Aku ditugaskan menjadi relawan guru muda di dusun Jeblugan, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Ini adalah puasa pertamaku yang bertolak belakang dengan puasa-puasa yang aku jalani di tahun sebelumnya. Baik di kota Padang dan Pariaman, Ramadan bagiku adalah momen berkumpul beramai-ramai, meriah, dan kerlap-kerlip. Sesuatu yang jauh dari apa yang berlangsung di penempatanku.

            Aku lahir dan tumbuh di daerah perkotaan. Jadi benar saja ini agak sulit bagiku di awal-awal. Di dusunku, suasana Ramadan tidak terlalu banyak berubah dari hari-hari biasa. Namun masjid dan musala lebih terdengar ramai dari biasanya. Namun, selain itu tidak banyak yang berbeda. Mungkin kalau ingin merasakan “vibes”nya Ramadan versi keramaian, harus sering main-main ke pasar. Pasar satu-satunya tempat yang semua sisinya bercahaya dan terang benderang, ditambah lagi orang yang berlalu lalang sehabis salat tarawih. Pun, demikian, bisa saja suasana tenang dan sunyi adalah hal yang dibutuhkan masyarakat di dusunku agar lebih nyaman dan khusyuk dalam beribadah.

            Ramadan di daerah pengabdian ini, tetap adalah hal yang ku syukuri. Aku belajar dan merasakan berbagai macam pengalamn baru. Sebuah warna yang sangat indah yang bisa ku jadikan cerita menarik di masa depan nantinya. Ada dua kegiatan disini yang mencuri perhatianku selama menjalani puasa ramadan disini.

            Yang pertama adalah, kajian kitab. Setelah melaksanakan salat tarawih berjamaah 20 rakaat, anak-anak dan pemuda akan mengikuti kajian kitab. Anak-anak akan mulai dulu kelasnya, biasanya hingga pukul 08.45 malam, lalu setelah itu dilanjutkan dengan kelas pemuda. Biasanya untuk pemuda selesainya tidak menentu, tapi rata-rata di pukul 23.00. Kajian kitab ini sangat menarik karena mengkaji secara khusus praktek-praktek keagamaan, maupun pengetahuan keagamaan. Kitab yang semuanya menggunakan bahasa Arab, nanti akan diterjemahkan oleh ustadnya, dan ditafsirkan maksud dari tulisan tersebut. Tidak hanya itu, peserta kajian ini juga akan menuliskan maksud dari tulisan-tulisan kitab tersebut menggunakan tulisan arab jawa. Sungguh hal yang sangat menakjubkan sekali.

            Terakhir, kegiatan seluruh warga Indonesia ketika sahur. Apalagi kalau bukan membangunkan masyarakat untuk sahur. Disini warganya totalitas, selain pakai kentungan atau menyorakkannya melalui toa masjid, kerap kali pemuda disini juga melakukan pawai sahur menggunakan speaker besar yang bisa didorong. Langsung auto bangun kalau mendengar mereka lewat!

            Demikian pengalaman saya selama berpuasa disni. Walaupun berbeda dari kebiasaan saya di Padang, Ramadan kali ini kualitas dan kuantitas ibadah saya meningkat, karena minimnya distraksi yang saya dapatkan. Well, everything happens for a reason.

Kegiatan Harian di Bulan Ramadan

Previous article

Seminggu di Markas Komando Marinir Cilandak

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *