1. Kenali terlebih dahulu mengenai jenis tulisan yang ingin kamu tulis.
  2. Di sini, kamu harus menentukan jenis apa yang ingin kamu tulis, seperti cerpen, cermin, cerbung, novela, novelet, dan novel (bagian dari prosa). Atau kamu ingin menulis sajak, puisi, pantun, dan lainnya.
  3. Setelah menentukan jenis prosa, tentukan tema apa yang ingin kamu angkatan beserta genre-nya.

Nah, ini adalah langkah awal untuk memulai tulisan. Tentukan dulu tema yang ingin kamu ambil. Contoh, kamu ingin menulis seorang detektif. Nah, kamu sesuaikan dengan tema yang ada.

Genre yang bisa atau sejalan dengan tema detektif ini banyak, ya. Akan tetapi, tentu yang cocok dengan tema tersebut genre aksi dan thriller.

Tidak masalah jika kamu ingin mencampurkan beberapa genre di dalam naskah, asalkan naskah tersebut ada genre utama yang menguasai.

  1. Setelah tema dan genre. Tentukan pesan moral yang ingin kamu sampaikan. Pesan moral di sini bukan setiap kata harus ada pesannya, ya. Akan tetapi pesan tersirat dari naskah tersebut.

Contoh di atas, saya mengambil tema detektif genre action. Nah, amanat yang ingin saya sampai di naskah adalah, tidak semua polisi itu patuh pada atasan, ada juga yang berani melawan untuk menegakkan keadilan walaupun jabatan menjadi ancaman untuk dicopot.

  1. Tema, genre, dan amanat sudah. Selanjutnya tentu outline atau kerangka cerita.

Nah, ide itu gila! Kita pasti banyak ide di otak, tetapi nggak bisa menjabarkan ke bentuk tulisan secara gamblang. Adapun bisa, akan lari dari rencana awal.

Fungsi kerangka awal ini adalah sebagai acuan kita dalam menulis, ya. Kita harus menentukan berapa tokoh yang ada dalam naskah (baik itu tokoh utama, pembantu, dan lainnya). Kita harus menentukan setting atau latar dari tulisan kita. Kemudian, kita harus menentukan awal, konflik, penyelesaian, dan ending dari naskah tersebut.

Catat semua ide tersebut, lalu susun perlahan. Jika ingin keluar dari ide awal, tidak apa. Akan tetapi, sesuaikan dengan ide selanjutnya sehingga dalam menulis naskah tidak jauh dari perkiraan.

  1. Riset.
    Ini adalah hal utama dalam naskah fiksi.

Kemarin, saya pribadi pernah membaca tulisan seseorang mengenai riset ini. Nah, seseorang ini berkata bahwa untuk menulis naskah fiksi tidak perlu menggunakan riset karena naskah fiksi itu hanyalah hasil imajinasi dari seseorang atau khayalan dari seseorang penulis untuk menghibur pembacanya karena mengandung nilai estetika atau keindahan.

Ini adalah pernyataan yang sangat salah. Walaupun naskah kita fiksi, kita harus melakukan riset agar naskah kita benar adanya.

Contoh: jika saya tidak riset, lalu menulis naskah mengenai detektif. Tentu akan menjadi cacat logika dalam naskah.

Semisal seperti ini. Seorang polisi atau detektif tidak boleh mengacak TKP. Tetapi di naskah saya buat polisi mengajak hingga menghancurkan TKP. Tentu hal tersebut bertentangan dengan aslinya.

Contoh sederhana. Saya ingin memasak nasi goreng, tetapi bahan yang saya gunakan untung memasak nasi bakar. Apakah nyambung? Itulah gunanya riset agar penulis bisa belajar dari tulisan kita.

  1. Membuat opening dan pembukaan yang bisa menarik pembaca.

Di sini, alih-alih memperkenalkan tokoh, nama tokoh, kegiatan tokoh, deskripsi tokoh, lebih baik kita buat pembaca merasa bingung dengan opening kita.

Bingung di sini bukan kalimat acak-acakan, ya.

Kita buat adegan aksi, seolah-olah, opening tersebut sudah mengandung konflik.

Contoh.

Dor!
Bunyi tembakan itu begitu nyaring memekakkan telinga. Suara riuh dari beberapa orang yang mendengar, memenuhi area sempit itu. Sebagian dari mereka ada yang memilih mundur, sebagian ada yang berdiri pada posisi karena penasaran.

Tiga orang polisi berseragam lengkap tengah menodongkan pistol. Di saku celana, menggantung borgol besi, sedangkan di bagian lain terlihat alat kejut.

Nah, opening seperti itu mengundang tanya, siapa yang dikejar oleh polisi itu? Kenapa polisi itu berani menembakkan pistol, padahal di tempat umum?

  1. Setelah opening, mari tentukan judul.

Ada orang yang nulis dulu, baru kasih judul. Ada orang yang kasih judul dulu, baru nulis. Bagi saya pribadi, saya beri judul dulu baru menulis karena jika saya menulis tidak menggunakan konsep, otak saya ngeblang. Tidak tahu akan menulis apa.

Bagian ini, tidak perlu dipikirkan karena judul bisa berubah kapan saja.

  1. Tulis saja! Jangan biasakan ingin tulisan perfect.

Banyak teman-teman yang saya ajar kendala di sini. Mereka menginginkan naskah Sempurna sehingga dua atau tiga paragraf tidak bagus, langsung dihapus.

Sebenarnya itu tidak dibolehkan. Karena apa? Prinsip dasar dalam menulis itu ya tulis. Bukan memikirkan layak atau tidaknya dibaca orang.

Setelah tulisan kita selesai, barulah kita melakukan self editing. Nah, di sini kita akan melihat keseluruhan naskah kita. Apakah sudah bagus atau tidak (lupakan KBBI dulu).

Yui
Penulis dan Pengarang

    Bali dan Sudut Kenangan

    Previous article

    Cara Membangun Organisasi Dari Generasi ke Generasi

    Next article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    More in Edukasi