Opini

Narasi Kebencian Dalam Sepakbola

0

Sumber Gambar : Jawa Pos

Masih segar diingatan kita bagaimana olahraga yang paling diminati di seluruh dunia, memakan korban. Kasus terakhir terjadi terhadap kawan kita, Haringga Sirila (23 tahun). Dalam beberapa tahun terakhir, bentrokan antar suporter semakin menjadi-jadi dan parahnya sampai menghilangkan nyawa orang lain.

Dalam skripsi saya yang berjudul Peranan Olahraga Dalam Upaya Peacebuilding di Korea Utara- Korea Selatan, secara gamblang dirincikan bahwa olahraga bisa dan mampu dijadikan sebagai alat dalam upaya mencapai perdamaian. Kesimpulan ini diambil setelah adanya fakta sejarah yang memperlihatkan hubungan Korea Utara-Korea Selatan. Bahkan, pada Asian Games ke-18 kemaren, kedua Korea sepakat mengirim delegasi Korea Bersatu yang ikut bertanding di tiga cabang.

Optimisme lain yang mempelihatkan olahraga sebagai alat membangun nasionalisme adalah bagaimana kita menyaksikan masyarakat Indonesia bersatu dalam mendukung atlit yang bertanding tanpa membedakan suku, ras dan agama atlit tersebut.

Pada level global, olahraga sebagai alat diplomasi telah diterapkan oleh Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok pada dekade 1970an. Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok sepakat melakungan pertandingan tenis meja justru disaat tensi kedua negara sedang panas. Didunia internasional menyebut hubungan ini diplomasi pimpong.

Kasus yang sama juga bisa kita saksikan bagaimana India dan Pakistan seringkali melakukan pertandingan hoki untuk menurunkan tensi politik kedua negara.

Dalam konteks lain, olahraga justru digunakan oleh Afrika Selatan sebagai media branding dan alat mempromosikan negaranya. Afrika Selatan dipercaya menjadi host pada perhelatan Piala Dunia 2010 dan menjadi negara Afrika pertama yang menjadi tuan rumah piala dunia.

Hal yang sama dilakukan Rusia, Brazil pada perhelatan Piala dunia setelahnya. Rusia, sebagai negara adidaya dan selalu terlibat dalam konflik timur tengah dianggap tidak akan mampu menjadi tuan rumah karena alasan keamanan. Sedangkan Brazil dianggap tidak akan mampu melaksanakan Piala Dunia karena negara tersebut terjerat kemiskinan dan kasus kriminalitas. Kedua negara membuktikannya dengan kesuksesan dalam penyelenggaraan.

Tentu saja, optimime terhadap olahraga tidak boleh berlebihan dan ada kelemahannya. Kasus terorisme dan pemboman pernah terjadi dalam ajang sebesar Olimpiade. Pemboikotan Israel, Yugoslavia dan Korea Utara pernah terjadi.

Kasus yang seringkali menyebabkan kekerasan dalam olahraga dieropa adalah hooliganism. Menurut Eric Dunning dalam tulisannya Towards Sociological Understanding of Football Hooliganism as A Phenomenon (2000) menyebutkan hooliganism adalah fenomena prilaku kekerasan yang sedikit banyak berkaitan dengan ranah sepakbola meliputi fisik antar suporter, menyerang pemain lawan, vandalisme terhadap klub lawan dan sejenisnya. Hooliganisme ini dilekatkan pada prilaku suporter sepakbola yang berasal dari inggris yang terkenal dengan kekerasannya.

Fenomena hooliganism juga terjadi dibanyak negara seperti Mesir, India, Afganistan bahkan Indonesia. Umumnya fenomena ini disebabkan oleh fanatisme pada klub dan provokasi kebencian kepada klub lawan. Dan inilah yang terjadi pada kasus kawan kita, Haringga Sirila.

Terlepas apakah aksi ini hanya dilakukan oleh oknum, namun narasi kebencian terus diproduksi oleh orang orang yang tidak bertanggungjawab. Ditambah dengan disuburkannya perasaan balas dendam dari pihak yang merasa dirugikan.

Menurut Yamadipati Seno dalam Senjakala Suporter Sepakbola Indonesia : Mari Memutus Warisan Kekerasan yang ditulis di mojok.co, memang ada upaya upaya pihak berwenang soal hukuman kepada klub seperti pertandingan tanpa penonton selama beberapa pertandingan, hukuman degradasi hingga pengurangan poin. Namun, hukuman hukuman itu jauh dari efektif untuk memutus rantai warisan kekerasan suporter sepakbola di Indonesia.

Mengapa tidak efektif? Karena yang merasakan dampaknya hanya klub saja, sedangkan suporter tidak. Disisi lain, hukuman penjara untuk oknum yang melakukan kekerasan juga tidak mampu menyelesaikan masalah.

Yamadipati Seno memberikan beberapa solusi diantaranya harus ada pendekatan personal dari patron yaitu organisasi suporter resmi. Pendekatan personal bukan berarti mendatangi suporter satu per satu. Melainkan melakukan pertemuan pertemuan dengan suporter baik yang resmi maupun ilegal dengan menyentuh alam bawah sadarnya. Untuk menunjang hal itu, perlu adanya data terkait suporter seperti kepengurusan, keanggotaan hingga visi misi.

Tujuan dari pertemuan pertemuan ini adalah mengajak para suporter untuk melupakan bibit bibit kekerasan dengan soft aproach. Dan pertemuan ini harus dilakukan secara kontiniu. Karena ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah, gerakan ini harus dilakukan secara bersama sama.

Selain itu, kita harus menghapus bibit bibit kebencian dari diri kita terlebih dahulu. Perbedaan harus disikapi dengan bijaksana.

Olahraga Bisa.

Onriza Putra

Covid-19 di Sumatera Barat dan Hal-Hal Yang Harus Sanak Ketahui (Bagian Kesebelas)

Previous article

Terapi Plasma Konvalesen Ibarat Mantan

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini