Edukasi

ISIS dan Paham Ideologi nya

0

ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) telah menjelma menjadi sebuah ancaman baru keamanan dunia global, kemunculannya merupakan bagian darin efek domino krisis politik di Timur Tengah atau dikenal dengan istilah Arab Spring. Kondisi sosial dan politik di Timur Tengah memberi kontribusi tidak langsung bagi muncul dan berkembangnya ISIS.

Semakin lemah atau bahkan hilangnya nilai berbangsa dan bernegara (nation-state) masyarakat di Timur Tengah menyebabkan beberapa negara di kawasan itu terperosok sebagai negara yang gagal (failed state). Pemerintah gagal memberikan layanan umum dasar pada warganya, khususnya keamanan dan kekuatan kedaulatan seluruh wilayah.

Secara organisasi, ISIS pertama kali didirikan oleh Abu Musab al-Zarqawi . Ia merupakan pemimpin kelompok militan Al Qaeda di Irak yang masuk daftar orang yang sangat dicari di Yordania dan Irak karena terlibat dalam serangkaian serangan, termasuk pembunuhan tentara dan polisi serta penduduk sipil.

Menurut pakar:

Sebagai prinsip penuntunnya, para pemimpin Negara Islam membuka dan memperjelas komitmennya terhadap aliran Wahhabi Islam Sunni. Kelompok ini menyebarkan gambar-gambar buku teks agama Wahhabi dari Arab Saudi di sekolah-sekolah yang dikendalikannya. Video dari wilayah NIIS menampilkan teks-teks Wahhabi yang ditemplekan di samping mobil dakwah resmi.— David D. Kirkpatrick, The New York Times

ISIS atau NIIs bertujuan mengembalikan masa-masa kejayaan awal Islam dan menolak segala bidah atau penyesuaian agama Islam yang dianggap menyesatkan tujuan aslinya. NIIS mengutuk rezim-rezim modern dan Kesultanan Utsmaniyah karena keluar dari Islam yang sejati. NIIS juga berusaha membangkitkan kembali proyek pendirian kekhalifahan Wahhabi yang diatur oleh doktrin Salafis yang ketat. Mengikuti tradisi Salafi-Wahhabi, NIIS mencap para pengikut hukum sekuler, termasuk pemerintah Arab Saudi, sebagai kaum murtad.

Kaum Salafi seperti NIIS percaya bahwa hanya kewenangan sahlah yang dapat memimpin jihad, dan prioritas utama di wilayah pertempuran seperti negara-negara non-Muslim adalah penyucian umat Islam. Contohnya, NIIS menganggap kelompok Sunni Palestina, Hamas, kafir yang tidak punya kewenangan sah untuk memimpin jihad. Mereka juga menganggap pertempuran melawan Hamas sebagai tahap pertama pertempuran melawan Israel oleh NIIS.

Hari Kiamat memenuhi propaganda Negara Islam. Hari Kiamat merupakan nilai jual utama untuk para pejuang asing yang ingin mendatangi tempat-tempat yang diramalkan menjadi ajang pertempuran terakhir [umat Islam]. Perang saudara yang berkobar di negara-negara tersebut [Irak dan Suriah] menguatkan ramalan ini. Negara Islam terus mengompori api-api kiamat. Bagi generasi Bin Laden, hari kiamat bukan alasan perekrutan yang efektif. Dua dasawarsa lalu, sejumlah negara di Timur Tengah jauh lebih stabil dan berhasil meredam sektarianisme. Saat itu lebih baik mengangkat isu pemberantasan korupsi dan tirani daripada perlawanan terhadap Antikristus [Dajjal]. Kini, hari kiamat menjadi alasan perekrutan yang dirasa lebih masuk akal.— William McCants, The ISIS Apocalypse: The History, Strategy, and Doomsday Vision of the Islamic State.

Terdapat empat pilar ideologis yang melandasi lahirnya organisasi ISIS, seperti: Filsafat, Tasawuf, Syiah, dan Nasrani. Keempat isu tersebut dijadikan sasaran dan aksi anarkis dalam membangkitkan semangat serta mewujudkan dan mendirikan khilafah oleh Abu Bakar Al-Bhagdadi. Ia merupakan pelanjut pimpinan yang sudah tewas sebelumnya ketika memaksakan keinginanya untuk mendirikan khilafah. Khilafah yang dicita-citakan oleh ISIS dapat diwujudkan dengan melenyapkan keempat pilar tersebut.

Negara yang mendukung atau menerima empat pilar yang akan di jadikan sasaran bagi ISIS tersebut akan di anggap sebagai ancaman dan otomatis akan menjadi musuh mereka. Indonesia yang sebagian besar beragama islam dan mempunyai dasar negara pancasila yang menghargai perbedaan tidak luput dari penyebaran ideologi ISIS tersebut.

ISIS memang sudah di klaim kalah oleh tentara suriah dan Amerika serikat namun ideologi dan pengaruhnya masih saja ada di tengah dunia tidak terkecuali di indonesia. Melihat penyerangan terhadap menko polhukam Wiranto baru-baru ini, menjadi sinyal untuk indonesia tetap harus waspada dan berusaha menekan pengaruh ideologi ISIS ini.

Resume Buku : Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita – Karya Buya Syafi’i Maarif

Previous article

Pelaku Penyerangan Wiranto Diduga Terpapar ISIS , Tindakan Terorisme Kah itu ?

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi