Opini

SEJARAH USIA MUDA PAHLAWAN INDONESIA “Pergerakan Sutan Syahrir Muda”

0

Artikel ini diikutsertakan dalam “LOMBA MENULIS KEPEMUDAAN DAN SEJARAH USIA MUDA PAHLAWAN INDONESIA” yang diselenggarakan oleh Deputi 2 Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dalam rangka Memperingati Bulan Pemuda dan Hari Pahlawan Tahun 2019 (Sumber Foto : Dok. Google)

A. Pendahuluan

Sutan Syahrir (ejaan asli : Soetan Sjahrir) adalah salah satu tokoh pendiri bangsa Indonesia. Syahrir (seterusnya akan ditulis “Syahrir) memiliki peran yang sangat besar dalam merintis berdirinya Republik Indonesia. Namun banyak generasi muda saat ini yang telah melupakan kiprahnya sebagai pendiri bangsa. Syahrir memegang peranan penting dalam membidani lahirnya kemerdekaan Indonesia. Sebagai Perdana Menteri pertama RI, syahrir lah yang pertama kalli mengusung diplomasi damai dan menguntungkan posisi Indonesia di mata internasional. (Pramasanti, Restuning dkk. (tahun tidak ada). “Pemikiran Politik Sutan Sjahrir Tentang Sosialisme Sebuah Analisis Psikologi Politik).

Tidak hanya perannya yang besar dalam proses berdirinya bangsa ini, Syahrir juga menawarkan pemikiran yang cemerlang dan patut untuk digali generasi muda sekarang. Sebuah pemikiran yang jauh melampaui jamannya saat itu.

Pemikiran syahrir ini tentu tidak terlepas dari lingkungan sosial dan kondisi psikologi politiknya. Erat kaitannya dengan bagaimana individu tersebut berinteraksi dengan individu lain, prilaku, norma-norma dan nilai yang dianut. Seperti yang dikemukakan oleh Super dan Harknes (Tri Dayakisni dan Salis Yuniarti, Psikologi Lintas Budaya : Malang : UMM Press, 2004 hal 134-135), dalam ranah politik, perkembangan psikologi sesorang dalam pengaruhnya terhadap pemikiran dan prilaku politiknya tidak terlepas dari wacana perkembangan (development niche). Wacana perkembangan ini memiliki tiga komponen yaitu :

  1. Konteks fisik dan lingkungan sosial dimana seseorang tinggal

Perkembangan individu melalui lingkungan tempat dia hidup dan tinggal sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologi politiknya. Konteks sosial dibentuk dengan siapa dia berinteraksi akan membentuk prilaku sosial, norma-norma dan nilai individu tersebut.

  • Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu bentuk pemberian pengetahuan yang formal. Pendidikan dapat mempengauh pola kepribadian seseorang. Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses pengisian jiwa dengan pengetahuan-pengetahuan dan pengalaman-pengalaman sebanyak-banyaknya.

  • Peranan Keluarga

Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia, tempat dia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya. Interaksi dalam keluarga berperan dalam pembentukan norma-norma sosial, internalisasi norma, frame of reference, sense of belongness dan lain-lain (Restuning Pramasanti : Pemikiran Politik Sutan Sjahrir Tentang Sosialisme, Sebuah Analisis Psikologi Politik).

Berdasarkan ketiga komponen pengalaman tersebut, peranan pengalaman dalam mempengauhi pembelajaran politik atau sosialisasi politik cukup signifikan. Untuk menelusuri perkembangan pemikiran Syahrir, tulisan ini akan mengulas masa mudanya sehingga menjadikan Syahrir seperti yang kita kenal.

B. Pembahasan

Masa Kecil hingga Masa Remaja

Syahrir adalah salah satu tokoh politik dan pahlawan asal Sumatera Barat. Lahir di Padang Panjang pada 5 Maret 1909. Ayahnya adalah Moh. Rasad Gelar Maharaja Soetan asal Koto Gadang, Bukitinggi (sekarang Kabupaten Agam), Sumatera Barat. Ayahnya menjabat sebagai  jaksa pada Lan-draad  di Medan. Sedangkan ibunya bernama Poetri Siti Rabiah yang berasal dari Mandailing Natal, Sumatera Utara. Syahrir mengenyam sekolah dasar di ELS (Eurapes Lagerere School) dan sekolah menengah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Medan (Eko Maulana, Pemikiran Politik Sutan Syahrir Tentang Revolusi. Universitas KH. Wahab Hasbullah, 2014).

Dalam Sutan Sjahrir, Sosialisme dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia yang ditulis oleh Yohana, tinggal dan besar di Medan memperkenalkan Syahrir pada kemelaratan kaum kuli. Pada malam hari, Syahrir bermain biola di Hotel de Boer untuk menghibur orang-orang kulit putih.

Pada tahun 1926, Syahrir menyelesaikan pendidikannya di MULO dan melanjutkan ke AMS (Algemeene Middelbare School) di Bandung. Saat itu, Syahrir bergabung dengan Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia di Bandung (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario dan sesekali menjadi aktor. Hasil dari pementasan dipakai untuk membiayai sekolah yang didirikannya bersama anggota-anggota Batovis yaitu Tjahja Volksuniversiteit (Cahaya Universitas Rakyat).

Syahrir termasuk orang yang membentuk Jong Indonesie yang kegiatannya menyelengarakan sekolah sendiri.  Pada tahun 1928, Jong Indonesie terlibat dalam Kongres Pemuda Kedua yang diadakan di Batavia. Beberapa laporan menyatakan bahwa Syahrir termasuk diantara yang hadir. Umurnya saat itu baru 19 tahun.

Tamat dari AMS Bandung, Syahrir melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Amsterdam. Awal-awal kedatangannya di Belanda, Syahrir bergabung dengan himpunan mahasiswa Sociaal Democrattishe Studenten Club (Klub Mahasiswa Demokrat Sosial) dan bekerja di International Transport Worker’s Federation (Serikat Buruh Angkutan Internasional) karena keterarikannya pada sosialisme. Keikutsertaannya dengan kedua organisasi ini semakin memperdalam pemikiran Syahrir tentang pemikiran politik, sosialisme, sosial demokrat dan perjuangan.

Syahrir bergabung dengan Perhimpunan Indonesia pada tahun 1929 dan menjadi sekretaris pada tahun kedua.

Kembali ke Indonesia

Syahrir tiba di Indonesia pada tahun 1931, saat usianya baru 22 tahun. Perpecahan Partai Nasional Indonesia (PNI) pasca ditangkapnya pimpinannya, Soekarno, membuat kelompok pergerakan terbelah dan membentuk kelompok-kelompok baru. Alih-alih bergabung dengan Partindo (organisasi massa pecahan PNI), justru Syahrir bergabung dengan Golongan Merdeka yang relatif punya kesadaran politik yang lebih tinggi.

Seperti yang kita ketahui, Hatta dan Syahrir tidak menyetujui gerakan yang di usung oleh PNI dan Soekarno yang bergantung kepada satu orang pemimpin kharismatik.  Menurutnya, gerakan semacam itu dengan mudah dipatahkan pemerintah kolonial dengan menangkap pemimpinnya. Hatta dan Syahrir lebih cenderung membuat pergerakan yang fokus pada pendidikan kader ketimbang memobilisasi massa sebagaimana yang dilakukan PNI dan Soekarno.

Pada tahun 1932, Syahrir menggantikan Soekarni sebagai pimpinan PNI-Baru (Pendidikan Nasional Indonesia), sekaligus memimpin Daulat Ra’jat. Tujuannya adalah menyelenggarakan pendidkan politik bagi para anggotanya. Partai ini mengusung konsep sosialisme dalam pergerakannya. Ketidaksetujuan Syahrir dengan pergerakan yang memobilisasi massa dilandasi oleh nasionalisme sempit yang ditawarkan. Menurutnya, nasionalisme harus berpijak pada demokrasi dan harus terhindar dari nasionalisme semu yang bisa tergelincir kepada fasisme jika bersekutu dengan feodalisme lokal. Nasionalisme harus dilandasi oleh humanistic (kemanusiaan).

Pergerakan Syahrir dan Hatta di PNI Baru akhirnya mendapat hambatan dari pemerintah kolonial. Syahrir, Hatta dan pimpinan PNI-Baru lainnya dibuang ke Boven Digul, Banda Neira dan dipindahkan ke Sukabumi pada tahun 1942. Syahrir dan Hatta akhirnya bebas setelah pendudukan Jepang.

Pada pendudukan Jepang tahun 1942, Sjahrir menolak untuk berkolaborasi dengan Jepang. Pergerakan Syahrir  dilaluinya melalui gerakan bawah tanah.  Pada tanggal 14 Agustus 1945, Syahrir memberitahu Hatta bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Menurut Syahrir, proklamasi kemerdekaan harus dilaksanakan sesegera mungkin agar tidak timbul kesan Indonesia memperoleh kemerdekaan sebagai hadiah dari Jepang. Perdebatan antara Syahrir, Hatta dan Soekarno pun terjadi terkait kapan seharusnya proklamasi kemerdekaan dilaksanakan.

Keraguan Soekarno- Hatta terkait kapan dilaksanakanya proklamasi kemerdekaan membuat kaum muda menemui Soekarno di Pegangsaan Timur pada tanggal 15 Agustus. Wikana dan mahasiswa yang lain akhirnya memutuskan untuk menculik Soekarno dan Hatta dan mengasingkannya ke Rengasdenglok. Tujuannya adalah untuk membujuk keduanya agar melaksanakan proklamasi kemerdekaan sesegera mungkin. Syahrir mengetahui gerakan tersebut tetapi menolak untuk ambil bagian didalamnya. Pada saat rapat di rumah Laksamana Maeda tanggal 16 Agustus hingga pagi hari tangal 17 Agustus, Syahrir tidak hadir.

Bagi Syahrir, perjuangan kemerdekaan tidak hanya membebaskan diri dari kekuasan asing, tetapi juga berkaitan dengan kebebasan individu dan perubahan sosial yang menjadikan kemerdekaan itu sebagai suatu kemerdekaan yang sejati. Pasca kemerdekaan, Syahrir menekankan Sosialisme Demokratis sebagai faham yang sangat cocok untuk dasar pembangunan Indonesia. Menurut Syahrir, Sosialisme Demokratis mengakui adanya hak yang sama pada setiap orang untuk mencapai pemerataan. Syahrir sangat menolak kediktatoran dan totalitarianisme.

Sebagaimana yang tertulis dalam pamfletnya yant terkenal, Perjuangan Kita, Syahrir menulis : “Perjuangan kta sekarang ini tak lain dari perjuangan untuk mendapat kebebasan jiwa bangsa kita. Kedewasaan bangsa kita hanya jalan untuk mencapai kedudukannya sebagai manusia yang dewasa bagi diri kita” (Sutan Sjahrir : Perjoeangan kita, hal 67).

Peran Syahrir pasca kemerdekaan adalah ditunjuknya dia sebagai Ketua KNIP (Komite Nasuional Indonesia Pusat), Perdana Menteri, mempertahankan kemerdekaan melalui jalur diplomasi hingga mendirikan Partai Sosialis Indonesia.

Kondisi yang Membentuk Syahrir Muda

Syahrir terkenal dengan pembawaan yang tenang dan berani. Ini kontradiktif dengan fisiknya yang kecil dan pendek.  Dalam Peran Besar Bung Kecil terbitan Tempo, ketenangan Syahrir digambarkan ketika sidang di Yogyakarta pada November 1945. Cerita ini berasal dari Soendoro, bekas pegawai tinggi Kementerian Penerangan Republik Indonesia. Saat itu, Syahrir berdialog dengan pemimpin rakyat dan pemuda dalam kapasitasnya sebagai Perdana Menteri. Tiba-tiba diluar gedung terdengar suara tembakan dan listrik mati. Ruangan gelap seketika dan semua peserta sidang merangkak di kolong meja mencari perlindungan. Ketika listrik menyala, terlihat hanya Syahrir yang duduk tenang di kursinya, seakan tidak terjadi apa-apa.

Untuk membahas pergerakan dan pemikiran Syahrir, kita akan melihat tiga komponen yang dapat membentuk prilaku politik seseorang menurut Super dan Harknes yaitu Konteks fisik dan lingkungan sosial dimana seseorang tinggal, pendidikan dan peranan keluarga.

1. Konteks fisik dan lingkungan sosial

Dari penelusuran sejarah, Syahrir hidup dan tinggal di berbagai tempat. Lahir Di Pandang Panjang namun, usia satu tahun ayahnya membawanya bermukim di Jambi. Ayahnya lalu memboyongnya ke Medan saat usianya 4 tahun. Penggemar sepakbola ini, melanjutkan pendidikan ke Bandung saat usianya 17 tahun.  Di AMS, Syahrir terlibat di Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia dan Jong Indonesie. Dalam perkembangannya, Syahrir memperlihatkan karakter yang pandai bergaul, pemberani dan mahir mendebat gurunya.

Menurut Des Alwi, nasionalisme Syahrir tumbuh pertama kali ketika mendengar pidato Dr. Cipto Mangunkusumo saat berpidato di alun-alun Bandung. Awalnya, sebagai seorang yang hidup di lingkungan pro Belanda (ayahya pegawai Belanda), Syahrir kurang menyukai pergaulan dengan kaum pemebrontak. Di Bandung, Syahrir juga tercatat sebagai anggota perkumpulan sepak bola Club Voetbalvereniging Poengkoer. Syahrir mempunyai banyak teman termasuk noni-noni Belanda.

Syahrir mengecap kehidupan modern saat ia menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Amsterdam, Belanda. Saat itu usianya baru 20 tahun. Ketertarikannya pada sosialisme dan dunia pergerakan membuatnya bergabung dengan himpunan mahasiswa Sociaal Democrattishe Studenten Club (Klub Mahasiswa Demokrat Sosial) dan bekerja di International Transport Worker’s Federation (Serikat Buruh Angkutan Internasional). Melalui kegiatannya, Sjahrir semakin memperdalam politik dan mengupas berbagai pemikiran. Selain itu, Syahrir juga bergabung dengan Perhimpunan Indonesia pimpinan Hatta dan menjadi Sekretaris pada tahun kedua.

Hingga tahun 1930, saat usianya baru mencapai 20 tahun, Syahrir telah terlibat dalam berbagai organisasi pergerakan dan melahap pemikiran-pemikiran barat. Pergumulannya dengan berbagai beragam perkumpulan dan pemikiran membuat Syahrir tidak lagi sebagai anak muda yang labil, namun Syahrir telah menjadi generasi muda yang siap bahu-berbahu membidani kemerdekaan Indonesia. Kepulangannya ke Indonesia menjadi langkah maju Syahrir untuk terlibat dalam pergerakan kemerdekaan.

2. Pendidikan

Pendidikan juga mempunyai peranan penting dalam membentuk tingkah laku seseorang, termasuk dalam politik. Syahrir termasuk lahir dari keluarga bangsawan, sehingga pendidikan yang diperolehnya sangat memadai. Syahrir masuk ELS yang saat itu merupakan sekolah terbaik dan modern. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Belanda. Syahrir termasuk pribadi yang gemar membaca. Selanjutnya, Syahrir melanjutkan pendidikan ke MULO dan AMS.

Keputusannya untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Amsterdam Belanda membuat Syahrir semakin mendalami ilmu pengetahuan. Di Belanda, Syahrir membaca berbagai macam pemikiran dan semakin membuatnya tertarik dengan sosialisme.

Syahrir tidak sempat menamatkan pendidikannya di Belanda karena pulang ke tanah air saat pergerakan melemah pasca ditangkapnya Soekarno. Hatta dan Syahrir memutuskan agar salah satu dari mereka harus berkorban dan kembali ke Indonesia. Syahir akhirnya pulang dan memimpin PNI-Baru.

Dengan latar belakang keluarga yang terpelajar dan tingkat pendidikan Syahrir yang baik, membuat Syahrir tampil sebagai salah satu tokoh bangsa yang turut melibatkan diri dalam pergerakan dan kemerdekaan Indonesia.

3. Peranan Keluarga

Dalam Peran Besar Bung Kecil yang diterbitkan Tempo, Syahrir lahir di Padang Panjang namun keluarganya berasal dari Koto Gadang, Bukitinggi. Koto Gadang adalah daerah yang banyak melahirkan pahlawan nasional, seperti Rohana Kudus dan H. Agus Salim. Menurut Mestika Zed, Sejarawan Universitas Negeri Padang, salah satu yang membentuk cakrawala intelektual Syahrir tidak terlepas dari latar belakang keluarga modern ayahnya di Koto Gadang (Peran besar bung kecil hal 8). Rohana Kudus, wartawan perempuan pertama Indonesia adalah saudara tiri Syahrir.

Di Koto Gadang, pemerintahan kolonial mendirikan sekolah-sekolah dan mencetak tenaga kerja perkebunan. Terdapat tiga posisi elit dan dianggap luar biasa yang diberikan pemerintahan kolonial, yaitu doto (mantri), guru dan jaksa. Kakek dan Ayah Syahrir adalah jaksa yang termasuk kalangan elit pegawai Belanda.

Saat menempuh pendidikan di AMS Bandung, Syahrir menumpang dirumah saudara tirinya, Radena di Jalan Dr. Samjudo. Sebelum memutuskan tinggal di keluarga Salomon Tas, Syahrir juga tinggal bersama kakaknya Siti Sjahrizad (Nuning Djoehana) saat awal-awal tinggal di Amsterdam.

Walaupun Syahrir terpengaruh pemikiran-pemikiran modernisme barat, kedekatannya dengan keluarganya (keluarga Minangkabau), membuatnya tetap menunjung adat ketimuran. Nilai-nilai demokrasi seperti musyawarah dan persamaan kedudukan (egaliter) yang dianut masyarakat Minangkabau nampaknya masih menjadi nilai yang dianut Syahrir dalam pergerakan politiknya. Walaupun menurut Rudolf Mrazek dalam Sjahrir : Politik dan Pengasingan di Indonesia, Syahrir telah melepas semua hal yang berbau tradisional dan primordial. Menurutnya, Syahrir bahkan tidak pernah menyebutkan “minangkabau”. Menurut penulis, peranan keluarga Syahrir tetap menjadi salah satu poin yang berpengaruh terhadap prilaku politik dan pemikirannya.

C. Kesimpulan

Peranan Syahrir dalam upaya kemerdekaan Indonesia tidak bisa kita kesampingkan. Sebagai tokoh pendiri bangsa, Syahrir tampil sebagai tokoh alternatif selain Soekarno – Hatta. Pasca kemerdekaan, Syahrir menakhodai diplomasi damai dalam usaha mempertahankan kemerdekaan. Walaupun dikritik oleh tokoh-tokoh lain, usaha Syahrir tetap diperhitungkan dan sangat menguntungkan posisi Indonesia di mata internasional.

Sebagai penganut Sosialisme Demokrat, prilaku politik Syahrir sangat jelas dalam menentang fasisme dan otoritarianisme. Demokrasi kerakyatan yang diusungnya mengedepankan persamaan hak, nasionalisme yang lebih luas dan bertujuan untuk kemerdekaan yang dapat dirasakan seluruh elemen bangsa.

Dalam menentang fasisme Jepang, Syahrir menolak untuk berkolaborasi sebagaimana yang dilakukan Soekarno dan Hatta. Syahrir justru melakukan gerakan bawah tanah yang berbahaya. Syahrir lebih berfokus kepada pendidikan rakyat. Y.B Mangunwijaya berpendapat bahwa fungsi dan jasa Syahrir adalah menjadi pemikir dan nakhoda pertama yang tenang. Syahrir adalah pelengkap paling vital dalam Soekarno-Hatta.

Prilaku politik, pemikiran dan kepemimpinan Syahrir dalam berbagai organisasi pergerakan tentu tidak berdiri sendiri. Terdapat tiga komponen yang menjadi pembentuk Syahrir yaitu konteks fisik dan lingkungan sosial, pendidikan serta peranan keluarga. Syahrir telah melalui dan meningkatkan kapasitasnya sejak ia muda.

Daftar Pustaka

Jurnal

Maulana, Eko. 2014.”Pemikiran Politik Sutan Sjahrir Tentang Revolusi” Dalam Jurnal Review Politik.Volume 04. Nomor 01. Jombang : Unversitas KH. Wahab Hasbullah.

Pramasanti, Restuning dkk. (tahun tidak ada). “Pemikiran Politik Sutan Sjahrir Tentang Sosialisme Sebuah Analisis Psikologi Politik.

Prihartanti, Bernarda. 2010. “Peranan Sutan Sjahrir Dalam Pemerintahan Indonesia (1945-1947). Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.

Skripsi

Yohanna. 2010. “Sutan Sjahrir, Sosialisme dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.

Buku

Mangunwijaya, Y. B. 1988. “ Manusia, Guru, Negarawan Sutan Sjahrir dan Relevansinya Kini Dan Di Hari Mendatang”. Jakarta : Orasi Ilmiah Angkatan II, Sekolah Ilmu Sosial, Bentara Budaya.

Seri Buku Tempo : Bapak Bangsa. 2010. “Sjahrir : Peran Besar Bung Kecil”. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.

Sumber Lain

Sutan Sjahrir. 1945. “Perjoeangan kita”.Batavia : Vrij Netherland.

Onriza Putra

Duta Damai Sumbar Hanya Pemimpi…?

Previous article

Setara Institute : Pemerintah Tunduk Pada Kelompok Intoleran

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini