EdukasiOpini

Belajar dari Negara Tetangga

0

Hari ini hari yang luar biasa bagi penulis, penulis mendapat informasi tema yang diangkat kali ini adalah “Pendidikan Agama sebagai Penumbuhan Akhlak Mulia dan Penguatan Karakter Bangsa” hal tersebut tentunya menjadi dilema tersendiri bagi penulis, di satu sisi saatnya melihat dengan jelas bahwa agama adalah jalan kebahagiaan sejati menuju Surga yang tentunya menciptakan manusia yang berakhlak mulia, di sisi lain penulis tidak memahami dengan baik ajaran agama-agam yang ada di Indonesia, untuk itu izinkan panulis membahas dari sudut pandang agama yang penulis ketahui.

Kata Akhlak berasal dari kata khuluqun yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, sementara beberapa ahli mengartikat akhlak sebagi berikut; Ibnu Maskawaih, mengatakan bahwa akhlak adalah suatu keadaan bagi jiwa yang mendorong untuk melakukan tindakan-tindakan dari keadan itutanpa melalui pikiran dan pertimbangan, keadaan ini terbagi menjadi dua yaitu berasal dari tabiat aslinya,dan kebiasaan yang dilakukan secra berulang-ulang. Selanjutnya Ibrahim Anis, mengungkapkan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwayang dengannya lahir bermacam-macam perbuatan yang baik maupun yang buruk tanpa membutuhkan pemikiran maupun pertimbangan.

Berdasarkan ungkapan para ahli, dapat disimpulkan bahwa Akhlak adalah segala perbutan yang dilakukan oleh setiap manusia, yang mengarah pada perilaku seperti halnya yang tertulis pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Perilaku atau perbuatan manusia sering disebut sebagai moral. Manusia yang memiliki prilaku yang terpuji disebut sebagai manusia bermoral mulia, sedangkan manusia yang berperilaku sembrono/tidak pantas disebut sebagai manusia tidak bermoral.

Negara India dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi etika, dimana seorang anak akan menyentuh kaki orang tuanya untuk meminta doa ataupun restu. Etika seperti itu merupakan bagianterkecil dari moralitas. Masyarakat di India melatih moralitas dengan cara yang sangat berbeda, masyarakat yang ingin berlatih lebih dalam tentang moralitas akan memilih menjadi pertapa. Gotama adalah salah satu pertapa terkenal di Negara India, ajaran tentang moral yang paling dikenal adalah lima moral dasar umat manusia, kelima moral dasar tersebut adalah; 1) bertekat untuk tidak melakukan pembunuhan, 2) bertekat untuk tidak melakukan pencurian, 3) bertekat untuk tidak melakukan perbuatan asusila (zina), 4) bertekat untuk tidak melakukan perkataan yang tidak benar (bohong, fitnah, kata kotor, kata kasar, caci maki, dan omong kosong), dan yang ke 5) bertekat untuk tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang menyebabkan lemahnya kewaspadaan (mabuk-mabukan).

Manusia yang memiliki tekat untuk tidak melakukan pembunuhan adalah manusia yang mulia, mereka telah meninggalkan kebencian dan dendam, ketika setiap manusia bertekat untuk tidak membunuh manusia lainnya atau bahkan makhluk hidup maka kedamaian dapat mungkin terwujudkan darena setiap manusia akan menyadari bahwasannya kehidupan begitu berharga sehingga peperangan atas nama negara, suku, budaya, bahkan agama tidak akan terjadi. Seorang musisi yang bernama Iwan Fals menuliskan lirik lagu Puing II sebagi berikut;

Dengan nafsu yang makin menggila
Nuklir pun tercipta
(nuklir bagai dewa)
tampaknya sang jendral bangga
dimimbar di berkata

Untuk perdamaian (bohong)
Demi perdamaian (bohong)
Guna perdamaian (bohong)
Dalih perdamaian (bohong)   

Dari syair tersebut jelas dikatakan bahwa kedamian tidak akan tercipta jika manusia saling membunuh. Pertapa Gautama juga menyatakan “kebencian tidak akan berakhir bila dibalas dengan kebencian, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih, kasih sayang, dan saling memaafkan”. Dengan tidak membunuh berarti manusia telah memelihara kehidupan dan menciptakan kedamaian.

Manusia yang memiliki tekat untuk tidak mencuri adalah manusia yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, sepahit dan sesulit apapun kehidupan ekonomi maupun keuangan keluarga, mereka tidak akan melakukan pencurian atau bahkan korupsi, dengan demikian setiap manusia akan bebas dari rasa khawatir karena barang-barang yang dimiliki akan aman dri pencurian.

Manusia yang memiliki tekat untuk tidak berbuat asusila adalah manusia yang memiliki mental taat pada hukum serta manusia yang setia terhadap pasangan, merasa puas dengan suami/istri yang dimiliki dengan kata lain menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan hidupnya. Bagi para siswa sekolah dasar (SD) tidak berbuat asusila dapat di jelaskan dengan hal-hal yang sederhana seperti masuk toilet di tempatnya sesuai jenis kelamin (laki-laki atau perempuan).

Manusia yang memiliki tekat tidak berkata yang tidak benar (bohong, fitnah, kata kotor, kata kasar, caci maki, dan omong kosong) adalah manusia yang jujur dan bertutur kata yang sopan. Ucapannya akan di dengar dan di percaya oleh orang lain, ucapannya tidak akan menyinggung, mencela ataupun mempergunjingkan orang lain. Manusia jenis ini tidak akan menyebarkan berita bohong (Hoax) yang dapat menyebabkan permusuhan antar kelompok, bahkan bangsa aau negara.

Manusia yang memiliki tekat tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang menyebabkan lemahnya kewaspadaan (mabuk-mabukan) adalah manusia yang sehat dan cerdas, kita sering mendengar dari pendapat dokter dan para ahli yang menyatakan bahwa Alkohol dan Narkotika serta Zat Adiktif lainnya dapat merusak kesehatan dan juga merusak urat syaraf manusia, sehingga manusia akan mudah sakit dan menjadi bodoh.

Kita sebagai generasi penerus bangsa Indonesia sudah tentu memegang tongkat estafet kemajuan dan kejayaan Indonesia, maka tugas kita sebagai pendidik, orang yang berpendidikan, maupun yang tengah menempuh pendidikan hendaknya menjadi generasi yang melaksanakan moralitas yang baik agar Bangsa Indonesia menjadi mercusuar Dunia.

Akhir kata, Pendiri Bangsa Indonesia Bapak Ir. Soekarno pernah berkata “Berikan padaku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan padaku 10 pemuda, niscaya akan ku guncang dunia”. Mari rapatkan barisan dan bersama kita guncang dunia.

Suyadi

Trubus Rahadiansyah Dan Momen Hidup Dalam Keberagaman

Previous article

Mendorong “Pluralisme” Pendidikan Agama Di Sekolah Swasta

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi