Baru-baru ini beredar kembali video yang memperlihatkan seseorang mengenakan baju putih dan topi putih yang tampaknya sedang memberikan pemahaman ataupun wejangan terhadap sekelompok orang. Sebenarnya video tersebut sudah cukup lama beredar, hanya saja baru-baru ini kembali ramai di komentari oleh masyarakat.

“Ada orang yang menyembah kepalanya monyet, tubuhnya manusia, punya ekor ‘SUN GO KONG’, ketemu di mana makhluk begitu?, Ada yang menyembah kepalanya gajah, tubuhnya manusia, duduk bersila, pegang lentera, pegang trisula ‘GANESHA’, ketemu di mana makhluk begitu?, Ada yang menyembah orangnya ganteng, digambarkan tangannya sepuluh, ketemu di mana makhluk begitu?, Ada juga sapi, ada?, Pohon, sarungnya lagi, pohonnya sarungan, sarungnya putih kalau tidak kotak-kotak, ada?,” Demikian ungkap orang tersebut.

Video tersebut sudah berseliweran di platform YouTube dan di sebarkan ke Facebook, beragam pendapat dan komentar pembacanya terus bermunculan, ada yang memaklumi atas ketidak tahuan akan apa yang di bahas, ada yang menyayangkan bukannya mengajarkan hal yang bermanfaat bagi orang lain tapi malah menghina agama lain, ada juga yang kemudian bertekad untuk melaporkan oknum tersebut pada pihak berwajib.

Dari banyak tanggapan maupun komentar, teman-teman yang beragama Hindu sepertinya paling ramai, mengingat banyak simbol keagamaannya yang di usik bahkan jelas di katakan “GANESHA” serta orang ganteng dengan sepuluh tangan yang mengarah pada “WISNU” Meskipun dalam agama Hindu sendiri mengenal sosok makhluk dengan kepalanya monyet, tubuhnya manusia yang di sebut ‘HANUMAN’. tetapi dalam video tersebut jelas di katakan sebagai ‘SUN GO KONG’.

Pada kesempatan kali ini, penulis hanya ingin mengupas yang berkaitan dengan ‘SUN GO KONG’, yang merupakan nama dari seekor kera dari Film yang berjudul “KERA SAKTI” film ini sempat booming di Indonesia pada tahun 90 an. Film ini mengisahkan Perjalanan seorang Bhiksu dari Negara China yang bernama ‘TONG SAM CHONG’ untuk belajar dan membawa kitab suci yang ada di Barat (Negara India).

Perjalan yang di lakukan oleh Bhiksu Tong tentunya tidak mudah, mengingat pada masa itu belum ada kendaraan seperti motor, mobil, kereta api, bahkan pesawat, dengan demikian Bhiksu Tong harus berjalan kaki untuk mencapai tempat tujuannya.

Ditengah perjalanan Bhiksu Tong bertemu dengan seekor kera yang memiliki kesaktian, dialah Sun Go Kong, yang kemudian sebagai ungkapan rasa terimakasih pada Bhiksu Tong yang telah membebaskan dirinya dari hukuman, Sun Go Kong menjadi muridnya dan membantu gurunya untuk mencapai tujuannya.

Dengan kesaktiannya, Sun Go Kong bisa membawa terbang gurunya untuk segera sampai tempat tujuan, tetapi Bhiksu Tong menolak hal tersebut karena menurutnya sesuatu yang baik tentu membutuhkan proses yang panjang, hal terus bisa diumpamakan seperti makanan yang sehat pasti prosesnya lama, beda dengan mie instan, cepat tersedia tetapi jika di konsumsi secara berlebihan akan menyebabkan penyakit.

Dalam perjalanannya ternyata, banyak siluman yang ingin memakan daging Bhiksu Tong yang konon jika ada siluman yang berhasil memakan daging Bhiksu Tong akan dapat hidup abadi. Sebagai seorang murid, Sun Go Kong, tentu bertugas menjaga dan melindungi agar gurunya bisa aman, dan nyaman untuk sampai tujuan dan kembali ke Negara China dengan selamat.

Mengetahui banyak siluman yang ingin membunuh gurunya, tidak jarang si Kera Sakti harus melumpuhkan bahkan membunuh siluman yang ingin mencelakai gurunya. Sebagai seorang Bhiksu yang memiliki perasaan cinta kasih terhadap semua makhluk, Bhiksu Tong tidak ingin pembunuhan terjadi dan meminta kepada Sun Go Kong untuk mengampuni perbuatan para siluman, akan tetapi karena sering kali Sun Go Kong tidak patuh pada aturan yang di berikan oleh gurunya, maka Bhiksu Tong memberi ikat kepala yang terbuat dari bahan emas murni pada muridnya tersebut, dan ternyata ikat kepala tersebut akan mengikat dengan erat dan tidak pernah bisa di lepas oleh Sun Go Kong, terlebih lagi ketika Kera Sakti tidak menuruti anjuran dari gurunya dan gurunya membacakan Mantra Suci, maka rasa sakit yang amat sangat akan dirasakan oleh kera tersebut.

Benarkah Kera Sakti ‘Sun Go Kong’ ada di dunia ini? Jelas Film tersebut hanya digunakan untuk memudahkan kita untuk memahami sesuatu dengan cara yang menarik.

‘KERA SAKTI’ adalah simbol dari pikiran manusia yang begitu liar dalam waktu yang sangat singkat dapat pergi ke kota bahkan ke negara lain yang kita inginkan. Tubuh kita saat ini ada di sini, tetapi pikiran kita mengembara bebas di tempat yang lain. Pikiran kita yang liar, jika tidak kita jinakkan dapat membawa kita pada penderitaan diri sendiri maupun orang lain. Ketika dalam diri kita timbul pikiran untuk melukai dan menyakiti orang lain, maka ucapan dan atau perbuatan kita akan berusaha untuk melakukan kejahatan tersebut.

Sebagai contoh, seorang pejabat yang berfikir untuk menggelapkan uang rakyat, tentu akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari cara agar korupsi yang di lakukan tidak mudah di ketahui. Seseorang yang dalam pikirannya ingin melakukan zinah, meskipun siwanita telah menutup tubuhnya dengan baik, pasti akan berusaha dengan berbagai cara agar dapat menikmati tubuh wanita yang di inginkan.

Ikat kepala yang terbuat dari emas murni, sebagai simbol kemuliaan atau kebenaran. Seseorang yang dalam pikirannya timbul pikiran jahat dan kemudian mendengar atau ingat bahwa pikiran jahat akan membawanya pada penderitaan maka dalam dirinya akan timbul pergolakan batin untuk melakukan tindak kejahatan atau menghentikan pikiran jahatnya.

Pikiran jahat tadi adalah siluman yang bersemayam dalam diri kita yang harus kita musnahkan. Lantas bagaimana dengan siluman, atau jin, ibis yang benar-benar ada di dunia ini?
Itulah yang di sarankan oleh Bhiksu Tong, untuk di ampuni. Ingat, Siluman, Jin, atau Iblis juga merupakan makhluk ciptaan Tuhan, maka sebaiknya manusia hidup berdampingan dengan semua makhluk ciptaan Tuhan dan bersama untuk Menyembah dan Bersujud kepada Tuhan Yang Maha Pengasih agar mendapatkan Pengampunan-Nya dan kelak di terima kembali di sisihnya.

Tuhan pasti akan menerima mereka yang memiliki amal ibadah yang baik, dan orang baik tentu tidak akan mengusik kepercayaan, keyakinan, atau agama orang lain. Akhir kata banyak jalan menuju Roma, banyak cara beribadah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Suyadi

Spirit Kebangkitan Nasional untuk Melenyapkan Ideologi Transnasional

Previous article

Waisak itu apa sihh?

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

More in Opini