Oleh: Yui

Pada tanggal 25 Desember 2022, umat Kristen, baik Katolik dan Protestan, telah selesai melaksanakan hari Natal. Tentu hari Lebaran itu dilaksanakan penuh khidmat dan senang oleh umat Kristen. Bahkan, Pak Presiden Joko Widodo sempat bersilaturahmi, memantau jalannya perayaan Natal di salah satu gereja, termasuk putra sulung Pak Presiden, Gibran.

Walaupun begitu, ada juga sebagian orang atau sekelompok masyarakat yang kepanasan jenggot melihat orang-orang Kristen merayakan Natal. Mereka melarang umat Kristen untuk melaksanakan ibadah. Tidak tentu tujuan pasti dilarangnya. Akan tetapi, dapat digarisbawahi bahwa kemungkinan mereka takut imam dalam diri mereka goyah. Iya, hanya takut tidak mungkin juga karena iri, bukan?

Lantas, hal ini tidak terjadi sekali atau dua kali saja. Kita bisa melihat beberapa tahun ke belakang, pasti ada saja segolongan umat yang mempermasalahkan perayaan Natal yang hampir bersamaan dengan tahun baru. Bahkan, sesama mereka dilarang memberi selamat kepada umat Kristen. Jika tidak, orang yang memberi ucapan dianggap murtad karena mengakui Tuhan umatnya Kristen. Sungguh, begitulah nyatanya.

Sebut saja Riyanto, seorang anggota Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama yang gugur karena terkena ledakan bom saat menyelamatkan Gereja Eben Haezer di Mojokerto dari percobaan peledakan 24 Desember 2000. Tidak hanya di sana, bom pun meledak di beberapa titik pada saat itu. Mau menyalahkan siapa? Tentu tidak bisa karena tidak tahu siapa gerangan yang meletakkan bom tersebut karena Riyanto hanya diberi tahu ada yang meletakkan bom di depan gereja dari jemaat.

Melihat dari beberapa kasus yang hampir serupa setiap tahun, seperti bom yang diletakkan di tempat-tempat tertentu, dilarang mengucapkan selamat Natal, dan pelarangan beribadah, bahkan susahnya izin pembangunan ibadah, menjadikan Indonesia darutat toleransi. Padahal, bulir Pancasila sudah dijelaskan bahwa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Tentu tidak mungkin keadilan hanya berlaku bagi yang mayoritas saja, semua harus sama rata.

Mereka yang memiliki kepercayaan lain sebenarnya tidak diminta untuk diucapkan selamat hari Raya kebesaran mereka. Cukup kita memberi mereka ruang untuk melakukan apa pun yang bersikap ibadah, tentu menjadi topik kesenangan untuk mereka.

Menyangkut masalah keimanan dalam hati, sepatutnya kita saling menghargai antar sesama. Orang-orang di luar Islam mendengar azan lima kali sehari, iman mereka tidak goyah dan tetap berada di agama mereka sendiri. Lantas, kenapa kita yang baru sama mendengar mereka melakukan ibadah, sudah panas. Siapa yang setan di sana? Tidak masalah bukan timbul pertanyaan, iman yang lemah karena takut melihat orang lain beribadah, atau hati yang telah mati karena keegoisan yang dipupuk dalam diri sendiri.

Nah, tentu saling menghargai kunci utama dalam keharmonisan beragama agar tercipta Indonesia yang damai dan sejahterah.

28 Desember 2022

Yui
Penulis dan Pengarang

    Strawberry Generation

    Previous article

    Berdamai dengan Takdir

    Next article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in Berita