Edukasi

SEMICOLON DAN THE BUTTERFLY PROJECT UNTUK PENDERITA GANGGUAN JIWA

0


Oleh: Rahayu Yun Putri

Ilustrasi : ASRI WULANDARI (distourtion.blogspot.com)

Apakah kalian pernah mendengar kata atau kalimat Semicolon dan The Butterfly Project? Pasti sebagian dari kalian pernah mendengar, membaca, atau pernah melakukan hal tersebut untuk keperluan pribadi.
Bagi penderita gangguan jiwa, hal tersebut merupakan efek yang digunakan untuk mengubah pola pikir yang negatif, seperti menyakiti diri sendiri, tidak bahagia, depresi, frustrasi, dan memiliki anxiety.
Lantas, apa maksud dari Semicolon dan The Butterfly Project itu sendiri? Sepenting apakah peranan dari kampanye ini untuk penderita gangguan jiwa? Berikut penjelasannya.


Semicolon
Pada tanggan 16 April 2013, ada sebuah gerakan yang terdiri dari orang-orang depresi, sakit hati, tidak bahagia, memiliki anxiety, dan memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidupnya sendiri, menggambar sebuah semicolon pada pergelangan tangannya.
Semicolon berarti tanda titik koma (;). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), semicolon atau tanda titik koma adalah tanda baca yang berfungsi untuk menandai bagian kalimat yang sejenis atau setara, juga memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Dalam dunia literasi atau kepenulisan, jika ada tanda semicolon dalam sebuah kalimat, artinya kalimat itu bisa saja berakhir. Akan tetapi, penulis memilih untuk tidak mengakhiri kaimat tersebut.


Gambaran dari semicolon melambangkan bahwa sang penulis adalah diri kita sendiri, sedangkan kalimat yang ditulis merupakan kehidupan pribadi kita. Semicolon ini adalah sebuah harapan jika ceritanya belum selesai. Dengan kata lain, berharap jika orang-orang yang memiliki masalah tidak mengakhiri tindakan menyakiti diri sendiri, tetapi memilih untuk terus berjuang atau melawannya.
Harapan dari gerakan ini, seberat apa pun masalah hidup yang kalian jalani, sehebat apa pun badai kehidupan yang datang, ketahuilah bahwa semua akan berlalu dengan sendirinya jika kita mau untuk mengubahnya.


Maka dari itu, jangan pernah menyerah, teruslah berjuang, dan jangan akhiri cerita atau jalan hidupmu. Dan kalian harus tahu, jika 99,9% orang di dunia ini membenci kalian, masih ada 75 juta orang lagi yang menyayangi kalian.
Jika kalian merasa depresi, frustrasi, atau merasa tidak berguna di dunia ini, carilah seseorang yang ingin mendengar semua keluh kesah kalian. Dan juga, buatlah gambar semicolon di pergelangan tangan kalian agar kalian bisa melawan hal yang mengerikan itu.


The Butterfly Project
Siapa pun pasti pernah ditimpa oleh musibah maupun masalah. Tidak pandang bulu, di mana saja atau kapan saja pasti ada masalah menghampiri. Tidak semua masalah diakiri dengan hal yang buruk, tetapi tidak ada orang yang senang ketika dihampiri masalah.
Faktanya, ketika seseorang ditimpa masalah, mereka menganggap jika masalah tersebut merupakan cobaan yang tidak pernah habisnya. Mereka terlalu memikirkan, bahkan menyalahkan diri sendiri tentang masalah tersebut. Terkadang, bukan mencari jalan keluar atau bercerita kepada orang terdekat, mereka malah melukai diri sediri untuk melampiaskan rasa kesal dan sedih.


Bukan rahasia umum jika self harm dijadikan salah satu cara untuk mengakhiri masalah. Alasannya sederhana, karena ketika mereka menyakiti diri dengan benda tajam, mereka merasa bahwa rasa sakit yang dimiliki akan berkurang. Aslinya, tindakan tersebut sangat berbahaya dan bisa saja berakhir meninggal dunia.


The Butterfly Project merupakan salah satu tindakan atau aksi kepedulian pada tindakan self harm dengan cara menggambar kupu-kupu di tangan. Harapannya agar memotivasi seseorang yang merasa depresi, frustrasi, bahkan sakit mental lainnya untuk tidak melakukan self harm.
Kegiatan ini digalakan oleh Demick dan kawan-kawannya dari badan amal N-Compas yang bermarkas di Lancashire, Inggris. Alasan dilakukannya The Butterfly Project karena merasa prihatin pada remaja yang gemar melukai tubuh sendiri atau self harm.
Berikut aturan mainnya untuk melakukan The Butterfly Project.


Jika dorongan untuk menyakiti diri sendiri tiba-tiba saja datang dan semakin menguasai diri, ambillah spidol atau alat tulis lainnya. Jangan ambil benda-benda tajam seperti gunting, pisau, atau kater.
Sesuai dengan namanya, kita harus menggambar butterfly atau kupu-kupu di lengan.
Setelah menggambar kupu-kupu, berilah nama-nama orang yang kita sayangi di setiap sisi gambar.


Ketika dorongan untuk menyakiti diri sendiri merasa hilang, jangan hapus gambar kupu-kupu tersebut. Biarkan saja ia menghilang seiring dengan berjalannya waktu.
Apabila gambar kupu-kupu itu kita biarkan menghilang dengan sendirinya, kita telah berhasil melewati fase yang sulit. Kita telah mampu memotivasi diri sendiri untuk tidak melakukan tindakan yang menyakitkan. Dan tentu, kita telah mengubah pikiran kita bahwa masalah yang ada telah terbang layaknya kupu-kupu.
Alasan dinamakan The Butterfly Project karena kupu-kupu merupakan salah satu simbol transformasi. Berawal dari ulat, kepompong, lalu bermetaformasi menjadi bagian atau bentuk yang indah.


Analoginya sederhana, jika semicolon mengibaratkan penulis dengan kalimat. The Butterfly Project menganalogikan kupu-kupu sebagai suatu masalah. Apabila kita sabar dan dan dapat menerima keadaan, masalah akan hilang dengan sendirinya.
Nah, itulah kampanye atau gerakan yang dibuat oleh orang-orang yang peduli dengan kesehatan mental. Seburuk apa pun cerita yang kita miliki atau sejelek apa pun kenangan masa lalu, kita semua berhak bahagia. Hal ini karena tidak ada manusia yang gagal terlahir di muka bumi ini, hanya saja kita kurang beruntung untuk mengolah hidup agar terlihat berguna.

Pancasila Sakti; Melumpuhkan Ideologi yang Berlawanan dengan Falsafah Bangsa Indonesia

Previous article

PASTIKAN PON XX PAPUA BERLANGSUNG KONDUSIF, KEPALA BNPT TINJAU LANGSUNG LOKASI PERLOMBAAN

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi