Opini

Memaknai Pesan Moral Dalam Flim Long Road To Heaven Yang Dituding Menyudutkan Islam

0

Tepat 18 tahun yang lalu , pada tanggal 12 Oktober 2020 sekitar pukul 23:15 WIT terjadi sebuah peristiwa ledakan Bom dikawasan Kuta dan Denpasar, Bali. Ledakan itu terjadi di 3 tempat yaitu di Sari Club, Diskotik Paddy’s dan Kantor Konsulat Amerika Serikat.

Akibat kejadian itu sekitar 202 korban meninggal dunia yang didominiasi oleh Warga Negara Asing (WNA) . Peristiwa ini tercatat sebagai kasus tindak kekerasan terorisme terparah di Indonesia serta diangkat dalam sebuah flim berjudul Long Road to Heaven (Jalan Panjang Menuju Surga) karya dari Enison Sinaro yang diproduseri oleh Larry Higgs dan Nia Dinata.

Flim Long Road to Heaven ini dirilis pada tahun 2007, berdurasi sekitar kurang lebih 1 jam 55 menit. Setelah menonton sebanyak 2 kali, penulis menilai secara keseluruhan flim ini bukan hanya sekedar rangkaian cerita tentang proses terjadinya peristiwa peledakan Bom.

Akan tetapi disini juga menekan kepada sisi kemanusiaan dibalik tragedi yang menewaskan ratusan nyawa itu dengan memainkan 3 set alur cerita diantaranya :

  1. Ketika Hambali beserta rekannya yang tergabung dalam Jamaah Islamiyah mempersiapkan rencana target aksi pengeboman .
  2. Seorang Wartawati asal Australia bernama Liz Tompson bertugas untuk meliput sidang pengadilan Amrozi (terdakwa kasus Bom Bali I yang dihukum mati) tepat 7 bulan setelah peristiwa itu terjadi.
  3. Seorang Warga Negara Amerika Serikat yang tinggal di Bali bernama Hannah Catrelle bertemu dengan warga lokal bernama Ismail yang beragama Islam. Keduanya berpartisipasi dalam membantu evakuasi korban peledakan Bom Bali I .

Adapun beberapa pesan moral yang penulis tangkap dari Flim Long Road To Heaven yaitu :

  1. Sebagai manusia janganlah kita mengumbarkan rasa kebencian kepada orang lain meski kita telah menerima luka pedih yang sangat mendalam. Ini terlihat dalam adegan dimana ketika seseorang wartawai asal Australia Liz Tompson mewawancarai supir taxi bernawa Wayan dan beberapa masyarakat Bali. Disana Liz berusaha memancing emosional narasumber, namun orang yang diwawancarai tetap bersikap tenang dan menjawab “Semua akan kembali baik, Bali adalah Surga” tanpa mengumbarkan rasa benci terhadap pelaku aksi teror .
  2. Apabila ajaran yang kita imani tidak ingin dipandang negatif maka belajarlah secara universal dan moderat agar nantinya tidak kaku dalam beragama. Implementasikan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Seperti H Ismail yang turut membantu evakuasi para korban meski dirinya menerima komentar pedas dari Hannah Catrelle yang saat itu menjudge orang Islam suka tindak kekerasan. Ismail tetap sabar dan memberikan bukti bahwasannya keyakinan yang ia imani tidaklah seperti itu.
  3. Ketika ada satu golongan melakukan tindakan tidak terpuji, janganlah kita sentimen buruk dan menyamaratakan semuanya. Di dunia ini tidak semua golongan orang yang kita sentimenkan berperilaku serupa. Alangkah baiknya kita mencari tau dengan membuka diri untuk berkomunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman. Seperti yang dilakukan oleh Hannah Catrelle, meski diawal ia menganggap bahwa Islam merupakan agama kekerasan namun tidak terlalu berlebihan. Hannah tetap mencoba untuk berkomunikasi dengan Ismail, bahkan mereka saling bahu membahu dalam membantu proses evakuasi para korban.
  4. Percayalah bahwa ritual Ibadah merupakan obat terbaik untuk menyembuhkan luka hati dan menghilangkan kegelisahan yang kadang tidak kita sadari . Ini terlihat ketika Liz (tidak memiliki agama ) kala itu merasa tidak tenang , gelisah serta ada perasaan janggal didalam dirinya usai melaksanakan kegiatan liputan. Ia tidak ingin kembali ke Hotel meski telah lewat batas jam sewa Taxi , mendengar itu sang supir Wayan berinisiatif membawa sang jurnalis itu ke Pura sembari melakukan sembahyang sore. Usai melakukan sembahyang itulah Liz mengakui dirinya merasa lebih tenang dan damai.

Flim ini sempat dituding memberi kesan memojokkan Islam, tetapi menurut penulis justru intisari dari judul didalam flim ini menjelaskan bahwasannya Islam tidak pernah mengajarkanumatnya untuk melakukan tindak kekerasan. Bisa ditonton pada durasi 1 jam 27 menit, ketika Ismail bercerita kepada Hannah Catrelle bagaimana Islam sesungguhnya .

“Orang-orang yang melakukan ini semua, ia tidak mengerti Islam, tentang bagaimana agungnya agama ini, yang mereka lihat adalah hal-hal kecil. Mereka tidak bisa melepaskan diri dari masa lalu, mereka tidak bisa melihat keluar rasa sakit yang mereka derita. Mereka berpikir dengan melakukan ini akan mendapatkan jalan pintas di surga, tidak ada jalan pintas ke surga. Jalan ke surga adalah jalan yang panjang dan sulit. Mereka mencoba menipu Allah, tak akan mendapatkan pahala”, Ucap Ismail.

Ar Rafi Saputra Irwan

Pernahkah Anda Bersentuhan Langsung Dengan Benih Kekerasan?

Previous article

Duta Damai Sumbar: Memaknai Hari Perdamaian Internasional dan Kesaktian Pancasila

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini