Opini

Vaksin Covid-19 Dan Narasi “Kebodohan”

0

Beberapa waktu yang lalu presiden Joko Widodo Memulai hari dengan melakukan suntik vaksin sinovac. Hal ini juga menandai bagaimana seorang kepala negara yang mau pasang badan ketika muncul keraguan dari masyarakat indonesia tentang vaksin yang dibeli oleh pemerintah indonesia. Bagaimana tidak banyak narasi di media online dan media sosial terkait framing buruk vaksin sinovac tersebut.

Hal yang paling santer di framing adalah bagaimana bisa indonesia membeli sinovac padahal pemerintah tingkok yang merupakan negara asal sinovac membeli vaksin dari negara lain. itulah framing bodoh yang dibangun di tengah masyarakat, entah siapa yang membangun narasi tanpa ilmu pengetahuan itu namun yang pasti mereka adalah kelompok yang senang akan pandemi yang terjadi saat ini.

Padahal pemerintah telah menjawab bahwa hanya produsen sinovac yang mampu memberi jaminan pada indonesia untuk shering informasi dan alih teknologi untuk pembuatan vaksin covid-19. Bagaimanapun pemerintah melalui lembaga terkait dan beberapa inluencer di media sosial juga telah menyampaikan bahwa virus covid-19 terus berubah pola dan variannya dan tidak ada jaminan bahwa akan berhenti pola variasi virus tersebut. Dan kemungkinan untuk di indonesia hanya sinovac yang cocok untuk negara indonesia.

Ada Lagi hal yang viral setelah jokowi melakukan vaksinasi covid-19 yaitu viralnya video angggota dewan dari fraksi PDI-P tentang penolakannya pada vaksin sinovac. Dengan menyampaikan narasi kebodohan pada rapat tersebut. Anggota Komisi IX DPR Ribka Tjiptaning menjadi sorotan setelah menolak divaksinasi COVID-19. Sebelum terjun ke politik, Ribka berprofesi sebagai dokter. Hal ini tentunya tidak datang dari mantan dokter yang mengetahui bahwa masyarakat awam banyak yang tidak paham dengan bahasa kedokteran menjadi terprofokasi akan vaksin ini dengan melihat dan mendengan ucapan dari mantan dokter sekaligus seorang politikus senior.

secara bahasa orang awam bahwa vaksin itu lebih disebut sebagai baju hangat yang melindungi tubuh manusia dari dinginnya terpaan malam. Artinya baju hangat tersebut hanya berguna jika kondisi dingin dan tidak akan berguna ketika kondisi sedang panas. inilah vaksin itu jika di ibaratkan, namun sebagian masyarakat indonesia yang vokal beranggapan bahwa vaksin itu harus bisa berguna pada semua kondisi. inilah kekerdilan sebagian nitizen maupun para pelaku politikus yang kaya dengan sensasi di indonesia.

Indonesia tidak butuh politikus namun indonesia butuh seorang negarawan, indonesia tidak butuh orang pintar namun indonesia butuh orang yang cerdas dan indonesia tidak butuh nitizen yang banyak bicara namun indonesia butuh nitizen sedikit bicara dan banyak bekerja.

Indonesia harus bisa berubah, mungkin tidak secara frontal namun secara perlahan-lahan seiring dengan tuntutan zaman. tidak ada ruang untuk mereka yang hanya banyak bicara keburukan orang lain namun hanya akan ada ruang bagi mereka yang berbicara tentang kebaikan dan prestasi orang lain.

Gusveri Handiko
Blogger Duta Damai Sumbar Tamatan Universitas Andalas Padang Menulis Adalah Salah Satu Cara Untuk Berbuat Baik

    Sejuta Doa Untukmu Kekasih Allah….

    Previous article

    Melalui Jokowi dan Raffi Ahmad, Vaksin Covid-19 Di Edukasi ke Indonesia

    Next article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in Opini