Garam sudah menjadi salah satu bahan makanan yang memiliki peran sangat penting khususnya dibidang makanan. Garam menjadi bahan pengawet alami dan juga menjadi salah satu bahan makanan yang memberi rasa asin dan gurih dalam makanan agar tidak hambar.

Tentu kita tahu bahwa garam pada awalnya tercipta dari air laut yang memiliki kadar garam yang tinggi lalu kumpulkan di suatu tempat lalu dibiarkan menguap. Hasil uap dari air laut tadi akan meninggalkan butiran-butiran yang kita sebut garam. Kebanyakan garam yang kita konsumsi sehari-hari itu di produksi dari pabrik garam. Namun, ada satu hal unik yang tidak diketahui banyak orang, yaitu bagaimana garam ini diproduksi.

Garam Kusamba, garam khas Indonesia yang tepatnya diproduksi di Bali. Garam ini menggunakan pasir vulkanik dari gunung. Ya, pasir vulkanik gurung berapi. Lalu bagaimana pasir vulkanik tersebut dapat diubah menjadi garam?

Salah satu petani garam yang masih memproduksi garam yang langka ini adalah keluarga Ibu Nengah Pura. Beliau adalah salah satu petani-petani garam Kusamba terakhir yang melakukan pekerjaan ini. Setiap hari beliau dan keluarganya mengangkut air laut di bahunya dengan keranjang berat dan menyiramkannya di atas pasir laut. Setelah airnya menguap akan terlihat bentuk garam yang cukup halus. Rasa dari garam ini tidak asin seperti garam umumnya yang diproduksi oleh pabrik memiliki sedikit rasa tanah, ya tentu saja karena berasal dari pasir vulkanik.

Namun, garam ini akan segera punah karena banyak petani garam Kusamba yang meninggalkan pekerjaan ini karena pekerjaan ini terlalu berat. Cara ini terlalu sulit dan banyak perusahaan besar yang mengambil alih dan membuat garam yang lebih murah.

Bu Nengah Pura tidak hidup selamanya dan kita akan kehilangan kesempatan untuk mencicipi garam unik yang langka ini. Oleh karena itu kita harus mendukung petani organik ini dalam melakukan pekerjaan yang mereka cintai ini.

Sumber: instagram @nasdailyindonesiaofficial

DESA TERUNIK DI INDONESIA

Previous article

Hukum Karma itu Omong Kosong Belaka

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi