Startup kerap bermunculan dimana-mana, tak heran banyak generasi muda yang penasaran dengan cara membuat startup.

Perusahaan yang mengatasnamakan dirinya startup, rata-rata menawarkan hal yang sama. Mereka menawarkan sebuah semangat kerja hingga kreativitas tanpa batas.

Setelah masa pandemi dipenghujung jalan tiba-tiba dikabarkan banyak bisnis startup yang terpaksa gulung tikar. Mulai dari airy rooms yang berbasis pada booking hotel sampai pada sorabel yang bergerak pada bidang penjualan fashion.

Kenapa hal ini terjadi? Alasan paling masuk akal adalah managerial dari pengembang bisnis startup tersebut yang masih sangat kurang. Bubble startup juga menjadi alasan yang tidak bisa dikesampingkan dimana banyak penggiat bisnis startup dapat menggaet para investor namun tidak dapat memperkirakan kebutuhan mereka untuk membakar uang dalam promosi seberapa besar. Sehingga tidak terlihat berapa besar nilai sesungguhnya dari bisnis startup mereka.

Ternyata hanya waktu yang dapat membuktikan bahwa kemampuan membangun startup saja tidak menjadi faktor utama dalam kelangsungan bisnis ini. Untuk membangun startup mungkin sudah banyak yang membahasnya. Namun untuk maintenance bisnis startup ternyata tidak semudah apa yang dibayangkan.

Banyak startup yang sepertinya sangat aman di masa namun ternyata pada akhirnya juga harus gulung tikar. Seperti startup zenius, Zenius melakukan PHK karyawan lantaran perusahaan tersebut tengah mengalami kondisi makro ekonomi terburuk dalam beberapa dekade terakhir.

Pakar Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin mengatakan, bisnis startup merupakan binis yang saat ini digandrungi oleh Generasi Z.

Bisnis startup semakin menjamur di Indonesia lantaran dukungan kemajuan teknologi yang pesat. Kendati demikian, bisnis ini memang memiliki risiko yang tinggi.

Selain itu, Eddy mengatakan bahwa perkembangan bisnis startup ini berpotensi kolaps ketika pemintaan pasar menurun dan tren berubah.

“Jadi sebenarnya orang-orang yang bekerja di dunia startup itu memang harus siap untuk pindah kapan pun sebetulnya karena risikonya tinggi,” kata dia. Sebagaimana dilansir lewat kompas.com beberapa waktu yang lalu.

Faktor promosi produk dan bakar uang efektif mengurangi jumlah persaingan secara signifikan. Namun, jika cashflow cukup tidak kuat, startup akan kalah dan digantikan oleh perusahaan lain yang gencar promosi.

Sementara itu, Bhima Yudhistira. Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengatakan penyebab PHK beberapa startup terjadi karena alami kesulitan pendanaan setelah rencana bisnis terpengaruh pandemi COVID-19 dan penurunan pengguna yang signifikan.

Ia menjelaskan, sebenarnya selama pandemi ada lonjakan pelanggan internet tapi tidak semua merata dirasakan oleh startup

“Faktornya, secara makro kenaikan tingkat suku bunga diberbagai negara membuat investor mencari aset yang lebih aman. Imbasnya saham startup teknologi dianggap high risk. maka banyak yang meramal tahun ini adalah winter-nya startup alias tekanan sell-off besar-besaran di industri digital,” ujarnya.

Akhirnya, lanjut Bhima, banyak startup kesulitan mendapatkan pendanaan baru dan investor makin selektif dalam memilih startup.

Analis dan praktisi hukum restrukturisasi utang dari Kantor Frans & Setiawan Hendra Setiawan Boen menyampaikan pandangannya terkait fenomena PHK massal karyawan startup tanah air.

Menurutnya, salah satu penyebab PHK massal itu karena perusahaan rintisan di Indonesia tidak fokus dalam bisnis, kehabisan dana, dan tidak memiliki strategi yang baik untuk berkembang di pasar.

Namun, masalah utama startup adalah dana operasional mereka sepenuhnya bergantung pada pendanaan pihak luar melalui fundraising, private placement hingga pinjaman.

Hendra memberi saran agar startup Indonesia tidak perlu terlalu terburu-buru untuk booming. Lebih baik tumbuh secara organik. Kalau memang mau ekspansi baru cari investor. Dana dari investor itu hanya alat bantu untuk berkembang dan bukan tujuan utama mendirikan startup.

“Lebih baik punya perusahaan yang berkembang secara perlahan tapi sehat dan bertahan lama daripada dikarbit menjadi besar dalam sehari tetapi besoknya layu,” tutup Hendra. Sebagaimana dilansir lewat JPNN.com.

Gusveri Handiko
Blogger Duta Damai Sumbar Tamatan Universitas Andalas Padang Menulis Adalah Salah Satu Cara Untuk Berbuat Baik

    Startup Indonesia Yang Akhirnya Gulung Tikar

    Previous article

    Fase Toleransi, Indonesia Masuk mana?

    Next article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    More in Edukasi