EdukasiOpini

Firthous Naleemi berbicara Islam di Srilangka dan Indonesia

0

Firthous Naleemi adalah seorang ulama di srilangka yang namanya sudah terkenal di Srilangka. Ulama yang tinggal di Kotakundi beberapa waktu yang lalu berkunjung ke indonesia. Beliau sempat di wawancarai oleh tim channel youtube “agama akal” di kota jakarta.

Firthous memandang bahwa di indonesia umat Islam sangat menjunjung tinggi budaya dan sangat berkontribusi besar pada dunia yang menunjukkan bahwa islam di indonesia masih sangat baik dan menjadi sebuah kebanggaan bagi umat islam di dunia. Islam di indonesia masih sangat toleransi pada agama lain dan menjadi contoh yang sangat baik bagi dunia.

Hal ini berbeda jauh dengan islam di Srilangka pada saat ini. Islam di Srilangka menurut Firthous, 10 tahun yang lalu masih memegang tradisi keagamaan sehingga membawa pengaruh yang baik bagi budaya dan agama islam itu sendiri bagi negara Srilangka. Hal yang berbeda terjadi di Srilangka saat ini dimana setelah masuk ajaran Islam yang Radikalis justru membuat tradisi islam yang bersifat keagamaan menjadi hilang di Srilangka. Hal ini sangat di sayangkan islam di Srilangka menjadi agama yang keras dan terkesan tidak toleransi lagi pada kebudayaan lokal di Srilangka.

Dari percakapan Firthous Naleemi dengan Tim youtube channel “Agama Akal” tadi kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kebudayaan asli suatu daerah/negara akan menjadi hilang dan hanya akan menjadi kenangan bagi generasi penerus jika ajaran islam tidak bisa menyesuaikan dengan kebudayaan yang ada di suatu daerah/negara. Ini bukan branding yang baik bagi agama islam karena Islam menjadi agama penjajah bagi kebudayaan di suatu daerah negara. Seharusnya brand dari islam itu adalah Rahmat bagi seluruh alam bukan sebagai Rahmat bagi islam saja.

Hal ini sangat di sayangkan, karena Islam garis keras uang mulai masuk di Srilangka kira-kira 10 tahun yang lalu telah menghilangkan budaya keagamaan islam di negara tersebut. Hal ini lambat laun akan berakibat pada susahnya Srilangka memajukan negara karena kebudayaan agama islam yang bisa dijadikan sebagai modal dalam menarik wisatawan ke negara tersebut menjadi hilang. Hal ini akan berimbas kepada pemasukan negara dari wisatawan yang menyukai wisata budaya. Wisata budaya 10 tahun terakhir menjadi salah satu wisata yang sangat menjanjikan bagi negara yang memiliki kebudayaan yang tinggi kita ambil contoh saja Bali. Bagaimana wisata budaya nya menjadi aset terbesar bagi indonesia untuk menarik wisatawan asing.

Munculnya islam garis keras di beberapa negara islam yang mengusung ajaran radikal atau khilafah juga menjadi persoalan yang sangat menyita perhatian bagi dunia. Islam garis keras di kenal sebagai kelompok dalam agama islam yang menolak adanya perbauran budaya asli daerah dan ajaran islam sehingga muncul kelompok yang suka menghakimi kebudayaan suatu daerah, yang suka men bid’ah suatu kebudayaan dengan framing di dalam islam tidak ada hal tersebut.

Jika umat islam yang tidak dapat memadukan antara akal, ilmu dan ajaran agama islam provokasi dari kelompok ini akan sangat mudah menginfeksi mereka . Sayangnya di negara berkembang masih banyak umat islam yang tidak bisa memadukan ajaran agama islam dengan ilmu pengetahuan tidak terkecuali di indonesia. Makanya ujaran kebencian lewat media ceramah agama masih banyak di indonesia dan sayangnya di terima oleh sebagian pendengar ceramah agama tersebut. Sehingga para kelompok islam radikal di indonesia masih sangat leluasa bergerak di indonesia sambil menyebar provokasi menjatuhkan pemimpin di indonesia.

Hal ini menjadi persoalan kita semua umat islam di indonesia, mari kita padukan ajaran islam, ilmu dan akal kita demi terwujudnya islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta.

Nasrul Abit : Konflik Di Wamena Bukan Konflik Etnis

Previous article

Buzzer di Media Sosial Indonesia

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi