Edukasi

Komunitas dan Pembangunan Peradaban Minangkabau

0

Satu hal yang membedakan daerah berkembang atau maju dengan daerah yang stagnan atau malah tertinggal adalah kian bertambahnya kelompok-kelompok kecil masyarakat dengan visi dan misi kepedulian kepada masyarakat secara umum maupun pada negaranya. kehadiran kelompok kecil ini yang sering di sebut komunitas atau kelompok masyarakat jika dimaksimalkan oleh pemerintah atau lembaga yang peduli akan kemajuan masyarakat secara merata tentunya akan membawa dampak yang lebih baik dari sekedar kegiatan ceremonial yang selama ini yang sering dikerjakan oleh pemerintah pusat, daerah ataupun perusahaan dalam menyalurkan CSR nya.

Banyak hal yang dilakukan oleh pemerintah daerah yang sering tidak tepat sasaran biasanya karena kurangnya data atau kurangnya melibatkan kelompok kecil dalam masyarakat yang sering memegang kepercayaan yang lebih tinggi dari masyarakat. contoh yang paling mudah adalah munculnya gerakan “Sebungkus Nasi” dimana dampaknya jauh lebih besar dibandingkan zakat yang selama ini dikumpulkan oleh pemerintah daerah atau pusat. Munculnya gerakan “Indonesia Mengajar” memilik dampak yang jauh lebih besar dari program guru yang selama ini dikerjakan oleh kementeri pendidikan dan kebudayaan.

Hal ini tidak bisa pandang secara sebelah mata, seharusnya komunitas harus lebih diperhatikan lagi oleh pemerintah daerah atau CRS dari perusahaan di indonesia. kenapa program pemerintah daerah dan CSR perusahaan selama ini tidak berdampak positif? hal ini dipengaruhi oleh mereka melakukan kegiatan hanya sekali atau tanpa pendampingan yang jelas ditambah laporan yang tidak di publikasikan ke kalayak ramai sehingga program yang sebenarnya bagus menjadi sia-sia.

Di sumatera Barat munkin memiliki ribuan komunitas namun tidak ada satupun komunitas yang digandeng oleh pemda ataupun perusahaan dalam pengembangan program kemasyarakatan. Hal ini jelas memiliki dampak negatif pada komunitas dimana mereka terkesan hanya patungan untuk melakukan kegiatan kemasyarakat atau meminta bantuan dari masyarakat yang seharusnya memang dibantu oleh komunitas ini.

Pada akhirnya sumatera barat kian lama kian tertinggal ari daerah lain karena SDM yang tidak merata dan komunitas yang seharusnya bisa dijadikan sarana pembangunan SDM yang lebih merata tidak diperhatikan sama sekali. Berapa banyak komunitas seni di sumatera barat yang ternyata jauh lebih terkenal ketika mereka mentas di luar kota atau luar negeri dibandingkan di daerah mereka sendiri. Tentunya ini menjadi Pekerjaan Rumah tersendiri dari Pemda Sumbar, apa yang selama ini telah mereka lakukan terkait komunitas ini?

Tanda-tanda daerah yang maju adalah Isu keberagaman dan Isu Toleransi telah menjadi topik hangat yang selalu di perjuangkan. Di sumatera Barat yang bagi sebagian besar penduduknya masih sering di bangga-banggakannya budaya minangkabau yang kental namun jika melihat kenyataan dimana budaya sudah banyak hilang dari masyarakatnya maka mungkin tidak tepat lagi untuk membangga-banggakan budaya tersebut namun akan jauh lebih tepatnya bagaimana melestarikan budaya tersebut dengan mengaitkannya dengan toleransi berbudaya.

Toleransi berbudaya diartikan sebagai tidak terlalu membangga-banggakan budaya nenek moyang namun memperkaya budaya nenek moyang dengan budaya yang sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini sudah dilakukan oleh masyarakat minangkabau namun mereka tidak sadar sudah melakukan hal tersebut dan masih mengagap budaya yang mereka lakukan selama ini sama dengan budaya nenek moyang mereka. Dengan kondisi inilah komunitas seni sangat dibutuhkan oleh masyarakat sumatera barat.

Beberapa waktu yang lalu sumatera barat mendapat predikat sebagai daerah dengan tingkat toleransi yang rendah dari lembaga “Setara Institute” sayangnya hasil survey yang dilakukan oleh lembaga tersebut tidak melecut semangat pemerintah daerah sumbar untuk mengeluarkan program ke arah peningkatan toleransi di sumbar. Sepertinya Pemda sumbar memandang sebelah mata hal tersebut atau mungkin merasa tidak terlalu penting tingkat toleransi tersebut di tengah masyarakat. Pada akhirnya Sumbar tetap jadi wilayah yang teringgal di sumatera dimana hanya semen padang saja yang menjadi perusahaan besar di sumbar. Hal ini jelas karena perusahaan besar tidak tertarik dengan Sumbar karena SDM nya yang kurang mumpuni dan salah satu faktornya adalah tidak diperhatikannya komunitas kecil dimasyarakat.

Rayakan Idul Adha, Boy Rafli Amar Mencicipi Daging Kurban Dengan Mantan Teroris

Previous article

Webinar Duta Damai Sumbar Series kedua

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi