Oleh : Onriza Putra (Duta Damai Dunia Maya Regional Sumatera Barat) – Opini Terbaik Kedua Dalam Kegiatan Workshop Jurnalistik Anti Korupsi, KPK RI.

Narasumber : Nuzirwan, Dt. Mulie (Pelatih)
: Imam (Pesilat)

Ditengah puluhan penonton, dua orang pemuda tengah berjibaku satu sama lain. Uniknya, aksi saling baku hantam ini dilakukan di tengah sawah yang penuh lumpur. Keduanya saling jual beli serangan dengan memukul, menyepak ataupun mencoba melukai lawan dengan sebilah pisau. Iringan gendang semakin memeriahkan suasana.

Suguhan memukau yang ditampilkan bernama Silek Lanyah. Salah satu aktraksi budaya Minangkabau yang di pertontonkan masyarakat Kubu Gadang, Padang Panjang.

Menurut keterangan Nuzirwan Dt. Mulie, seorang pelatih silek di Kubu Gadang, silek adalah kehidupan. Silek secara gamblang memang bertujuan untuk membela diri, tetapi didalamnya juga diajarkan nilai-nilai kehidupan. Beliau juga menjelaskan bahwa silek digunakan sebagai ajang silaturahmi, menjaga kerukunan dan persaudaraan.

Imam, salah seorang peserta Silek Lanyah menambahkan bahwa silek mengajarkan bagaimana untuk lebih bersyukur, lebih sabar, bertanggung jawab dan menumbuhkan nilai “raso jo pareso”. Imam telah belajar silek sejak kelas 3 SD dan masih berlanjut hingga sekarang.

Kata silek sangat populer di Minangkabau. Silek sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari budaya masyarakat minang. Sejak dahulu hingga sekarang, silek terus dikaji dan diteliti.

Silek adalah salah satu produk dari budaya tutur masyarakat minang. Faktanya mengatakan bahwa tidak ada budaya tulis dalam silek. Proses penyebaran silek hampir seluruhnya disebarkan melalui budaya tutur atau dari mulut ke mulut.

Berdasarkan sejarahnya, hampir tidak ada keterangan detail dari mana asal muasal silek. Menurut Budayawan Sumbar S Metron Masdison, silek erat kaitannya dengan kehidupan agraris di pedalaman minangkabau. Selain itu, jenis, aliran hingga penamaan silek sangat banyak dan beragam. Metron menjelaskan ada sekitar 700 jenis dan aliran silek yang tersebar di seluruh nagari di minangkabau.

Selain ditampilkan sebagai sebuah penampilan seni, silek juga kaya akan nilai, makna dan filosofi. Salah satunya adalah nilai-nilai tanggung jawab.

Dalam adat minangkabau, silek diturunkan dari mamak ke kamanakan. Hal ini ditujukan agar kamanakan bisa menjadi parik dalam nagari. Istilah yang sangat fundamental dari silek adalah “lahienyo mancari kawan, bathinnyo mancari tuhan mancari kawan, bathinnyo mancari tuhan. Hal ini bisa diartikan bahwa tujuan utama silat sejatinya bukan mencari musuh, tetapi justru mencari teman. Dari segi bathin, silek erat kaitannya dengan nilai-nilai akhlak dan keagamaan.

Kaitan antara silek dan tanggung jawab

Menurut penulis setidaknya ada 3 bentuk tanggung jawab yang dapat di peroleh dari belajar silek. Yang pertama yaitu bertanggungjawab terhadap diri sendiri. Anak laki-laki minang sejak kecil telah diharuskan untuk belajar di surau. Faktor adat seperti anak laki-laki harus keluar rumah (merantau) menjadikan surau sebagai tempat utama untuk belajar dan berproses. Selain belajar agama, anak laki – laki minang juga diajarkan basilek. Proses belajar agama dan bela diri menjadikan anak laki-laki minang untuk mandiri dan bertanggungjawab terhadap kehidupannya sendiri. Keduanya menjadi modal awal untuk masa depan anak laki – laki minang.

Yang kedua bertanggungjawab menjaga kaum. Silek diturunkan dari guru (biasanya mamak) ke kamanakan. Hal ini bertujuan agar kamanakan mampu membekali dirinya dengan beladiri, sehingga mampu membela harta dan harga diri kaumnya. Sebagai masyarakat yang menganut matrilinealisme, laki – laki minang tidak terputus hubungannya dengan ibu dan keluarga ibu. Hubungan kekerabatan dari garis ibu ini membuat laki – laki minang mempunyai tanggung jawab yang besar. Proses belajar silek ini menjadi modal awal menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap laki – laki minang.

Dan yang ketiga adalah bertanggungjawab terhadap silek itu sendiri. Latihan silek biasanya dilakukan pada malam hari, baik di surau, lamam rumah gadang maupun hutan. Alasannya yaitu agar tidak banyak orang tahu kita bisa silek. Hal ini mengajarkan agar pesilat mengendepankan sikap rendah hati dan bertanggungjawab terhadap sileknya. Pandai “basilek” seharusnya tidak dipertontonkan kepada orang banyak. Seorang pesilat juga bertanggungjawab menurunkan ilmunya ke anak dan kemenakannya.

Silek mengandung nilai-nilai filsafat, baik gerakan, pakaian maupun senjata yang digunakan. Idealnya, tujuan silek bukanlah mencari musuh. Silek adalah membersihkan hati dan pesilat yang hebat biasanya semakin merunduk. Hal ini sesuai dengan pepatah minang, musuah pantang dicari, kalau basobok pantang di ilak an.

Nilai-nilai tanggung jawab dalam silek ini harus menjadi karakter utama laki-laki minang dalam kehidupan sehari-hari. Di samping mampu membela diri, silek seharusnya mampu menumbuh rasa tanggung jawab baik terhadap diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Onriza Putra

Dibalik Ada Pertikaian, Ada Yang Ingin Perdamaian.

Previous article

Bersama Melawan (Hoaks) Covid-19

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini