EdukasiOpini

Toleransi Antar Umat Beragama, antara Kenyataan Atau Mimpi?

0

Toleransi secara bahasa berasal dari bahasa latin “tolerare”, toleransi berarti sabar dan menahan diri. Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Contoh sikap toleransi secara umum antara lain: menghargai pendapat mengenai pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, serta saling tolong-menolong antar sesama manusia tanpa memandang suku, ras, agama, dan antar golongan.

Istilah toleransi mencakup banyak bidang. Salah satunya adalah toleransi beragama, yang merupakan sikap saling menghormati dan menghargai antar penganut agama lain, seperti:

  1. Tidak memaksakan orang lain untuk menganut agama kita;
  2. Tidak mencela/menghina agama lain dengan alasan apapun; serta
  3. Tidak melarang ataupun mengganggu umat agama lain untuk beribadah sesuai agama/kepercayaannya.

Toleransi hari ini masuk pada tahap yang mengkhawatirkan. Kepentingan politik praktis dengan membawa segmentasi keyakinan bisa membawa malapetaka. Menurut Kiai Hasyim Muzadi, kerukunan dan toleransi antarumat beragama di RI harus diperkuat dan terus dipupuk. Konstruksi toleransi agama harus dibangun melalui dialog dan keterbukaan antaragama. Hampir setiap doktrin agama memberikan ruang atau tempat bagi nilai-nilai universal kemanusiaan yang dapat digunakan semua agama untuk saling membantu dan bekerja sama. Kiai Hasyim berpandangan ada lima tahapan terciptanya to­leransi antar umat beragama. Fase Pertama, tiap-tiap agama berjalan sendiri-sendiri. Setiap umat beragama hanya memikirkan kepentingannya dalam lingkup kepentingan sempit pada fase ini tidak mungkin terjadi toleransi.

Fase kedua, tiap-tiap agama sibuk dengan urusannya sehingga tak ada ruang bagi umat beragama peduli urusan umat lain. Pada tahapan ini juga kerukunan dan toleransi tidak terwujud. Fase Ketiga, perjumpaan antara agama dan agama lain dengan menonjolkan perbedaan. Karena mereka bertemu dan menonjolkan perbedaan, yang terjadi justru saling menyalahkan dan mempertajam permusuh­an. Tahapan ini disebut apologetic predatorial. Pada tahapan ini, alih-alih terwujud toleransi, justru terjadi permusuhan. Fase keempat, agama berjumpa dengan agama lain dalam lingkup sosial, budaya, dan kemanusian. Pada fase ini umat beragama sudah tidak lagi berbicara perbedaan doktrin, tetapi nilai-nilai universal dan kemanusian yang diperjuangkan setiap agama. Perjumpaan lintas agama yang dilandasi niat mencari solusi masalah sosial dan kemanusiaan akan bermuara titik temu yang konstruktif. Setiap agama akan bersepakat melakukan kerja sama.

Tahapan ini disebut fase koeksistensi. Suatu tahapan ketika para pemeluk agama yang berbeda keyakinan hidup berdampingan dan melakukan aksi memberi pesan pentingnya perdamaian dan kesejahteraan. Fase Kelima, tahapan perjumpaan agama dengan agama lain dengan niat saling menghidupi. Tahapan ini disebut proeksistensi. Proeksistensi merupakan semangat hidup bersama secara dinamis dan harmonis di tengah kemajemukan dan perbedaan dengan mengedepankan visi kerja sama pemberdayaan ekonomi. Dalam pandangan Kiai Hasyim Muzadi, konstruksi toleransi pada tahapan ini berfokus visi pemberdayaan ekonomi sehingga toleransi tidak cukup hanya membiarkan pemeluk agama lain ada (koeksistensi), tapi lebih dari itu, memberdayakan dengan berpartisipasi aktif.

Harus diakui indonesia belum sampai ke tahap ke 5 dalam penumbuhan toleransi. Dari pemberitaan yang beredar masih kepada tahap ke 3 walaupun tidak bulat di angka 3 artinya masih ada mengarah ke fase ke 4/5 namun hanya sebagian kecil. dan harus di akui Parpol dan ormas menyumbang keadaan toleransi di indonesia tidak mengarah kearah yang lebih baik. Munculnya parpol yang identik dengan agama tertentu memberi pengaruh negatif bagi sentimentil negatif pemeluk agama lain. hal yang tidak jauh beda juga di sumbang oleh ormas keagamaan yang sudah mengarah ke panggung politik.

Selama panggung politik indonesia tidak mengarah kepada kepantingan bersama dan hanya kepada kepentingan kelompok jangan pernah berfikir toleransi akan bisa di wujudkan di indonesia namun bukan tidak mungkin jika toleransi menjadi bahan ajar wajib di bangku sekolahan sama halnya dengan pembelajaran bahaya Radikalisme. mungkin bisa disatukan menjadi mata pelajaran/mata kuliah “Bela Negara”.

Kritik Hari Peringatan Bela Negara Di Sumatera Barat

Previous article

Membangun Resilience Generasi Muda Bangsa Sejak Usia Dini: Kepala BNPT Suhardi Alius

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi