Opini

Masyarakat Agama Yang Berbangsa

0

Gus Dur pernah mengatakan  bahwa Indonesia ada karena keberagamaan,  karena itu melakukan kampanye keberagamaan merupakan salah satu cara menjaga Indonesia.  Begitulah seorang Gus Dur mencintai bangsa ini, sebagai seorang ulama besar yang sangat jelas sanad keilmuan agamanya, beliau tidak pernah memaksa untuk menjadikan agamanya pemilik tunggal bangsa ini. Bahkan di saat beliau menjadi Presiden, beliau memberikan ruang yang besar untuk agama-agama lain melakukan ibadah dengan aman dan nyaman di Indonesia. Dimasa beliaulah perayaan Imlek bisa kembali dirayakan oleh msayarakat Tiongha, hampir 31 tahun di mulai tahun 1968 sampai 1999 sesuai Intruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 yang dikeluarkan  Soeharto yang melarang perayaan imlek di Indonesia, dan akhirnya pada tahun 2000  di cabut kembali oleh Gus Dur yang waktu itu menjabat sebagai Presiden.

Tentunya masih banyak pelajaran-pelajaran toleransi beragama dan berbangsa yang diajarkan oleh Gus Dur kepada kita tercatat dalam lembaran-lebaran sejarah bangsa ini, dan tentunya pembelajaran itu menjadi referensi pembanding bagi kita generasi muda hari ini,  khususnya dikalangan Mahasiswa.

Jumlah generasi muda yang begitu besar, tentunya harus bisa menjadi tenaga baru dalam menjaga Indonesia.  Dimana kita berharap generasi-generasi muda kita tumbuh menjadi Sumber Daya Manusia Unggul berwaasan kebangsaan dan ke agamaan yang terukur. Tidak hanya tumbuh menjadi generasi hebat yang kosong dan hampa tanpa perjuangan yang jelas.

Karena hal tersebut, sangat penting untuk di perhatikan, Karena kita sangat prihatin dengan permasalahan-permasalahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat,  dimana pelakunya adalah generasi muda yang hebat, seprti kejadian pembunuhan dan mutilasi Apartemen Kalibata beberpa hari yang lalu, yang di lakukan oleh alumni kampus terbaik di Indonesia yaitu UI yang berinisial LAS, dan kejadian pemerkosaan yang dilakukan oknum kepolisian berinisial DY di Pontianak, Kalimantan Barat,  Dan kejadian Bom Bunuh diri yang dilakukan RMN yang berumur 24 tahun di Mapolresta Medan yang juga tercatat sebagai mahasiswa.

Kenapa hal tersebut bisa terjadi dan sangat meresahkan masyarakat? Selain itu juga dilakukan oleh generasi muda yang berpendidikan. Tentunya ada hal yang kurang dapat perhatian dalam proses pembelajaran tersebut,  salah satunya adalah nilai-nilai agama yang tertanam dalam jiwa mereka. Kepintaran Apa yang kita ragukan dengan  alumni UI yang lulus dengan peringkat terbaik, nilai kebangsaan apa yang kita ragukan dengan  seorang aparat keamanan,  dan nilai keagamaan apa yang kita ragukan dengan sorang anak muda, yang mencintai agamanya, dengan merelakan mati demi membela agama tersebut.

Makanya dapat kita simpulkan bahwasanya,  dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara ini,  seseorang harus mampu mengimbangi sisi-sisi kehidupannya dengan pemahaman Keilmuan, Kebangsaan dan Keagamaan  yang jelas.  Jika ketiga hal ini bisa berjalan sejalan dengan baik dalam diri seseorang, maka dia akan menjadi warga negara yang bergama dan berbangsa,

Tapi apa yang terjadi, banyak generasi muda kita Indonesia yang di ciptakan untuk menjadi robot modren dengan kurikulum kompetisi tampa nilai etika dan moral,  sehingga melahirkan Anak-anak Muda muda seperti LAS,  yang hanya memikirkan bagaimana dia bisa hidup enak dan mencapai impiannya dengan menggunakan segala cara.

Nilai agama juga menjadi tolak ukur suksesnya pemahaman tentang kebangsaan.  Kalau kita hanya mengajari mereka Anak-anak muda nilai kebangsaan, tanpa mengasuppi mereka dengan nilai-nilai spritual, maka akan lahirlah orang seperti DY  yang akhirnya melakukan hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan yang mereka pelajari sendiri.

Seterusnya nilai keagamaan juga tidak akan bisa berjalan sendiri tanpa ditanamkan nilai-nilai kebangsaan, sebagai warga negara tentunya nilai agama harus sejalan dengan kehidupan berbangsa.  Kalau nilai agama yang ditanamkan tanpa nilai kebangsaan maka akan lahir orang seperti RMN yang membela agama secara membabi buta.  Apalagi belajar agamanya tanpa guru yang jelas, Atau melalui media sosial tanpa bimbingan.

Kehidupan beragama dan berbangsa yang diajarkan dan dicontohkan oleh Gus Dur Dan tokoh-tokoh agama di Indonesia harus menjadi pinjakan kita bersama,  karena hampir semua agama di Dunia ini yang menyuruh dan mengajarkan umatnya untuk berbuat baik, menghormati pada sesama dan hidup secara Damai, agar kita bisa aman dan nyaman dalam ibadah kepada Tuhan yang maha Esa.

ditulis oleh : Rodi Indra Saputra

Menyuarakan Agama Moderasi

Previous article

AGAMA LUKA

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

More in Opini