Penulis Sitti Faizah

Pada hakikatnya, toleransi itu bukan barang asing. Karena sejak dulu, nenek moyang kita telah menjadikan toleransi sebagai (prinsip hidup) di dalam berbangsa dan bernegara. Jadi, ketika kita alergi dengan toleransi, maka secara tidak langsung, kita telah alergi terhadap prinsip hidup atau garis perjuangan para nenek moyang kita di dalam memerdekakan negeri ini. Karena, sejak dulu, toleransi adalah kunci Indonesia bisa merdeka.

Oleh karena itulah, di tahun 2022 nanti, kita perlu menyongsong Indonesia. Untuk bisa kembali ke khittah atau garis perjuangan Indonesia dengan wajah yang tolerant itu. Baik secara sikap, tindakan atau-pun cara berpikir yang mengacu kepada toleransi itu sendiri.

Karena, toleransi itu bukan sesuatu yang baru di negeri ini. Melainkan sebagai basis aturan etis di dalam berbangsa dan bernegara yang sejak dulu telah tertanam menjadi kultur sosial yang selalu dipraktikkan. Karena, yang baru atau bisa dikatakan sebagai “barang asing” di Indonesia itu adalah sikap intolerant, kebencian dan konflik-permusuhan antar umat beragama.

Sebab, kemerdekaan Indonesia saja, bisa terbangun karena ada spirit toleransi yang menjembataninya. Misalnya, para pahlawan bangsa itu hadir dengan kondisi (latar-belakang) sosial yang berbeda. Baik secara agama, etnis, suku atau-pun bahasa.  Karena, mereka-mereka ini adalah (nenek moyang) kita yang berjuang di negeri ini agar menjadi negara Indonesia yang aman, damai dan nyaman.

Kita harus sadar. Bahwa, Indonesia itu adalah kita yang majemuk ini. Karena, nenek-moyang kita di masa lalu, tidak serta-merta mengedepankan identitas personalnya untuk berjuang sendiri-sendiri untuk kemerdekaan Indonesia ini. Tetapi, mereka berjuang bersama-sama untuk bangsa ini dengan membawa spirit toleransi sebagai garis perjuangan bersama untuk melawan para penjajah.

Jadi, marilah kita di tahun 2022 ini untuk bisa mengembalikan khittah Indonesia ke garis perjuangan yang tolerant. Tentunya, Indonesia adalah (kita). Jadi, secara kultural, kita bersama-sama sebagai warga Indonesia untuk bisa memiliki garis perjuangan yang sama. Yaitu menjalani kehidupan sosial yang penuh toleran dan harmonis satu sama lain.

Karena yang menjadi polemik di tahun-tahun sebelumnya, toleransi selalu diperdebatkan. Bahkan, diragukan dan selalu dibenturkan dengan prinsip-prinsip keagamaan. Padahal, toleransi itu adalah sikap (kebijaksanaan) diri yang hadir atas dasar perenungan dan pemahaman keagamaan yang berupaya untuk mencari titik-titik maslahat dan manfaat bagi kehidupan sosial.

Jadi, di tahun 2022 ini sebetulnya kita perlu menyongsong spirit untuk bisa kembali ke ajaran leluhur. Dalam arti pemahaman, kita perlu kembali ke dalam nilai-nilai leluhur bangsa ini. Yaitu pola hidup yang penuh dengan toleransi. Sebagaimana, kita bisa berbicara, bersikap, bertindak atau-pun ber-kerakter yang selalu mengedepankan nilai-nilai toleransi itu. Baik secara online atau-pun secara offline.

Sebab, saya meyakini betul. Bahwa, Indonesia tidak akan pernah merdeka dan mampu melawan penjajah tanpa ada prinsip toleransi yang mendasarinya. Karena, dengan toleransi inilah mereka tidak mau diadu-domba, mereka tidak mau berpecah-belah, mereka tidak mau saling memusuhi. Karena, toleransi menghadirkan prinsip kebangsaan yang mampu bersatu di tengah kemajemukan itu sendiri. Sehingga, perjuangan bersama itulah yang melahirkan kobaran api semangat untuk melawan penjajah bisa terbangun dengan baik.            

Oleh karena itu. Di tahun 2022 nanti. Kita perlu menyongsong toleransi sebagai gaya hidup kita. Menjadikan toleransi sebagai garis perjuangan kita untuk menjaga Indonesia. Sebagaimana, Indonesia adalah (kita) yang begitu majemuk. Yaitu dengan mengembalikan khittah Indonesia yang toleran itu. Karena toleransi bukan benda asing. Tetapi, toleransi telah mengakar menjadi sebuah prinsip hidup untuk berjuang menjaga bangsa ini.

dutadamaisumbar

Menyongsong 2022 sebagai Tahun Toleransi

Previous article

Pemenuhan Hak-hak Disabilitas dalam Islam

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

More in Opini