Oleh: Yui

Nusa dan Tara sangat senang merayakan Hari Iduladha. Mereka pergi ke masjid yang berada tidak jauh dari rumah bersama sang papa. Nusa berlari kecil, sedangkan Tara digandeng oleh Budi, ayah kedua anak kecil itu. Sepanjang perjalanan, Budi melantunkan gema takbir yang diikuti oleh Tara walaupun terbata-bata.

Sesampainya di masjid, terlihat kerumunan. Ada anak-anak yang bermain lari-larian, ada ibu-ibu yang duduk di rumah marbut tengah menyiapkan alat-alat masak, ada bapak-bapak dan anak muda yang berdiri di teras masjid dengan pisau di tangan.

Budi yang tidak ikut proses kurban, memilih duduk tidak jauh dari masjid, bangku panjang yang digunakan pengunjung untuk beristirahat. Ia mendudukkan Tara di sampingnya, lalu meminta Nusa agar main tidak jauh dari tempatnya duduk. Ia pun melihat ke arah sapi-sapi dan kambing-kambing yang akan dikurbankan.

 “Papa, kata Ibu Guru Naya, Iduladha merupakan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Apakah benar, Papa?” tanya Tara sambil memainkan ujung rok.

Budi yang mendengar pertanyaan polos dari anaknya, tersenyum kecil dan mengangguk pelan. Dengan bahasa sederhana, ia menjelaskan peristiwa kurban itu, membuat Tara mengangguk-angguk, tanda paham. Lalu, Budi memberi tahu Tara bahwa hari raya Iduladha merupakan hari raya paling besar, membuat sang anak bingung.

“Jadi, begini, sayang. Pada hari Raya Iduladha ini, semua golongan merasakan nikmatinya makan daging kurban tanpa membeda-bedakan status mereka. Apakah mereka orang kaya atau orang miskin, yatim-piatu atau memiliki orang tua lengkap, semua orang bisa menikmati hal tersebut.”

“Ah, seperti itu. Akan tetapi, tidak ada yang memberi uang lebaran, Papa.”

Budi tertawa mendengar jawaban polos sang anak. Bagaimana pun, dua Lebaran yang dilakukan oleh umat Islam, merupakan Lebaran yang sangat besar dan meriah. Masing-masing momen memiliki makna tersendiri. Lebaran Iduladha dianggap paling besar karena setiap orang bisa merasakan momen menikmati daging. Sementara itu, Idulfitri merupakan hari lebaran untuk ajang silaturahmi dan hari untuk membersihkan diri dan harta alias momen umat Islam kembali dalam keadaan fitrah.

Indonesia 17 Juni 2024

Yui
Penulis dan Pengarang

    Idul Adha Momentum Menghapus Egosentrisme Beragama

    Previous article

    Mengorbankan Ego pada Iduladha

    Next article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in Cerpen