharanya bagus dan nyaman, puja bakti jadi tenang.” Romo masih membela diri meski nada bicaranya makin melunak.

“Vihara kalian makin megah, makin nyaman, tapi, Bodhisatva yang kalian sembah itu sedih, kecewa, sedang kalian tak mau menggubrisnya.”

“Kurang ajar! Beraninya kamu merendahkan Bodhisatva. Mana mungkin Bodhisatva sedih dan kecewa!” Romo kembali menaikkan suara. Telunjuknya mengacung ke atas, tasbihnya terlihat melilit di pergelangan tangan.

“Dalam setiap mahluk yang kelaparan dan kehausan, Bodhisatva begitu mengasihani. Apa kalian tak pernah mengasah hati nurani?” Wanita itu kembali cekikikan.

Perkataan terakhir wanita itu membuat hati Romo melunak secara mendadak. Dahulu, di buku sutra, ia kerap membaca hal tersebut. Mengapa kini ia malah melupakannya?

Tertunduk Romo dalam-dalam. Betapa menyesalnya ia kini.

Bau kemenyan semakin tidak wajar. Makin membuat pusing dan mual. Beberapa yang tidak kuat menghirup aroma kental itu akhirnya lemas dan pingsan. Romo pingsan paling akhir.

*

“Pak, bangun! Sudah sore. Ayo ke vihara.” Bu Romo membangunkan suaminya yang tertidur.

Buru-buru Romo ke vihara dan mengecek kotak dana. Masih pada tempatnya. Pucat muka pria sepuh itu karena mimpi yang terus berkelebat di benaknya

Usai puja bakti, Romo dan beberapa umat membongkar kotak dana. Dari hasil yang didapat, sebagian dialokasikan untuk pembangunan, sebagian untuk kesejahteraan umat.

Esok hari, Romo buru-buru membeli sembako dengan uang kotak dana, ditambah uang pribadinya. Ia mendatangi rumah anak yatim yang ada di dalam mimpi.

Tersuruk-suruk langkah Romo membopong sekarung beras dan menenteng bingkisan. Beberapa umat menawarinya bantuan untuk membawakan karung beras, tapi Romo menolak.

“Ini adalah kelalaianku! Aku membiarkan umatku anak yatim itu kelaparan. Aku sendiri yang harus memikulnya!” Sesampai di depan gubuk tua dan reyot di pinggir sungai, buru2 Romo dan umat dg bangga membuka pintu gubuk yg hampir roboh itu, dan…… apa yg mereka saksikan,….. Yatim piatu itu telah terbujur kaku di atas karpet lusuh sambil memegangi perutnya… di hadapannya ada buku sutra kecil yg masih terbuka pada tulisan “SEMOGA SEMUA MAHLUK HIDUP BERBAHAGIA”…

Suyadi

Ramadan Berbuka Bersama dalam Kebersamaan

Previous article

Kegamangan Tenaga Kesehatan

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *